luhanay blog Follow Dash Owner

Tuesday, 15 December 2015

[FF] Chu!






Author      : cifcif Rakayzi
Tittle         : Chu!
Rate         : PG-15
Genre       : ?
Length      : Drabble
Main cast : Lee Hyein // Koo Junhoe



Hah! Pagi ini tidak seperti kemarin, cuaca semakin dingin seiring semakin dekatnya winter. Dan aku, hari ini akan terjebak disebuah gedung dengan banyak ruangan yang dipenuhi anak-anak dan buku. Sekolah.
Menjadi kelas tiga ternyata tidak se-menyenangkan yang aku bayangkan. Banyak tugas berhamburan dan waktu yang selalu habis untuk belajar. Bukan aku tidak suka atau tidak mau, aku hanya ingin sesekali mengeluh dengan suasana ini. Rasanya aku ingin memutar waktu lebih cepat dan menempatkan posisiku di masa depan, saat aku sudah menjadi dokter dan menikah dengan dia. Namja berpipi bulat yang sekarang sedang berjalan menghampiriku.
"Selamat pagi..."
Ucap namja itu dengan penuh usaha agar membuat suaranya terdengar sangat halus dan manis, walaupun dia sendiri juga tahu kalau sampai kapanpun suara besar gangster-nya tidak akan bisa berubah.
"Eoh? Tidak biasanya kau datang sepagi ini" aku tidak memperdulikan senyumannya dan tetap berjalan menuju pintu kelasku didepan sana.
"Iya, aku sengaja datang pagi hanya untukmu"
Apa? Apa yang dikatakan namja ber-alis tebal itu hah? Bukankah dia selalu tidak bisa bangun pagi dan tidak suka jika paginya harus persiapan untuk ke sekolah, tapi kenapa sekarang dia menjadi gila seperti ini.
Dan aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali memfokuskan pandanganku pada jalan di depan. Tidak memperdulikannya lagi.
"Ya! Ada apa denganmu?" namja itu berhenti melangkahkan kakinya.
Bukan aku tidak peduli, hanya saja hari ini entah kenapa semangatku menghilang dan tubuhku serasa tidak bisa aku atur sendiri. Aku sangat tidak bersemangat.
"Lee Hyein!" suara gangster namja itu terdengar memanggilku, dan aku masih terus berjalan.
Karena aku seperti ini, mungkin dia bisa marah dan mengamuk padaku nanti, tapi sungguh sekarang aku tidak punya kekuatan untuk mengikuti permainannya dan hanya ingin diam.
"Hey Koo Hyein!"
Dan aku tersentak saat dia tiba-tiba menarik tanganku dan menusukku dengan tatapan mata elangnya. Seperti dugaanku, dia marah. Namja ini memang tidak bisa berakting dan mengendalikan ekspresinya, dan itu salah satu yang membuatku sangat menyukainya.
"Kenapa kau seperti ini? Apa kau tahu hah bagaimana usahaku bangun pagi hari ini untukmu?"
Dia menarik pinggangku dan mendekatkan tubuh kami, menatapku antara marah dan kecewa, mungkin.
"Hyein-ah?"
"Junhoe-ya, maaf tapi sekarang aku sedang tidak baik. Aku kehilangan semangatku dan_"
"Dan kau akan mengabaikanku karena itu?"
Aku hanya diam saat dia memotong perkataanku, sepertinya dia benar-benar kesal dan marah karena aku perlakukan seperti ini.
"Tidak, bukan begitu..."
"Lalu apa? Bagaimana?"
"Junhoe-ya..." aku sedikit menjauh dan melepaskan tangannya dari pinggangku. "Sungguh maafkan aku, tapi hari ini aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun dengan tubuhku yang tidak bersemangat ini"
Aku lihat dia menarik nafas dan menyisir rambutnya, membuat rambut pirang itu sedikit berantakan.
"Kau kehilangan semangatmu?" dia mendekat lagi dan menatapku, tapi kali ini entah tatapan apa itu, aku tidak bisa mengerti maksudnya.
"Baiklah, aku akan coba mengembalikan semangatmu_"
Oh My God! Koo Junhoe menempelkan bibirnya sangat tepat diatas bibirku, dan tentu saja membuatku diam mematung tidak sadar.
Apa yang dia lakukan? Apa yang harus aku lakukan?
Ini pertama kalinya terjadi selama satu tahun kami bersama. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Junhoe masih tidak menjauh dan tetap menempelkan bibir kami, malah dia semakin merapatkannya dan sedikit ... melumat.
Jantungku berdetak terlalu cepat, membuatku tidak bisa bergerak dan hanya bisa menutup mataku. Diam dan merasakan sensasi aneh yang menyengat bibirku.
Ciuman pertama kami.
Sekarang aku rasakan kalau dia juga menghisap bibir bawahku, masih sesekali melumat, dan itu rasanya sangat aneh untukku. Aku juga tidak tahu kapan aku membuka bibirku, membiarkan lidah Junhoe memainkan lidahku.
Tangan Junhoe kembali menarik pinggangku, membuat tubuh kami sangat rapat. Kami masih melakukan itu.
"Sayang, aku mohon jangan pernah abaikan aku bagaimanapun keadaanmu"
Ucapnya pelan dan lembut ditelingaku saat dia melepaskan tautan bibir kami.
"Maafkan aku..."
"Aku akan selalu bersama denganmu dan berusaha terus membuatmu bersemangat, jadi jangan abaikan aku lagi dan teruslah tersenyum padaku. Kau mengerti?"
Aku merasa seperti tatapan matanya menghipnotisku, membuatku mengangguk dengan mudahnya. Namja ini benar-benar hebat.
"Terima kasih.  Dan aku senang kau datang sepagi ini untukku, saranghae"
"Haha ... Sayang, jika kau suka kenapa tidak katakan dari tadi. Apa kau sengaja membuatku melakukan ini?" Junhoe tersenyum dengan penuh godaan padaku. Dia menggodaku.
"Tentu saja tidak!" aku langsung memukul dadanya.
"Baiklah, walaupun kau sengaja, itu tidak apa-apa untukku. Aku akan melakukannya dengan senang hati untukmu..."
