luhanay blog Follow Dash Owner

Monday, 12 January 2015

Do Kyungsoo





Saengil chukka hamnida uri oppa

Selamat tanggal 12 Januari

Lee Hyein berharap semoga Oppa panjang umur, sehat sentosa, dan bahagia selalu. Di berikan kehidupan yang baik dan di penuhi dengan cinta & kasih sayang.
Sebagai mantan EXO-L, Hyein selalu berharap yang terbaik untukmu Oppa, dan umumnya untuk EXO. Walaupun dengan angka sepuluh, tapi itu tidak akan bisa menghentikan kalian untuk bahagia dan berkarya.

The End





Tittle : The End
Genre : Romance
Length : Oneshot
Author : Cifcif Rakayzi
Main cast : Leo | D.O | Hyein





***
Mereka masih duduk dikursi taman itu, masih saling memandang, seperti beberapa jam yang lalu saat mereka baru datang. Dan sepertinya walaupun sudah beberapa jam mereka seperti itu, sama sekali tidak ada rasa bosan untuk saling memandang dan tersenyum.
“Hyein-ah, saranghae ..”
“Jeongmal?”
“Geuraeyo. Nan jeongmal saranghaeyo! Kau bagaikan sinar matahari yang memberiku kekuatan untuk tetap kuat dan tersenyum, aku hampa jika tanpamu. Jangan pernah tinggalkan aku untuk selamanya, ara?”
“Arasseo. Kau adalah Kyungsoo milikku, jangan pernah memberikan senyum-mu untuk siapapun kecuali aku ..”
“Geurae, I’m your man”
Senyuman manis kembali mekar diwajah namja itu, dia membelai lembut kepala yeoja didepannya. Dan perlahan mereka saling menempelkan bibirnya, meluapkan rasa cinta yang menggebu dalam hati. Tidak perduli ratusan mata yang memperhatikan mereka, rasanya dunia hanya milik berdua.
***
“Saranghae ...” ucap Lee Hyein sangat halus dan pelan hampir tidak terdengar saat dia perlahan membuka matanya. “Irreona ...” Leo tersenyum melihat kekasihnya itu bangun karena sentuhannya, ya .. leo mengusap kepala Hyein.
Tapi seperti ada sesuatu yang aneh, karena Hyein kaget kalau yang dilihatnya sekarang adalah Leo. Pria yang berbeda dengan yang dilihatnya dalam mimpi tadi.
“Kita sudah sampai. Lihatlah, laut sudah didepanmu” ucap Leo pelan saat memperhatikan pantai didepannya. “Geurae, aku memang suka pantai. Kajja kita keluar ..” Hyein dengan cepat mengalihkan perhatiannya dari mimpi tadi kembali pada pria disampingnya dan berusaha tidak terjadi apapun, termasuk untuk tidak memikirkan mimpi itu lagi.
Mereka sudah dipantai sekarang, seperti permintaan Hyein. Dan sepertinya tidak baik untuk lebih memikirkan mimpi itu daripada kekasihnya yang sudah jauh-jauh membawanya kesini. Karena Hyein yang meminta Leo kepantai.
“Aku tidak begitu menyukai pantai, disini membosankan” Leo hanya bergumam dingin saat berjalan menghampiri Hyein yang sudah berdiri ditepi pantai merasakan hembusan angin pantai yang menyegarkan. Hyein hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya, dia menggandeng tangan Leo dan menyandarkan kepalanya dipundak kekar Leo. “Kau harus mulai menyukai sesuatu, kau juga harus menyukai alam Oppa!” sudah jadi resiko berhadapan dengan sikap dingin Leo, karena ini pilihan Hyein saat memutuskan menjadi kekasihnya tiga bulan lalu.
“Menyukai sesuatu tanpa alasan akan terasa hambar dan sulit dimengerti” perkataan Leo masih tetap dingin dan terlihat memaksakan diri untuk melihat pantai, karena jika bukan permintaan Hyein maka Leo lebih memilih untuk rapat berjam-jam dengan direktur tua daripada berdiri dipantai seperti ini. Leo memang tipe orang yang suit dimengerti, tetapi tidak bagi Hyein. “Jeongmal? Kalau begitu aku mau mendengar alasanmu menjadi pacarku ..” Hyein melepaskan genggaman tangannya dari tangan Leo dan berpindah melingkarkan tangannya dipinggang Leo, menatap kedua matanya yang sipit dan tajam.
“Alasannya, karena aku ... menyukaimu” Leo sedikit terbata saat mengatakan hal yang memalukan menurutnya. Dia bukan pria yang mudah mengutarakan isi hatinya dengan perkataan ataupun tulisan, dia hanya akan memendam segala sesuatunya sendiri. Mendengar kata yang jarang atau hampir tidak pernah Leo ucapkan lagi selain saat meminta Hyein untuk menjadi pacarnya, Hyein tertawa dan menyembunyikan wajahnya dalam dada Leo yang bidang. “Wae?” seakan tahu kalau Leo menatapnya tajam, Hyein mengangkat wajahnya menatap kekasihnya itu.