Dan lagi, bibir kami kembali bertemu. Menyudahi ceritaku pagi ini. Benar-benar pagi yang luar biasa.
Gomawo Chagiya. Saranghae Koo Junhoe.

-Fin-

Woah jinjja. Author tidak tahu apa yang terjadi sampai ke sepuluh jari tanganku bergerak mengetik ini semua. Ini diluar rencana.
tolong maafkan jika FF ini tidak berkenan dihati dan mengecewakan.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan mengunjungi blog cifcif. Annyeong

Sunday, 22 November 2015

[FF] You (iKON : Koo Junhoe)



Koo Junhoe !!
YA! Kenapa virus aneh ini menyerangku disaat musim hujan datang? Dan entah kenapa aku tidak bisa menahan diri dari pesona seorang namja yang lahir 27 hari lebih dulu dariku? Woah jinjja jeongmal, aku benar-benar demam gara-gara seorang Koo Junhoe.
Aku membaca FF dengan cast Koo Junhoe, dan pada akhirnya aku berakhir dengan perasaan menggila. Baper gituh. Parahnya, itu bisa berlangsung sampai semalaman. Aku tidak bisa berhenti tersenyum disetiap detiknya, sungguh aku tidak bisa menahannya. Entah mungkin kalian tidak begitu percaya dan menganggap ini lebay, tapi hanya itulah yang aku rasakan.
Baiklah, lupakan semua itu. Lupakan juga June, walaupun mungkin butuh waktu lama dan namja lain untuk pengalih perhatian. Kita baca cerita gila ini. Sinosijak.

Tittle                : You
Genre              : Marriage life, Romance
Length             : Oneshot
Author             : Cifa Rakay
Cast                 : Koo Junhoe // Han Yoonji // Kim Jinhwan // Kim Jiwon // Kim Donghyuk
“Seperti kita bermain sebuah permainan, semakin sering kita memainkannya dan semakin kita menyukainya, maka rasa bosan akan datang lebih cepat. Begitu juga dengan cinta, semakin kita menyukai seseorang maka semakin besar kemungkinan suatu saat kita akan kehilangan rasa suka terhadapnya. Cinta juga bisa menjadi bosan. Karena setiap hembusan angin yang berhembus  membawa banyak perubahan”

            ####### -_- #######
Koo Junhoe menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka, dia tersenyum kecil melihat siapa yang datang. Tapi meski ada senyuman, dia sama sekali tidak berniat untuk menyambut atau mengatakan apapun padanya, Jonhoe masih tidak mau beranjak dari kegiatannya memasak ramyeon.
Sementara itu, seorang wanita yang sudah hampir satu minggu tidak menginjakkan kakinya di rumah ini, juga sepertinya tidak berniat menyapa pria yang dia tinggalkan seminggu ini.
Pada akhirnya, seperti biasa. Benar-benar sepi dan tidak ada senyuman. Walaupun kadang hubungan mereka menjadi sangat hangat, tapi tetap saja hubungan mereka sulit dimengerti, bahkan oleh keduanya.
Wanita itu berjalan perlahan menuju kamarnya. Dia memang sangat lelah, seluruh tubuhnya terasa kaku dan sedikit ngilu. Seminggu tidur dengan pekerjaan yang menumpuk benar-benar membuatnya lelah, lagipula siapa yang bisa tidur nyenyak di rumah sakit.
Praankk
Suara benda jatuh bersamaan dengan erangan pelan Koo Junhoe membuat wanita itu kembali beranjak dari tempat tidurnya, dia berlari menuju dapur dan melihat apa yang terjadi.
“...eoh Han Yoonji?” Koo Junhoe melirik wanita itu yang sekarang sudah berdiri disampingnya.
“Apa yang terjadi?” Han Yoonji, wanita itu masih bertanya walaupun dia sudah tahu kalau Junhoe menumpahkan panci ramyeonnya.
“Bukan apa-apa, aku hanya menjatuhkannya”
“Apa kau terluka?” Han Yoonji masih berdiri disana tanpa merubah ekspresinya melihat Junhoe.
“Eoh ...” Junhoe mengangguk dan tersenyum menatap Yoonji.
Dan entah kenapa, senyuman Junhoe membuat lidah Yoonji kelu untuk kembali bertanya “Dimana yang sakit? Apa lukanya parah?” .  Hatinya hanya sedikit bergetar, tapi jantungnya berdetak sangat cepat setelah melihat senyuman itu. Yoonji merasa dia benar-benar istri yang mengecewakan, bahkan dia membiarkan suaminya hanya makan ramyeon untuk makan malamnya. Dan sekarang, Yoonji hanya berdiri diam melihat suaminya mengatakan kalau dia terluka.
“... eo-eodi?” Yoonji hanya sedikit melangkah mendekati Junhoe.
“Yoonji-ya ...” Junhoe berdiri dan mendekat padanya, hanya berdiri dihadapannya.
Bibir Yoonji kembali merapat, dia bahkan baru menyadari kalau wajah Junhoe penuh dengan luka lebam. Pelipis mata kanannya bengkak, warna hijau ke-unguan terlihat dibeberapa titik diwajahnya, dan luka basah yang pasti masih sangat perih di ujung bibirnya.
Apa yang terjadi? Kenapa Yoonji baru menyadari itu walaupun dari beberapa detik lalu Junhoe tersenyum menatapnya, sekarang dia benar-benar merasa tidak berguna sebagai istri. Dia tidak bisa mengurus suaminya sendiri, mengetahui apa yang terjadi pada suaminya saja dia tidak tahu. Payah, batinnya.
“Gwaenchana, tidak usah melihatku seperti itu” Junhoe melangkah mundur dan mengambil panci yang tadi dia jatuhkan, membersihkan ramyeon yang sekarang berserakan dilantai.
“Apa yang terjadi padamu Jun_” ucapan Yoonji terhenti saat dia melihat Junhoe mengambil panci itu dengan tangan yang dihiasi perban. Sebenarnya apa yang terjadi pada suaminya sampai dia seperti itu.
“Mwoya?” Junhoe kembali berbalik dan melihat Yoonji.
“Kenapa kau seperti ini? Apa yang terjadi padamu? Apa kau berkelahi?”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Kau tidak usah memikirkannya, tidurlah ... bukankah kau pulang untuk tidur?” Junhoe sekilas tersenyum sebelum dia kembali membersihkan sisa ramyeon di lantai itu.
Yoonji masih tidak beranjak dari sana, dia hanya menghembuskan nafas pelan melihat sekelilingnya. Rumah ini berantakan. Pasti Junhoe hanya makan dan tidur tanpa membersihkan rumahnya, dia bukan tipe orang yang peduli kebersihan  lingkungan. Banyak sampah bungkus ramyeon berserakan dimeja, piring kotor yang menumpuk, dan pastinya lantai yang sangat berdebu.
“Wae?” Junhoe mengikuti arah pandangan Yoonji, dia tersenyum malu dan memijat tengkuknya menyadari Yoonji sedang mengamati rumah ini. “Aah mian, aku tidak bisa membereskannya. Aku juga sibuk dengan pekerjaanku, jadi aku_”
“Apa kau hanya makan ramyeon?” Yoonji memotong penjelasan Junhoe dan berjalan kembali kehadapannya.
“Ani, aku kadang makan diluar bersama teman”
“Lalu apa yang terjadi padamu?”
“Sudah kubilang, ini tidak apa-apa, tidak usah kau fikirkan. Gwaenchana ...” Junhoe kembali tersenyum untuk menutupi keadaannya. Yah pasti dia berbohong, dengan luka seperti itu tidak mungkin kalau dia baik-baik saja, setidaknya pasti ngilu dan nyeri dia rasakan dilukanya.
“Apa kau sudah mengobati lukamu?”
“Eoh, aku juga sudah membeli obat. Sudahlah jangan menatapku seperti itu, aku baik-baik saja Yoonji-ya”
“Baiklah” Yoonji berbalik dan hendak melangkah saat Junhoe menahan sebelah tangannya. Yoonji akhirnya kembali berbalik menatap Junhoe.
“Gomawo”
“Wae?”
“Kau sudah pulang dan menanyakan kabarku, gomawo ...” Junhoe mengecup kening Yoonji sekilas sebelum dia pergi meninggalkan Yoonji yang kembali terpaku, terjebak dengan hatinya sendiri.
Sekarang, Yoonji merasakan hatinya benar-benar bergetar. Dia sampai tidak bisa menahan air mata yang tiba-tiba keluar dari matanya, hatinya sesak. Suami istri apa yang seperti ini, hanya menyembunyikan perasaannya masing-masing. Ouh astaga. Bahkan usia pernikahan mereka belum genap satu bulan.
Yoonji menghapus air mata di pipinya, kembali berjalan mendekati Junhoe. “Apa kau mau aku masakan sesuatu untukmu? Ramyeonnya tumpah, kau juga belum makan”
Junhoe menahan langkahnya, masih berdiri ditempat yang sama, dia hanya berbalik dan tersenyum, mengangguk pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan Yoonji.
            ### -_- ###
“Yoonji-ya, bagaimana kalau kita bertemu besok? Sekarang aku harus kembali rapat dengan yang lain, aku tidak bisa bicara banyak denganmu, pekerjaanku sangat banyak ..”
“Geurae, kita bicarakan besok saja. Maaf sudah mengganggumu, annyeong” Lep- Yoonji memutuskan sambungan telfon mereka, mengakhiri pembicaraannya dengan seorang pria di seberang sana.
Yoonji kembali menghembuskan nafas gusarnya, dia mengusap titik air mata dipipinya lalu menjatuhkan dirinya diatas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih, dan tetap saja dia tidak bisa berhenti menangis.
Melihat Junhoe seperti itu benar-benar membuatnya merasa bersalah. Walaupun jelas sekali kalau Junhoe terluka seperti itu bukan salahnya, tapi sebagai istri, bagaimana dia bisa tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya.
Yoonji membuka matanya, kembali menghapus air mata dikedua pipinya. Dia berjalan keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar disebelahnya, melihat Junhoe yang terbaring diranjangnya.
“Wae?” Junhoe merubah posisinya menjadi duduk, dia menatap Yoonji yang terus berjalan menghampirinya.
“Kau bahkan tidak menelfon dan memberi tahuku kalau kau terluka seperti ini, apa yang terjadi padamu?”
“Seminggu ini kau juga tidak memberiku pesan atau menelfonku, jadi mungkin aku juga harus seperti itu padamu. Lagi pula aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu”
“Keundae Jun_”
“Yoonji nan jeongmal gwaenchana!”
Yoonji kembali merapatkan bibirnya mendengar kata itu lagi dari Junhoe, dia tidak tahu harus bertanya apa lagi untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Junhoe, atau dengan siapa dia berkelahi sampai seperti ini. Junhoe menyembunyikannya dengan baik.
“Yoonji .. Han Yoonji .. apa kau tidak mau kembali ke kamarmu?”
Suara Junhoe menyatukan Yoonji dengan kesadarannya lagi. Yoonji berjalan dan mendudukkan dirinya disamping Junhoe begitu saja, membuat pria itu menatapnya dengan pertanyaan.
“Aku tidak tahu, aku juga tidak peduli jika kau menolak, tapi sepertinya aku harus tidur denganmu malam ini” tanpa senyuman Yoonji menarik selimut dan menyelimuti setengah tubuhnya seperti Junhoe.
“Jinjja?” Junhoe tersenyum tanpa melepas tatapannya dari Yoonji.
“Hemh”
“Keundae wae?”
Yoonji tidak langsung menjawab, dia mendalamkan tatapannya dimata Junhoe. Mencoba memberi tahu kalau dia sungguh merasa bersalah membiarkan suaminya seperti ini, terluka dan sendirian tanpanya.
“Kau sedang sakit ...”
“Hanya itu?”
Yoonji kembali tidak menjawab dan hanya terus menatap Junhoe.
“Wae? Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?”
“... mianhae June” karena tidak berhasil mengatakan itu hanya dengan tatapannya, akhirnya Yoonji memberanikan diri mengatakan itu secara langsung dari bibirnya. Yoonji memeluk Junhoe yang menatapnya tidak mengerti, tapi beberapa detik mereka diam dengan seperti itu, Junhoe membalas pelukan itu. Merapatkan tubuh mereka.