“Kau menyukaiku? Coba katakan lagi, tadi aku tidak terlalu jelas mendengarnya!” Hyein berjinjit dan mengalungkan tangannya dileher Leo yang mendengus dan memalingkan wajahnya. “Tidak mudah untuk memilih sesuatu yang akan kita sukai ..” Leo memandang jauh riak ombak yang ada didepannya, dan itu seolah menjadi hiburan tersendiri saat Hyein melihat Leo yang menahan malu karena godaannya. Walaupun kadang Hyein juga tidak mengerti perkataan Leo, tapi Hyein tetap menyukai jika kekasihnya itu bicara. Mengingat Leo hanya bicara seperlunya pada orang lain, butuh kesabaran lebih memang untuk menghadapi seorang Leo.
“Kalau tidak mudah, lalu kenapa kau tiba-tiba datang dan mengatakan kau menyukaiku dulu? Padahal kita belum teralu kenal waktu itu ..” tapi Leo hanya diam tidak menjawab pertanyaan Hyein,  dia hanya menundukkan kepalanya dan tidak memperdulikan Hyein yang masih bergelayot (?) manja dibahunya. “Oppa, jawab aku. Ayolah katakan, aku mau mendengar alasanmu menyukaiku. Oppa .. Leo oppa!” akhirnya Leo perlahan mengangkat wajahnya, menatap Hyein. “aa-aku .. menyukaimu karena aku .. karena aku mencintaimu” Leo mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya dia membenamkan wajahnya dibahu Hyein, sungguh mengatakan ini sangat-sangat memalukan baginya.
Hyein mengusap lembut kedua pipi Leo yang sedikit bersemu merah, dia tahu kalau kekasihnya itu sekarang sedang menahan malu. Tapi Hyein sangat senang bisa mendengar itu dari mulut Leo, itu adalah keajaiban luar biasa untuk seorang Leo. “Oppa, tidak usah malu seperti itu jika kau memang mencintaiku. Aku akan selalu menyayangi dan mencintaimu. Kau adalah namjachingu-ku ..” Hyein tersenyum dengan masih mengapit wajah Leo dengan kedua tangannya. Perlahan Hyein semakin mendekatkan wajah mereka, triit .. triit .. tapi sayangnya kegiatan itu harus batal karena ponsel Leo yang berdering kencang mengagetkan keduanya. “Jung sajangniem, sepertinya kau sudah ditunggu sekretaris Choi” Hyein melepaskan Leo dan berjalan masuk kembali kedalam mobil, karena dia sudah tahu kalau telpon dari posel Leo adalah sekretaris Choi yang menyuruh Leo untuk segera bekerja.
“Ini bukan salahku, kau yang memaksa ikut perjalanan bisnisku ...” ucap Leo pelan yang masih bisa terdengar Hyein sebelum akhirnya Leo mengangkat ponselnya yang terus berdering. Hyein yang mendengar itu hanya tersenyum, ya .. ini memang keinginan Hyein untuk ikut dalam perjalanan bisnis Presdir Jung Taekwon atau Leo kekasihnya. Dan itu berarti juga kalau Hyein harus sudah siap menanggung resiko apapun yang terjadi, entah itu kesibukan Leo atau di acuhkan Leo.
Dan akhirnya, mereka pergi meninggalkan pantai. Leo harus segera berada di hotel untuk rapat kembali dengan rekan bisnisnya, dan juga membicarakan proyek kerja sama yang sekarang ini menjadi tujuan inti kedatangannya ke Pulau Jeju ini.
Dalam perjalanan, Hyein sesekali tersenyum kecil jika mengingat apa yang tadi dikatakan Leo padanya. Tentang dia mencintainya. Karena menurut Hyein, itu sangat menyenangkan.
“Apa senyumanmu itu berarti mentertawakan aku?” ucap Leo yang masih fokus mengemudi tanpa melihat Hyein sekilaspun. “Ya! Aku tidak begitu ... aku hanya menyukaimu, Jung Taekwon!” Hyein tersenyum melihat Leo yang masih saja tidak melihatnya, hanya melihat jalanan didepan dan menyetir. “Jangan memanggilku seperti itu! ... Awh ..” Hyein tiba-tiba mencubit pinggang Leo dan membuatnya meringis kesakitan.
“Ya!” Leo menatap Hyein dengan ujung matanya yang tajam, memberikan kesan menyeramkan kalau orang lain yang melihatnya. “Mian. Aku sangat tidak bisa menahan tanganku, itu karena pesonamu Sajangniem ..” Hyein tertawa, sementara Leo kembali memalingkan tatapannya pada jalanan yang padat didepan. Dia tidak lagi menghiraukan Hyein yang terus menggodanya.
“Sekretaris Choi bilang Oppa akan menandatangani proyek kerja sama dengan seorang teman, siapa dia?”
“Dia temanku”
“Aku tahu! Yang aku tanya siapa dia?” Hyein sedikit berteriak karena jawaban Leo sama sekali tidak seperti harapannya. “Dia seorang pria, tidak usah khawatir”
“Ya! Oppa lucu sekali ... Memangnya aku akan cemburu jika temanmu itu wanita, anigodeun!” Hyein tertawa melihat senyuman tipis di ujung bibir Leo. Sepertinya Leo bisa bercanda juga. Haha!
***
Sekarang ini sudah lebih dari tiga jam berlalu semenjak Leo dan Hyein sampai di hotel, dan Leo masih dalam rapat bersama rekan bisnisnya. Sementara Hyein hanya menunggu sendiri di kamar Leo, karena dia tidak ingin menunggu di kamarnya sendiri.
“Kenapa kau disini?” akhirnya Leo datang, dia berjalan menghampiri Hyein yang berdiri didepan jendela melihat pemandangan diluar. “Aku menunggumu!” Hyein membantu Leo melepaskan jas nya dan duduk diujung ranjang.
“Apa kau belum ke kamarmu?” Leo mengabil segelas air di meja dan meminumnya sambil menatap Hyein didepannya. “Aku sudah kesana, hanya saja aku ingin menunggumu disini. Ayo jalan-jalan, aku bosan ...” Hyein menghampiri Leo dan memelas padanya dengan manja. “Kemana?” Leo hanya menjawabnya malas. “Kemana saja, namanya juga jalan-jalan. Ayo cepat ganti bajumu dan kita pergi!” Hyein membuka koper dan mengambilkan Leo sebuah kaos biasa. “Aku tunggu diluar, cepatlah!” Hyein akhirnya keluar.
Hyein terdiam, dia mematung, aliran darah di tubuhnya seolah membeku dan membuat semua anggota tubuhnya tidak bisa bergerak (alah lebay bingits). Kedua matanya tidak lepas menatap sebuah manik mata yang tidak asing baginya, mata bulat yang besar dan ekspresi itu kembali.
“Hyein-ah ...” seorang namja berjalan menghampirinya. “Oop-oppa?” Hyein masih sangat kaget bisa bertemu kembali dengannya, dia adalah pria dalam mimpinya tadi. “Aih, sudah lama yah kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?” Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya dihadapan Hyein.
“Eoh Presdir Do, kau disini?” Leo keluar dari kamar, dan membuat Hyein semakin tidak bisa bergerak rasanya. “Ne, aku tadi akan ke kamarku” presdir Do tersenyum menunjuk dengan telunjuknya.
Leo melihat Hyein dan menggandenganya. “Hyein-ah, ini Presdir Do Kyungsoo. Temanku yang tadi kau tanya akan bekerja sama denganku, dan Presdir Do, ini Lee Hyein”
“Aku sudah tahu, kita sudah saling mengenal. Kami adalah teman lama, bukan begitu Hyein-sshi?” pria bernama Do Kyungsoo itu tersenyum lagi melihat Hyein yang hanya diam. “Ya, aku kira juga seperti itu. Kalian satu kampus sebelum kau lulus dulu, jadi setidaknya kalian saling mengenal ..”
“Kita semua satu kampus, sangat menyenangkan. Dan juga, sekarang kalian sudah pacaran. Sepertinya dunia ini sangat sempit, bukan begitu Hyein-sshi?” Kyungsoo menatap Hyein dan membuat dia sadar dari lamunannya. Mengagetkan. “Ne? Ah benar ...” Hyein tersenyum kecil. “Dulu kami ini sangat dekat, sampai kami bisa tidur bersama. Tapi tiba-tiba Hyein pergi meninggalkanku begitu saja, dan sejak itu aku tidak bertemu lagi dengannya sampai akhirnya aku lulus bersamamu. Benar-benar masa yang menyenangkan, Hyein-sshi ...”
Leo tersenyum, sebenarnya dia mengerti situasi apa yang terjadi sekarang ini. Dia sudah mengetahuinya. “Sepertinya kalian sangat dekat, haruskah aku mewaspadaimu sekarang?” Leo dan Kyungsoo tertawa sementara Hyein masih saja diam dan menunduk. “Itu lucu Presdir Jung, kau harus melakukannya. Dan sekarang sepertinya aku harus pergi, apa kalian juga akan pergi?”
“Ne, kami akan keluar sebentar. Kalau begitu sampai jumpa besok pagi untuk rapat”
“Geuraae. Annyeonghaseyo Presdir Jung wa Hyein-sshi” akhirnya Kyungsoo kembali berjalan dan pergi.
“Kita juga harus pergi, bukankah kau ingin jalan-jalan” Leo menggadeng tangan Hyein dan mereka berdua juga pergi.
Tapi, jalan-jalan yang tadinya akan menyenangkan dalam pikiran Hyein berubah. Hyein hanya banyak diam mendadak tidak seriang biasanya, sehingga jalan-jalan mereka penuh dengan diam. Kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana disana, Leo yang hanya bicara ‘ya’ dan ‘tidak’ saat ditanya dan Hyein yang menjadi pendiam.