“Maaf untuk apa?”
“Mianhae ...”
“Jangan menangis, aku tidak apa-apa. Setidaknya walaupun ini terus terjadi padaku, tapi kau sudah menjadi milikku. Kau sudah menjadi milikku, Han Yoonji” Junhoe memberi penekanan diakhir kalimatnya, mengingatkan lagi kalau sekarang mereka sudah benar-benar terikat.
Yoonji menarik nafas dalam, menyesap wangi tubuh suaminya, mencoba menenangkan dirinya dan berhenti menangis. Pelukan hangat Junhoe selalu memberi ketenangan untuknya, walau hanya beberapa kali dia merasakannya.
            ### -_- ###
Matahari sudah bersinar, walaupun masih belum terlalu bersinar terang, tapi itu cukup untuk mengejutkan mereka yang masih terlelap.
Yoonji perlahan memutar bola matanya, melihat pria yang terpejam dengan damai disampingnya. Sedikit senyuman terukir dibibir Yoonji, ini adalah kali kedua dia terbangun disamping suaminya. Hanya saat malam pernikahannya dan sekarang.
Tangan Yoonji bergerak menyisir poni Junhoe yang menutupi keningnya, membelai kedua matanya, dan mengusap pipi chubby yang dulu pernah sangat dia sukai.
Dulu? Han Yoonji memang menyukai Koo Junhoe, bahkan mungkin sempat tergila-gila padanya. Tapi entah kenapa setelah Junhoe memutuskan untuk menikah dengannya, perasaan itu seperti menghilang. Atau mungkin perasaan itu hanya terkubur dalam dihatinya dan terhalang benteng yang tebal, atau entahlah mungkin Yoonji hanya ingin menyembunyikannya sekarang.
Jari Yoonji berhenti tepat dibibir itu, bibir yang tidak terlalu tebal tapi dia ingat kalau rasanya sangat manis. Yoonji kembali tersenyum mengingat sentuhan bibir manis itu.
Tidak, tidak ada yang terjadi. Yoonji tidak ingin terjadi sesuatu, dia beranjak dan mengikat rambutnya sebelum pergi dari kamar itu.
Beberapa lama sudah berlalu. Entah berapa waktu yang berlalu tadi, sekarang Yoonji sudah rapi dengan bajunya dan selesai menyiapkan sarapan untuk mereka. Yoonji kembali ke kamar Junhoe, melihat pria itu masih saja damai dengan tidurnya.
“Junhoe ... Junhoe irreona ... Ya June!”
“Hemm ...” hanya gumaman kecil yang terdengar menjawab panggilan Yoonji.
“June, kau tidak akan bangun?” Yoonji berdiri disamping ranjang menatap Junhoe yang mengusap-usap wajahnya.
“Wae?” Junhoe akhirnya bangun, walaupun dia masih duduk dan memejamkan matanya lagi.
“Buka matamu”
“Jam ... jam berapa sekar- aakh ...” Junhoe menarik selimutnya, menyembunyikan sebelah tangannya yang dibalut perban.
“Wae?”
“Anio” Junhoe langsung bisa kembali menguasai dirinya dengan cepat.
“Tapi, jelas-jelas kalau dia menahan sakit kenapa masih bicara tidak-tidak. Apa luka ditangan Junhoe benar-benar parah? Atau itu sangat menyakitkan?” Yoonji hanya terus bicara dalam benaknya, dia tahu Junhoe tidak akan menjawab jika dia bertanya lagi.
“Geurae, aku sudah menyiapkan sarapan” Yoonji pergi meninggalkan Junhoe di kamar itu, dia kembali menyiapkan sesuatu di meja makan.
Junhoe keluar sudah dengan kemeja rapi, walaupun dasinya belum terikat dan masih menggantung dilehernya. Dia menarik kursi dan duduk dihadapan Yoonji, menatap beberapa makanan yang tersaji dihadapannya.
“Wae?”
“Ani. Aku hanya sudah lama tidak makan masakanmu ...” Junhoe tersenyum lalu mengambil sendok dengan tangan kirinya.
Yoonji hanya diam melihat itu, jika dia bertanyapun maka jawaban Junhoe akan tetap sama, “Aku baik-baik saja”. Lagipula Yoonji mengerti kenapa Junhoe makan dengan tangan kirinya, tangan kanannya yang masih dibalut perban pasti masih sakit sampai dia tidak bisa menggunakannya untuk mengikat dasi dan menyuap makanan.
Sarapan pagi ini berlalu seperti sarapan mereka biasanya, yang terdengar hanya benturan alat makan mereka. Tidak ada pembicaraan berarti ataupun ringan antara mereka, hanya diam yang mereka pilih.
“Kau tidak bekerja?” Junhoe sekilas melirik Yoonji yang merapikan bantal sofa lalu kembali fokus pada sebelah tangannya yang berusaha memasukkan laptop kedalam tasnya.
“Aku sudah minta libur, aku sudah bekerja lembur selama seminggu, dan itu melelahkan”
“Geurae, istirahatlah”
“Sebelum itu aku harus membersihkan ulahmu, lihatlah rumah ini sangat kacau ...”
“Geurae, mianhae ...” Junhoe beranjak dari sofa dan tersenyum, walaupun dibalik senyuman itu dia sangat merasa kesal karena laptop itu masih tidak bisa masuk kedalam tasnya.
“Apa sebaiknya kau juga tidak bekerja, kufikir lukamu itu masih sangat sakit” Yoonji menghampirinya dan memasukan laptop itu kedalam tasnya, lalu mendekat dan menatap sekilas manik Junhoe sebelum dia mengikatkan dasinya.
“Banyak pekerjaan di kantorku, aku harus bekerja”
“Hemh baiklah, kau memang selalu seperti itu”
Tubuh Junhoe sedikit menegang saat hembusan nafas Yoonji terasa dilehernya, seperti ada sesuatu yang menggelitik punggungnya dengan udara panas. Yoonji berada sangat dekat dengannya, dia sesekali berjinjit merapikan kerah belakang kemeja Junhoe, membuat mereka sangat dengat untuk bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Yoonji langsung mengangkat wajahnya menatap tepat kedua mata Junhoe, sedikit terkejut saat Junhoe menarik pinggangnya setelah dia  selesai mengikat dasi itu. Junhoe membuat tubuh mereka merapat, dan tentu saja memberikan sensasi aneh entah untuk keduanya atau hanya salah satu diantara mereka.
“... a-pa?”
“Memang aku seperti apa?”
“Mwo?”
“Kau bilang aku selalu seperti itu, dan aku tanya seperti apa aku memangnya? Seperti apa aku dimatamu, Han Yoonji?”
“... ka-kau selalu me_”
Junhoe tahu kalau dia sudah membuat Yoonji bingung dengan pertanyaannya, dan Yoonji pasti tidak bisa menjawab. Jadi karena itu Junhoe menghentikan Yoonji dengan menempelkan bibirnya tepat diatas bibir Yoonji.
Yoonji masih membuka matanya, masih mencoba berfikir apa yang terjadi sekarang, menahan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat daripada saat berlari. Tapi kehangatan Junhoe sekarang membuatnya tidak bisa menolak, dia perlahan memejamkan matanya dan sedikit membuka bibirnya, menyuruh Junhoe untuk memimpin permainan mereka sekarang. Tangan Yoonji yang diam didada Junhoe hanya bergerak perlahan mengusap leher dan rambut Junhoe, tidak menolak jika Junhoe terus merapatkan tubuh mereka dan memperdalam ciumannya.
            ### -_- ###
Yoonji tersenyum melihat orang yang sudah dia tunggu beberapa menit lalu akhirnya datang juga, pria yang bicara dengannya di telfon tadi malam.
“Ah mian, kau lama menungguku?” pria berjas itu tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya, sangat manis. Dia duduk dihadapan Yoonji.
“Eoh, aku menunggumu dari tadi. Apa kau benar-benar sibuk?” Yoonji membalas senyuman manis pria yang sebentar lagi akan  menjadi keluarganya.
“Pekerjaanku akhir-akhir ini tidak pernah selesai, bahkan aku selalu lembur tapi semua itu masih tidak pernah selesai. Ini melelahkan ...”
Yoonji berdecak melihat ekspresi pria itu yang meyakinkan kalau pekerjaannya benar-benar melelahkan, tapi itu mungkin tidak se-melelahkan dalam fikirannya.
“Geurae, arasseo. Minumlah, aku sengaja pesan untukmu” Yoonji sedikit memajukan dagunya menunjuk segelas jus dingin dihadapannya.
“Tentu saja kau harus mentraktirku minum, kau mendadak minta bertemu dengan orang sibuk sepertiku jadi harus memperlakukanku dengan baik” pria itu tersenyum dan menyesap jus dingin itu.
“Donghyuk-ah, apa kau tahu Junhoe berkelahi dengan siapa?”
“..ohok- mh ... mwo?” pria yang dipanggil Donghyuk itu hampir saja menyemburkan minuman didalam mulutnya. “Mworageo?”
“Ada apa denganmu, kenapa terkejut begitu. Kau pasti tahu kenapa Junhoe terluka seperti itu, jadi kau juga pasti tahu dia berkelahi dengan siapa”
“Ya! Junhoe hanya terluka karena kecelakaan ...” Donghyuk mengusap pipinya yang sedikit basah karena batuk tadi.
“Jangan bohong, katakan saja dengan siapa” Yoonji mengganti posisi duduknya, lebih condong kedepan dan menatap Donghyuk mengintrogasi.
“Ya! Han Yoonji ... “
“Hey, sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu tapi kau malah memanggil namaku seperti itu, benar-benar tidak sopan” Yoonji berdecak meledek Donghyuk.
“Ah geurae, aku lupa itu. Tapi walaupun aku ingat, tetap saja rasanya aku tidak bisa lupa kalau kau lebih muda tiga bulan dariku Yoonji-ya. Apa aku harus memanggilmu Noona?”
“Aish. Baiklah terserah kau saja” Yoonji memalingkan pandangannya dan ikut menyesap jus miliknya.
“Keundae ... kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu padaku?”
“Mau seperti apa aku bertanya pada Junhoe, dia tidak akan pernah mengatakan apapun padaku. Jadi kau yang harus mengatakannya padaku, palli Kim Donghyuk!”
“Ya! Memangnya kau benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada suamimu sendiri hah? Istri macam apa kau ini, bertanya tentang suamimu pada orang lain”
“Ya Kim Donghyuk!” Yoonji menyerang pria bermarga Kim itu dengan tatapan lasernya. Pria ini benar-benar banyak bicara.
“Aish geurae geurae, kau menakutkan. Koo Junhoe berkelahi dengan Jinhwan Hyung”
“Mwo?” kedua mata Yoonji membulat mendengar itu. “Jinjja? Kenapa Junhoe berkelahi dengan Jinhwan Oppa?”
“Apa lagi, tentu saja itu karenamu. Mereka memperebutkanmu, memangnya apa lagi yang bisa membuat mereka berkelahi sampai seperti itu?”
Yoonji terdiam. Junhoe dan Jinhwan berkelahi karena dirinya, apa yang sebenarnya mereka lakukan. Kenapa mereka berdua masih terus seperti itu.
“Ya! Kau ini pura-pura tidak tahu atau bagaimana, kenapa menanyakan ini padaku padahal mereka berkelahi di rumah sakit tempatmu bekerja”
“Mwo?” dan itu menambah pukulan untuk Yoonji. Apa saja yang dia lakukan sampai benar-benar tidak tahu yang terjadi dengan suaminya.
“Apa Jinhwan Hyung tidak mengatakan apapun padamu? Kurasa dia juga terluka seperti Junhoe, mungkin saja dia lebih parah karena Junhoe benar-benar marah padanya”
“Donghyuk-ah, apa kau juga tahu apa yang mereka masalahkan?”
“Sudah kubilang itu karenamu, mereka masih memperebutkanmu. Apa kau juga pura-pura tidak tahu kalau Jinhwan Hyung masih menyukaimu?”
“Kapan mereka berkelahi?”
“Kemarin, kau juga tidak tahu itu? Aish jinjja. Ya Han Yoonji! Sebenarnya apa saja yang kau lakukan sampai tidak tahu apapun, woah aku jadi kesal melihatmu” Donghyuk kembali menyesap jusnya untuk sedikit meredakan emosi.