Sebenarnya ini tidak diharapkan, itu tiba-tiba saja. Siapa yang menyangka Hyein akan bertemu lagi dengan Do Kyungsoo, mantan pacarnya. Sebelum dia dengan Leo, Hyein adalah pacar Kyungsoo dan hubungan mereka berakhir begitu saja karena Hyein memutuskan untuk mengakhiri semuanya tiba-tiba.
***
Hyein membuka matanya, sepertinya dia masih berat untuk beranjak dari ranjangnya. Semalaman tadi dia tidak tidur dan hanya menangis, membuat kedua matanya bengkak sekarang.
Tingtong tingtong ... Suara bell dari luar memaksa Hyein untuk bangun, dan akhirnya dia berjalan membuka pintu.
“Oppa?” betapa terkejutnya Hyein sekarang melihat seorang namja yang berdiri di hadapannya, sampai dia hanya tidak bisa menyembunyikan mata elangnya menatap namja itu.
“Annyeong Hyein-ah, apa kau sudah mandi? Ini sudah siang, kenapa kau masih memakai baju seperti itu. Heiy ... ada apa dengan matamu, apa kau menangis?” Do Kyungsoo mendekatkan wajahnya memperhatikan mata Hyein yang bengkak. “Apa yang kau lakukan?” Hyein sedikit berjalan menjauh dari Kyungsoo. “Aku hanya ingin mengunjungi teman lamaku ini di pagi hari, kemarilah ..” Kyungsoo begitu saja masuk kedalam dan duduk di sofa itu. ini terlalu mengejutkan.
“... sse-seharusnya kau tidak lancang datang kemari ...” dengan suara yang sedikit bergetar, Hyein memberanikan diri mendekati Kyungsoo yang sudah duduk dan menatapnya penuh perasaan di sofa. “Apakah dengan putusnya hubungan kita maka berakhir pula ingatan kau dan aku, dan apa itu artinya kita tidak bisa berteman?”
“aa-anio, bukan seperti itu maksudku__”
“Hajima Hyein-ah! Aku sangat merindukanmu ... “ dan dengan sangat tiba-tiba sekali, Kyungsoo beranjak lalu memeluk Hyein. Menimbulkan suatu perasaan yang sangat menyakitkan untuk Hyein. Entahlah.
“Apa yang kau lakukan, lepaskan!”  dalam pelukan tubuh yang tidak se-kekar tubuh Leo, Hyein meronta berusaha untuk melepaskannya, tapi ternyata Kyungsoo lebih kuat daripadanya. “Aku hanya merindukanmu, ini sudah hampir dua tahun kau meninggalkan aku. Dan sebenarnya aku masih sangat marah padamu, kau tahu?”
“Dengar Oppa, hubungan kita sudah berakhir dan tidak seharusnya kau melakukan ini padaku. Jadi cepat lepaskan tanganmu dari tubuhku!”
“Yah, itu benar. Hubungan kita sudah berakhir, dan itu semua karena kau Chagiya ...” pelukan Kyungsoo mulai melemah dan memebuat Hyein akhirnya lepas dari pelukan itu. “Aku mohon pergilah dari sini, Kyungsoo Oppa” Hyein memberikan tatapan yang seolah berarti ‘pintunya sudah terbuka disana, silahkan pergi’. Tapi Kyungsoo hanya terdiam.
“Apa kau masih ingat dulu kau selalu mengatakan kalau aku adalah pria-mu, dan kau sangat mencintaiku, lalu kenapa tiba-tiba kau pergi mengakhiri semuanya?”
“Mianhae Oppa, hubungan kita sudah berakhir”
“Arraseo, kau sudah bukan yeojachingu-ku lagi. Kau miliknya sekarang. Tapi tolong katakan padaku apa salahku sampai kau pergi dariku?”
“Kau tidak salah Oppa, tidak ada yang bersalah dan di salahkan antara kita. Ini seperti perasaan yang entah apa, membuatku untuk pergi darimu ..”
“Aku tahu ini bukan karena Leo, dan berarti itu karena aku atau karenamu, benarkan?”
“Oppa, setahun kita bersama aku selalu mencintaimu, aku menyayangimu, dan aku selalu ingin yang terbaik untukmu. Tapi entah kenapa aku seperti merasa kau berubah, seperti kalau perasaanku padamu tidak berarti untukmu. Kau hanya sibuk dengan dirimu sendiri, kau hanya melakukan apa yang kau inginkan tanpa peduli bagaimana orang melihatmu. Padahal selama ini aku selalu bicara padamu bagaimana seharusnya kau melakukan sesuatu, apa akibatnya dan apa keuntungannya untukmu dan orang lain. Dan sepertinya, kau tidak lagi mendengarkanku, kau tidak membutuhkanku lagi .. Oppa” ucapan panjang lebar Hyein berhenti, akhirnya. Dan itu karena sebenarnya Hyein sudah tidak bisa menahan lagi rasa tekanan dalam hatinya, dia ingin menangis.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu? Selama ini aku selalu mendengarkanmu, aku selalu ingin kau mengaturku. Aku tidak berubah seperti yang kau katakan ..”
“mm-mungkin kau tidak akan merasakannya, dan hanya aku yang merasakannya. Aku yang tahu kau berubah, Oppa!”
“Hyein-ah, dengarkan aku. Lepas dari perasaan itu, aku minta maaf. Mungkin benar kalau aku berubah, tapi maafkan aku karena sudah membuatmu merasa seperti itu ..”
“Ani Oppa, kau tidak perlu minta maaf padaku. Itu bukan suatu kesalahan, aku mengerti pikiranmu, aku mengerti dirimu. Dan alasanku untuk memilih pergi darimu adalah karena aku sudah bosan bersama denganmu__”
“Tidak perlu berbohong dan menyakiti hatimu, jebal ...”
“Aku bicara yang sebenarnya, Oppa. Aku sudah mencoba untuk tetap bersamamu, merasa kalau kau membutuhkanku, tapi ternyata itu tidak ada gunanya Oppa, kau benar-benar sudah berubah. Dan aku semakin yakin kalau aku sudah bosan padamu, aku merasa lelah berdiri di sampingmu. Kau sudah semakin dewasa dan aku yakin kau berubah untuk menentukan pilihan terbaik bagi hidupmu, aku mengerti. Jadi lebih baik jika hubungan antara kita berakhir ...” Hyein akhirnya tidak bisa menahan tangisannya, dan sekarang dia terduduk dan menangis.
“Tidak Hyein-ah, kaulah pilihan untuk hidupku, aku yakin itu!”
“... hiks hiks .. Ani Oppa ..”
“Sungguh ini begitu membuatku tidak bisa berbuat apapun, aku mencintamu Hyein-ah” Kyungsoo memalingkan wajahnya dari Hyein, dia berdiri memandang jauh keluar jendela yang menghadap  laut itu. “Dan apa kau tahu, setelah kau pergi aku selalu berusaha untuk meyakinkan diriku kalau ini hanya mimpi, kau akan kembali padaku. Tapi hari demi hari kau terus menghilang dariku, setahun aku menunggumu yang tidak pernah kembali, dan akhirnya aku sadar kalau kau benar-benar pergi dari hidupku. Aku tidak tahu kenapa kau pergi, tapi aku juga tidak bisa menolak kepergianmu saat itu, karena hatiku terlalu sakit mendengarnya. Aku mohon kemebalilah padaku ...” ternyata alasan Kyungsoo memalingkan wajahnya adalah karena dia sendiri juga tidak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar dan membasahi kedua pipinya.
“Oppa mianhae ...”
“Aku juga .. aak-aku sangat minta maaf padamu. Aku tidak tahu siapa yang tersakiti disini, tapi aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kau bahagia denganya?”
“Aku mencintaimu Oppa”
“Apa kau juga mencintainya?”
“Maafkan aku ..”
“... Baiklah, aku mengerti. Kita sudah berakhir. Mungkin setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi, kau harus bahagia. Tapi aku mohon biarkan aku untuk tetap mencintaimu, biarkan aku untuk menyimpanmu dalam hatiku sebagai kenangan yang terindah. Saranghae ... Hyein-ah” Kyungsoo berjalan pergi meninggalkan Hyein. Dia akhirnya pergi.
***
Hyein berjalan perlahan, dia berusaha tersenyum semaksimal mungkin. Anggaplah semua itu hanya mimpi buruk yang akan cepat menghilang.
“Dimana Sajangniem?” Hyein mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar hotel Leo, tapi dia hanya menemukan Sekretaris Choi yang sedang mencari sesuatu di meja. “Sajangniem sedang rapat, mungkin sekitar sepuluh menit lagi selesai. Tunggulah disini, aku harus pergi” Sekretaris Choi kembali pergi.
Hyein hanya berdiri, tidak melakukan apapun. Melihat benda ini dan itu, lalu berjalan kesana kemari dan akhirnya duduk. Lalu berjalan lagi dan duduk lagi dan berjalan lagi.
“Eoh kau disini ...” Leo tersenyum melihat Hyein yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya, dia juga tersenyum. Hyein memeluk Leo.
“Waeyo?”
“Nan molla. Sepertinya aku harus pulang, Oppa ..”
“Apa sesuatu sudah terjadi?”
“Geurae. Sesuatu telah terjadi, dan aku tidak bisa disini. Mianhae”
“Gwaenchanha. Bicaralah padaku jika kau ingin, dan aku akan pesankan tiket pesawat penerbangan hari ini untukmu”
“Apa kau tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu disini?”
“Ya! Pergilah saja”
Hyein tersenyum dan memukul dada Leo saat mendengar jawabannya, itu lucu. Leo dengan begitu saja membiarkan Hyein pulang tanpa tahu ada apa dan kenapa.
“Wae?” Leo mengeluarkan tatapan ‘gila’ nya untuk membalas senyuman Hyein. “Anio. Aku hanya lelah, boleh aku tidur denganmu, Sajangniem?” Hyein berkedip dan menunjuk ranjang. “Geurae. Tidurlah denganku sebelum kau pergi ..” Leo mengangkat dan menggendong Hyein menuju ranjang, dan akhirnya mereka berdua berbaring disana. (?)