“Gomawo Donghyuk-ah, jalgayo” Yoonji mengambil tasnya dan dengan cepat meninggalkan kafe itu begitu saja.
“Ya! Beginikah kau memperlakukan calon adik iparmu?” Donghyuk hanya bisa melihat Yoonji yang dengan cepat menghilang dari pandangannya.
            ### -_- ###
Pintu rumah itu terbuka, memperlihatkan seorang pelayan yang dengan sopan tersenyum pada Yoonji yang sudah beberapa lama berdiri dibalik pintu itu.
“Maaf sudah membuatmu menuggu lama” ucap pelayan itu seraya membungkuk.
“Tidak apa-apa. Apa aku bisa bertemu dengan Kim Jinhwan?”
“Tuan sedikit sakit, tapi aku bisa memberitahunya kalau kau datang. Silahkan masuk” pelayan itu kembali masuk bersama Yoonji.
Sebenarnya, Han Yoonji tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi mungkin ini sudah seharusnya. Sesuatu yang hilang memang bisa saja kembali, tapi itu tidak akan sama seperti sebelum menghilang.
Yoonji menoleh dan beranjak dari sofa saat mendengar langkah kaki, Kim Jinhwan berjalan menghampirinya. Yoonji tersenyum.
Seperti yang Donghyuk katakan, luka Jinhwan memang lebih banyak dan sedikit lebih parah dari Junhoe, tapi entah kenapa saat melihat pria itu tersenyum padanya, Yoonji merasa kalau Jinhwan adalah hanya tersangka yang membuat suaminya terluka.
“Yoonji-ya, kenapa kau kesini?” Jinhwan menyeret sebelah kakinya untuk berjalan, wajahnya masih penuh dengan perban dibeberapa titik.
“Aku sengaja datang untuk menjengukmu, Oppa. Kau tiba-tiba menghilang dan tidak bekerja, kenapa tidak beri tahu aku jika Oppa sakit?”
“Mian, ada sedikit kecelakaan”
Mereka terdiam, hanya duduk dan entah kenapa menjadi canggung seperti ini. Atau mungkin karena Jinhwan sudah tahu kalau Yoonji datang untuk bertanya tentang Junhoe.
“Oppa, boleh aku bertanya?” Yoonji kembali membuka pembicaraan.
“Hem. Mwoe?”
“Aku sudah tahu kau berkelahi dengan Junhoe_”
“Yoonji-ya, kau tahu kalau aku ingin bersamamu?” tapi Jinhwan memotong begitu saja, rasanya dia tidak tahan dengan ini.
“Oppa, aku mohon hentikan. Jangan seperti ini ...”
“Mwo? Kau tidak suka jika aku seperti ini? Tapi bukankah kau menyukaiku dan ingin aku_”
“Geumanhae Oppa” Yoonji menatap Jinhwan penuh harap. Baginya, ini sudah selesai, jauh sebelum Jinhwan menyadari itu.
“Wae?”
“Aku sudah menikah Oppa, sekarang aku sudah bersamanya, jadi aku mohon berhentilah seperti ini”
“Jadi itu karena Junhoe?”
“Ani ..” Yoonji menggeleng pelan, merubah tatapannya menjadi penuh penjelasan pada Jinhwan. “Ini bukan karena Junhoe, tapi ini karena kau, Oppa. Ini karena Oppa yang membuatku mengakhirinya, aku tidak menyukaimu lagi, aku sudah lelah_”
“Han Yoonji jebal, mianhae. Aku tahu ini terlalu lama untukmu, tapi maaf karena baru menyadarinya setelah sekian lama. Maaf karena membuatmu merasakannya sendiri, aku mohon biarkan aku bersamamu dan membuatmu kembali menyukaiku ...”
“Andwae, itu tidak bisa. Oppa, kau mungkin tidak mengerti kalau aku sangat menyukaimu sampai membuatku hampir gila, aku selalu memikirkanmu dan berharap kau bisa melihatku, aku benar-benar menyukaimu. Tapi, sampai selama itu, Oppa masih tidak melihat kearahku, Oppa hanya mengabaikanku_”
“Yoonji-ya mianhae ...”
“Maaf Oppa, aku terlanjur membuang semua perasaan itu. Aku tidak bisa menahannya terlalu lama, tidak bisa jika aku hanya terus sendirian, kau membuatku memilih untuk membuang semua perasaan itu Oppa. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba kau jadi seperti ini? Kau bersikap seolah sangat mencintaiku, waeyo Oppa?”
“Tapi aku benar-benar mencintaimu Han Yoonji!”
“Anio Oppa, itu bukan cinta, itu hanya perasaan ingin memiliki. Bukankah kau seperti ini karena tahu perasaanku? Bahkan dulu kau tidak pernah mau melihatku. Jadi berhentilah Oppa, jangan terus seperti ini”
Jinhwan terdiam, dia memalingkan pandangannya dari tatapan Yoonji. Perkataan Yoonji memang ada benarnya, tapi dia merasa tidak semuanya benar seperti itu, sekarang dia benar-benar menyukai Han Yoonji. Dan ternyata perasaan itu sudah terlambat.
“Kau mencintainya?”
Yoonji tidak menjawab, dia rasa Jinhwan sudah tahu jawabannya. Ini hanya pertanyaan untuk mengalihkan perasaan ditolaknya, jadi setidaknya Jinhwan bisa menyalahkan Junhoe.
“Geurae, kau mencintainya” Jinhwan tersenyum hambar.
“Oppa, aku menyukai Koo Junhoe tidak seperti aku menyukaimu, aku hanya senang melihatnya. Tapi, Junhoe terus tersenyum padaku, dia selalu melihatku, dan dia mengatakan kalau dia menyukaiku ...”
“Hajima”
“Junhoe berubah menjadi dingin padaku saat tahu kalau aku menyukaimu, walaupun saat itu tidak ada yang tahu kalau sebenarnya hatiku sudah melupakanmu. Tapi tiba-tiba Oppa datang dan mengatakan kalau Oppa menyukaiku, membuat Junhoe datang dan menikahiku”
“Hajima Yoonji-ya”
“Awalnya aku kira alasan Junhoe menikah denganku adalah karena Oppa, tapi ternyata aku tahu kalau dia benar-benar mencintaiku. Junhoe sangat mencintaiku_”
“Ya! Aku bilang hentikan! Berhentilah Han Yoonji ...”