“Kenapa kau tiba-tiba pulang?”
“Aku lelah di acuhkan dan ditinggal sendirian oleh Jung Sajangniem”
“Itu bukan alasanmu yang sebenarnya”
“Ommo! Kau tahu Oppa? Daebak. Kau benar-benar diluar dugaan ..”
“Sekretaris Choi juga tahu jika itu bohong, babo!”
“Mianhae Oppa, ada sesuatu yang sudah terjadi disini. Aku tidak tahu harus bagaiamana, dan yang bisa aku lakukan hanya pergi dari sini. Aku tidak suka lagi disini ...”
“Wae?” saat Leo mengalihkan tatapannya pada Hyein dalam pelukannya, ternyata Hyein sudah memejamkan matanya. Dan akhirnya mereka bersama tidur.
Beberapa jam kemudian,
Sekretaris Choi sudah datang, hari sudah mulai gelap karena matahari sudah pergi sekarang. Matahari pulang.
“Sajangniem, ini tiket yang kau pesan”
“Ne, gamsahamnida. Dan kau tidak usah antarkan Hyein kebandara, karena kita harus segera melihat lokasi proyek baru itu ...”
“Jinjja? Lalu aku pergi dengan siapa?” Hyein yang masih duduk di ranjang beranjak dan berdiri di hadapan Leo dengan tatapan marah.
“Kebetulan sekali karena Presdir Do juga akan pulang ke Seoul sekarang, kau bisa berangkat bersama dengannya. Eottae?”
Hyein terdiam. Bukankah dia pulang untuk menghindari namja bermarga Do itu, lalu kenapa dia harus pulang bersama dengannya? Ini sangat tidak menyenangkan.
“Pergi bersamanya?” Hyein kembali duduk di ranjang dan melihat Sekretaris Choi seolah memohon bantuan.
“Kalian teman lama kan ..”
“Tidak usah, aku akan pergi sendiri saja. Kalau begitu selamat bekerja Oppa, aku menunggumu saat kau selesai disini. Jangan lupa!” Hyein merapikan dirinya dan bersiap, karena semua barangnya sudah disiapkan Sekretaris Choi. Hyein tersenyum dan mencium pipi Leo cepat sebelum dia pergi membawa kopernya dan meninggalkan mereka.
Beberapa menit setelah itu,
Hyein masih berdiri sendirian di pinggir jalan, itu masih tidak terlalu jauh dari Hotel tadi. Karena taxi tidak kunjung lewat satu pun, Hyein menangis. Ah ukan hanya itu alasan satu-satunya, ini semua adalah karena namja ermarga Do itu.
Titt titt ... suara klakson mobil itu membuat Hyein mengangkat wajahnya dan menatap mobil yang sekarang ada di hadapannya itu. “Lee Agashi, masuklah ...” Dan itu adalah namja itu. Menyebalkan.
Kyungsoo membuka pintu mobilnya dan tersenyum pada Hyein yang memalingkan wajahnya dan masih berdiri diam tidak menjawab. “Kau juga akan pulang kan? Ayolah, aku tidak akan menggigitmu ..” tapi Hyein masih mengacuhkan namja itu. “Lee Hyein, berhenti bersikap seperti itu. Aku hanya mengajakmu, kau juga tahu Leo yang menyuruhku. Jadi jangan jadikan suasana antara kita semakin memburuk__”
Ponsel Hyein tiba-tiba berbunyi dan itu telpon dari Leo. “Itu pasti dia, sekarang ayolah cepat masuk agar kita cepat berpisah lagi, jika itu yang kau mau ..” tanpa menjawab telpon itu, akhirnya Hyein dengan sangat terpaksa masuk kedalam mobil. Dan mereka pergi.
Seperti apa yang di katakan Kyungsoo, lebih cepat berjalan maka mereka lebih cepat juga berpisah. Mereka hanya bersama sampai di depan airport, setelah itu keduanya berjalan masing-masing.
***
Hyein membuka pintu dan terkejut melihat karangan bunga yang besar di hadapannya. “Apa kau Lee Hyein?” seorang kurir yang membawa karangan bunga itu bertanya dan mengalihkan pandangan Hyein dari bunga-bunga itu. “Ne, apa ini sebuah hadiah?” Hyein menunjuk karangan bunga besar. “Ne, ini untuk Lee Hyein Agashi. Tolong tanda tangan disini ..” kurir itu memberikan sebuah buku kecil dan langsung di tandatangani Hyein. “Gamsahamnida” Hyein memberi salam saat kurir itu pergi meninggalkannya dengan karangan bunga yang besar ini.
Hyein berjalan mengelilinginya, berharap ada selembar kertas yang memberi tahu siapa pengirim bunga ini. “Leo Oppa tidak mungkin memberikan ini padaku, dia tahu aku tidak suka bunga. Lalu siapa yang___ Ah itu, ini dia ...” akhirnya Hyein menemukan sebuah kartu kecil di sela-sela bunga itu.
Hyein tersenyum kecil sebelum akhirnya dia menangis karena membaca surat itu. dia meremasnya, memasukkan kartu itu kemali kedalam karangan bunga dan menyeret nya keluar dari halam rumahnya.
Hyein berlari masuk ke kamarnya dan menangis. Dia menangis lagi karena namja bermarga Do itu.
Kenapa Hyein banyak menangis, emm pasti kalian tahu dan mengerti kenapa. Tapi bukan karena author ingin membuat cerita haru yang padahal tidak sedih sama sekali, tangisan disini hanya sebagai latar suasana saja. Author juga tahu kalau FF ini tidak bagus dan tidak bisa di mengerti. Tapi lanjtkan sajalah membaca ya ..

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Annyeong Chagiya,
Kau tahu tanggal berapa hari ini? Ya, memang benar sekarang tanggal 12 Januari. Tapi apa kau ingat hari apa jika tanggal 12 Januari? Ini adalah hari ulang tahunku, yang ke-22 Chagiya. Apa kau lupa? Atau sengaja melupakannya?
Dan apa kau tahu juga hari apa ini? Ini adalah tanggal saat kau memutuskan untuk berpisah denganku. Kau pergi dariku, tepat sudah dua tahun lalu. Kau merindukanku?
Aku tahu kau akan marah dan bicara untuk apa kau mengirim ini padaku? dengan kedua tangan di pinggang dan mata yang kau besarkan agar mirip denganku. Tapi aku hanya ingin mencoba romantis seperti namja lain pada yeojachingunya, walau kau bukan yeojachinguku. Aku juga tahu kau tidak suka bunga, tapi ayolah untuk kali ini saja terima bunga dariku. Terserah akhirnya kau ingin buang atau injak-injak, tapi setidaknya kau melihatnya dulu.
Chagiya, maafkan aku membuatmu kembali melihatku dan memuat hatimu kembali sakit. Tapi sepertinya takdir ingin kita kembali bertemu. Maafkan aku. Aku janji akan pergi darimu untuk selamanya.
Sepertinya tulisanku sudah terlalu panjang, jadi kalau begitu aku harus mengakhirinya.
Selamat tanggal 12 Januari, Chagiya.
Saranghae
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Padahal hanya itu yang di tulis Kyungsoo dalam kartu kecilnya, tapi sepertinya itu berhasil membuat Hyein tidak berhenti menangis dan menatap foto namja Do.
Hari senin ini adalah tanggal 12 Januari, tepat sekali dengan ulang tahun Do Kyungsoo dan hari dimana Hyein resmi menyatakan putus dengannya.
Tidak terasa juga sudah setahun mereka berpisah, dan sekarang ada rasa rindu yang Hyein rasakan. Hyein merindukan namja Do itu.
Hyein melihat pantulan tubuhnya yang sudah rapi di cermin, dia sedikit memijat kedua matanya yang sembab sebelum akhirnya dia memakai kaca mata hitam yang dari tadi dia pegang. Hyein pergi.
Walaupun sebenarnya dia tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan sekarang ini, tapi Hyein masih menyetir mobilnya dan mempercepat laju mobil itu agar dia cepat sampai di tempat tujuan.
Ckiiit ...  Mobil Hyein berhenti setelah melihat telpon dari Leo, dia mengangkatnya setelah menarik nafas panjang. Karena sepertinya Leo tahu Hyein mau kemana sekarang.
-----
Hyein  : Yeoboseyo ..
Leo      : Mian. Aku tidak bisa pulang sekarang, disini ada masalah dan sepertinya aku harus
              disini sampai dua atau tiga hari ke depan
Hyein  : Ne, gwaenchanha. Bereskan semua pekerjaanmu agar tidak ada masalah lagi, aku
              akan menunggumu disini
Leo      : Saranghae.
Hyein terdiam mendengar kata yang terakhir Leo ucapkan sebelum menutup telponnya, mendengar kata itu membuat hatinya bergetar. Mengingat sekarang pikiran dan sebagian hati Hyein sedang tertuju pada Kyungsoo yang berhasil membuatnya ‘kembali’.
Setelah beberapa lama terdiam, Hyein akhirnya kembali memutuskan untuk pergi ke tempat tujuannya tadi.
Agar supaya cepat, anggaplah Hyein sudah sampai di tempat tujuannya itu. Sebuah rumah berwarna biru-putih yang masih seperti terakhir kali dia melihatnya, rumah itu tidak berubah. Hyein masih berdiri di samping mobilnya, menatap rumah itu. Dan perlahan Hyein melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu gerbang rumah itu, tangannya membuka gerbang itu pelan sekali.
Tapi, tiba-tiba seseorang keluar dari pintu rumah itu setelah Hyein berada di halamannya yang tidak jauh dari pintu. Mereka bertatapan, terdiam, dan hati yang berdebar semakin kencnang.
“Hyein?”
“Oppa ....”