“Maafkan aku Oppa, tapi sepertinya kita harus berakhir seperti ini. Aku memang tidak menyukai Junhoe seperti dulu aku menyukaimu, tapi aku mencintainya, aku mencintai suamiku. Jadi aku mohon berhenti sampai disini. Oppa pasti akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dariku, yang tidak akan lelah mencintaimu selamanya. Mianhae ...” Yoonji beranjak dan pergi meninggalkan Jinhwan.
            ### -_- ###
Han Yoonji berjalan masuk, memakai sandal rumah dan membawa belanjaannya masuk kedalam. Dia sedikit mengernyitkan alis melihat jas dan tas Junhoe di sofa.
“Eoh wasseo?”
Yoonji langsung menoleh kearah suara berat yang sangat dia kenal, siapa lagi jika bukan Koo Junhoe. Yoonji sedikit menarik bibirnya untuk tersenyum.
“Apa kau baru pulang?”
Junhoe hanya mengangguk menjawab pertanyaannya, dia masih berusaha melepaskan ikatan dasinya dengan sebelah tangan.
“Kau dari mana?”
“Aku belanja, disini sudah tidak ada makanan. Tunggu sebentar, biar aku lepaskan dasimu” Yoonji berjalan ke dapur dan menyimpan belanjaanya, lalu dengan cepat kembali dan berdiri dihadapan Junhoe.
“Wae?” Junhoe hanya berkedip dan sedikit menjauh saat Yoonji berdiri dihadapannya.
“Gwaenchana?”
“Tentu saja, aku tidak apa-apa. Kau kenapa?”
“Kau sudah makan?” Yoonji perlahan melepaskan ikatan dasi Junhoe, menatapnya, dan sedikit tersenyum.
“Eoh, aku tadi makan bersama teman di kantor. Apa tadi kau hanya belanja?”
“Aku juga bertemu calon adik iparku, kami bicara sebentar tadi”
“Ah geurae, sebentar lagi Donghyuk akan menikah dengan adikmu. Aish kenapa harus dia yang menjadi adik iparku, bahkan dia dua bulan lebih tua dariku. Sepertinya waktu itu aku lebih baik mengenalkan Han Yoonchi pada Chanwoo ...”
“Ania, biarkan saja Yoonchi memilih pria-nya sendiri”
“Aah mungkin ini akan menjadi tidak enak nanti, aku akan bertemu Donghyuk di kantor dan menjadi kakak iparnya di rumah_”
“June ...” Yoonji tiba-tiba mengusap pipi Junhoe, membuatnya berhenti bicara dan memasang tatapan aneh.
“Wae?” Junhoe kembali menguasai dirinya.
“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, kau mandilah” Yoonji melangkah mundur dan pergi begitu saja.
Sementara Junhoe masih berdiri disana, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Yoonji sampai berubah seperti itu. Menurutnya dia jadi sedikit .. perhatian, dan hangat. Ini memang menyenangkan, tapi pasti ada sesuatu yang terjadi padanya.
Rambut Junhoe masih basah, dia sekarang berusaha melilitkan perban baru untuk tangan kanannya. Dan rasanya dia kesal karena ini tidak berjalan dengan baik jika hanya menggunakan satu tangan.
“Aisshh ...” Junhoe meringis dan melirik pintu kamarnya yang terbuka dan menunjukkan Yoonji yang berjalan menghampirinya. “Wae?” Junhoe menatap Yoonji.
“Biar aku bantu” Yoonji dengan cepat duduk disamping Junhoe dan melilitkan perban baru ditangannya. Baru sekarang dia bisa melihat luka yang Junhoe sembunyikan dibalik perbannya, dan itu sedikit mengerikan. Yoonji tidak mengerti bagaimana Jinhwan dan Junhoe berkelahi, apa mereka hanya berkelahi dengan tangan kosong atau bagaimana, luka-luka mereka terlalu banyak jika hanya berkelahi dengan tangan kosong.
“Yoonji, ada apa denganmu?”
“Wae? Memangnya aku kenapa?”
“Lupakan” Junhoe memalingkan tatapannya dari Yoonji yang masih melilitkan perban ditangannya.
“June, aku sudah tahu dengan siapa kau berkelahi”
“Lalu?”
“Kenapa kalian berkelahi? Tidak adakah cara lain yang bisa kalian lakukan selain menyakiti diri sendiri seperti ini?”
“Ya! Jika kau tahu dengan siapa aku berkelahi, seharusnya kau juga tahu kenapa aku melakukannya. Alasan kami berkelahi adalah kau, dan jika itu tentangmu maka sudah tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menghilangkan salah satu dari kami”
Yoonji mengikat perban itu dan memotongnya. Entah kenapa perkataan Junhoe terdengar menyakitkan untuknya, membuatnya semakin merasa bersalah karena sudah menyebabkan kekacauan seperti ini. Dia juga tidak bisa melindungi Junhoe ataupun mereka berdua.
Tapi lepas dari semua itu, sebenarnya ini bukan kesalahan Yoonji. Saat dia menikah dengan Junhoe, dia sudah mengakhiri semuanya dengan Jinhwan, sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka mulai.
Dan disisi lain, Yoonji semakin tahu kalau Junhoe benar-benar mencintainya. Ada perasaan lega mengetahuinya, Junhoe tidak menikahinya karena Kim Jinhwan, tapi karena dia mencintainya.
“June ...”
“Wae?”
“Jangan seperti ini, berkelahi tidak ada gunanya dan hanya mem_”
“Lalu aku harus bagaimana? Kau tidak tahu bagaimana perasaanku, bahkan aku juga tidak tahu seperti apa perasaanmu padaku selama ini. Entah kau menyukaiku atau membenciku, aku sama sekali tidak tahu apa yang kau rasakan padaku, aku tidak tahu kenapa kau mau menikah denganku, dan aku tidak tahu bagaimana perasaanmu pada Jinhwan Hyung. Kau membuatku gila Han Yoonji!” Junhoe melepaskan tangan Yoonji dan beranjak. Dia berjalan beberapa langkah dan bersandar di dinding, mengusap wajahnya kasar.
“Aku selalu tidak bisa menahan diriku saat Jinhwan Hyung mengatakan akan merebutmu dariku, aku tidak bisa membiarkannya berfikir bisa merebutmu, aku tidak ingin itu benar-benar terjadi. Aku memang tidak tahu perasaanmu padaku, tapi sekarang kau sudah menjadi milikku dan aku ingin mempertahankanmu sebagai milikku, selamanya ...”
Sebenarnya, Han Yoonji juga mengerti perasaan itu. Junhoe hanya tidak tahu siapa yang ada dalam hati Yoonji sekarang.
Yoonji tidak bisa menahan air matanya lebih lama, dan karena itu dia sedikit berlari menghambur kedalam pelukan Junhoe. Menyembunyikan diri dibalik dadanya, Yoonji memeluk Junhoe sangat erat.
“Han Yoonji, apa kau ... a-apa kau menyukaiku? Apa yang sebenarnya kau rasakan padaku selama ini? Apa kau membenciku?”
“Pabo ... pabo ...” Yoonji melepaskan pelukannya dan memukul dada Junhoe pelan, dia menghapus air matanya dan menatap Junhoe. “Apa kau fikir aku mau menikah dengan orang yang aku benci? Kau fikir aku seperti itu? June, jika aku membencimu lalu untuk apa aku mau menikah denganmu?”
Junhoe terdiam, dia masih mencerna semua yang Yoonji katakan padanya. Apakah semua itu benar? Jika memang benar, berarti selama ini perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
“Tapi bagaimana dengan Jinhwan Hyung, bukankah kau menyukainya?”
“Eoh, aku memang menyukainya. Keundae June, apa kau tahu kalau perasaan suka itu bisa bosan dan menghilang?”
“Apa maksudmu?”
“Perasaanku pada Jinhwan Oppa sudah menghilang jauh sebelum kau datang dan tersenyum padaku, tapi kau berubah saat tahu aku menyukainya dan membuatku tidak bisa lepas dari Jinhwan Oppa. Aku menyukaimu June”
“Han Yoonji ...”
“June, aku menyukaimu ... bukan Kim Jinhwan”
Junhoe masih saja diam dengan itu, entah otaknya tidak mengerti atau dia sedikit lola, tapi sikapnya itu membuat Yoonji salah tingkah sekarang. Yoonji baru saja mengungkapkan perasaannya dan Junhoe hanya diam, ini benar-benar membuat Yoonji tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Yoonji menutup wajahnya dan menghadap dinding, dia harus menghindari tatapan Junhoe sekarang.
“Yoonji-ya, kau adalah milikku ... kau mengerti?”
Yoonji hanya mengangguk pelan, suara Junhoe yang dibisikkan tepat ditelinganya sangat lembut dan hampir terdengar seperti desahan, membuat Yoonji menegang untuk sesaat.
“Kau akan selamanya milikku, aku akan melakukan apapun untuk mempertahankanmu. Tidak peduli jika kau benar-benar membanciku, aku akan terus bersamamu ...”
Junhoe perlahan mendekat, dan dengan cepat sudah mempertemukan bibir mereka. Dia mengurung Yoonji dengan kedua tangannya di dinding itu, sepertinya Junhoe sungguh-sungguh dengan perkataannya itu.
Tapi Yoonji mendorong dada Junhoe pelan, melepaskan tempelan bibir mereka, membuat Junhoe kembali membuka matanya dan hanya menatap Yoonji.
“Wae?”
“June ...”
“Kau baru saja mengatakan kalau kau menyukaiku, apa kau tidak ingin menci_”
Yoonji mengapit pipi Junhoe dengan kedua tangannya, berjinjit dan memotong perkataannya dengan langsung menempelkan kembali bibir mereka.
“Kalau begitu, jangan berhenti mencintaiku dan terus genggam tanganku disampingmu. Aku akan menjadi milikmu, hanya untukmu”
Junhoe tersenyum. Sama sekali dia tidak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi, pengakuan mengejutkan yang membuat jantungnya berdebar kencang.
            ### -_- ###
Han Yoonji tersenyum, membuka matanya perlahan, melepaskan tangan Junhoe yang baru saja melingkar dipinggangnya.
“Bangunlah, aku harus bekerja ...”
Tapi tangan panjang itu malah kembali melingkar dan semakin erat memeluk tubuh Yoonji. Junhoe merapatkan tubuh mereka, memeluknya erat dari belakang.
“June lepaskan”
“Aku membuatmu bangun?” Junhoe berbisik pelan.
“Emh. Sejak kapan kau bangun? Apa kau juga melakukan sesuatu padaku tadi?”
“Bisakah hari ini kau tidak bekerja lagi?”
“Tidak bisa, aku harus mengurus semua pasienku, mereka sangat membutuhkanku”
“Aku juga membutuhkanmu”
“Tapi mereka membutuhkanku untuk bertahan hidup, jadi aku harus menolong mereka sekuat tenaga. Dan untukmu, mulai sekarang aku berjanji akan selalu ada untukmu”
“Jeongmal?”
“Yakseok. Jadi sekarang lepaskan aku, kau juga harus bekerja”
“Geurae ...” Junhoe melepaskan pelukannya.
Yoonji bangun dan merapikan rambut panjangnya untuk di ikat, tapi dia kembali berbaring karena Junhoe menariknya. Junhoe menahan Yoonji dengan tubuhnya.
“June!”
“Aku boleh bertanya?” Junhoe tersenyum setelah mengecup sekilas bibir Yoonji.
“Mwo?”
“Apa kau mencintaiku? Dan kenapa kau selalu dingin padaku? Kau tidak pernah memperhatikanku, kita hanya menjadi hangat saat suasana tidak terduga. Kau membenciku?”
“Aku sama sekali tidak membencimu, aku hanya tidak tahu bagaimana aku harus bersikap padamu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku, apa kau mencintaiku?”
“Eoh, saranghae” Junhoe menghentikan pembicaraan itu dengan bibirnya, dia kembali menempelkan bibir mereka. Morning kiss.
            -Fin-

SUPER JUNIOR