“kka-kau kesini untuk__” perlahan Kyungsoo berjalan mendekati Hyein. “Geurae Oppa, aku kesini untukmu ...” Hyein juga berjalan memperpendek jarak mereka. Sampai akhirnya sekarang jarak antara mereka hanya beberapa lagkah lagi, Hyein membuka kaca matanya dan menunjukkan kedua matanya yang sembab sudah kembali berurai air mata. Hyein tersenyum, dia berlari dengan cepat dan berhenti di pelukan Kyungsoo.
“Hyein-ah ..” Kyungsoo masih tidak mengerti apa yang terjadi sekarang, sementara Hyein terus memper-erat pelukannya. “Oppa mianhae, aku gila karena bilang tidak mencintaimu ..” Astaga! Akhirnya kata-kata ‘keramat’ itu terucap. Kyungsoo tersenyum dan membalas pelukan Hyein, dia sudah mengerti. “Saranghae!”
Masalah yang membuat Leo harus pulang terlambat sepertinya adalah takdir, karena mungkin jika dia disini dan melihat mereka, pasti akan sangat tidak enak.
Sekarang mereka hanya duduk melihat televisi yang sedang menyala, juga seperti lem, Hyein tidak jauh-jauh dari pelukan Kyungsoo. Mereka sepertinya benar benar kembali bersama.
“Oppa, apa kau tahu kalau setelah aku pergi darimu aku kadang merindukanmu. Tapi aku juga membencimu, karena semua barang-barangku bertuliskan namamu ..”
“Jinjja?”
“Ne. Setiap barang yang aku ambil ataupun dinding yang aku lihat, pasti ada namamu disana. Buku-buku kuliahku sepertinya tidak ada yang bersih dari namamu, celana bertuliskan namamu, sprei dengan hiasan namamu, bahkan dinding di kamar, di dapur, di ruang tamu, di kamar mandi, dan dinding di luar rumahpun bertuliskan namamu. Kau membuatku gila!”
“Astaga. Sepertinya kau benar-benar mencintaiku yah Ny.Do?”
“Ya! Siapa yang kau panggil seperti itu hah?” Hyein memukul tangan dan dada Kyungsoo, membuatnya tersenyum walau meringis kesakitan.
“Aku selalu bertanya kenapa aku menulis namamu disetiap tempat, padahal kau ini namja yang lembut seperti yeoja”
“Ya! Apa yang kau katakan hah? Aku ini seorang namja, dan akan tetap menjadi namja. Walaupun aku cinta kerapian dan sering memasak , tapi aku tetap namja yang lengkap dengan junior. Kau mau lihat?”
“Hei ... jangan membuat aku kembali pergi dari sini, diamlah!”
“Berhentilah menyebutku seperti itu, aku ini seorang pria sejati. Kalau kau terus seperti itu, aku tidak bisa menjamin kalau kau akan selamat dariku”
“Apa maksudmu?”
“Karena kau selalu bicara kalau aku seperti wanita, tidak ada cara lain untuk membuktikan kalau aku ini namja selain menyerangmu. Kau harus berjaga-jaga jika suatu hari nanti aku__”
“Ya! Kalau begitu aku pergi sekarang” Hyein mendorong badan Kyungsoo dari sampingnya dan beranjak pergi. Perkataan Kyungsoo menggila. “Chamkkamanyo, ah ayolah jangan pergi. Mian mian, aku akan jadi namja baik ..” dengan cepat Kyungsoo menarik dan menahan tangan Hyein. “Jangan perah pergi lagi dariku ..” tambah Kyungsoo sebelum akhirnya mereka menghilangkan jarak antara mereka dan menyatu. Istilah kerennya, berpatukan.
***
Tidak ada lagi air mata yang keluar dari Hyein sekarang, karena dia selalu tertawa di samping Kyungsoo sekarang. Entahlah, walaupun tidka tahu hubungan apa yang terjadi antara mereka ini, tapi memang ini yang sedang terjadi disini sekarang antara mereka.
Setelah kemari kata keramat itu terucap, hari ini juga Hyein bersiap untuk pegi dengan Kyungsoo. Dan itu dia, suara klakson sudah berbunyi dari luar. Hyein dengan segera melangkah keluar dan membuka pintu.
“Oppa?” Tapi sayangnya kenyataan ini terjadi, yang datang adalah Leo dan bukan Kyungsoo. “Kau tidak senang melihatku?”
“Oppa sudah pulang, sepertinya masalah disana cepat selesai ...”
“Kau tidak marah?”
“Kenapa marah?”
“Lalu kenapa kau tidak menjawabtelpon semua pesan yang aku kirim jika kau tidak marah”
“Kenapa harus marah, aku mengerti pekerjaanmu disana. Lagipula kau hanya telat beberapa hari kan”
“Aku telat hampir dua minggu, jadi hadiahmu sedikit rusak. Mian” Leo menyerahkan beberapa kotak coklat pada Hyein yang sekarang sedang berfikir, Hyein mengingat kembali waktu yang sudah berlalu.
Dua minggu? Mungkinkah selama itu, padahal rasanya baru kemarin dia kembali dari Pulau Jeju. Asataga!
“Gwaenchanha, ini masih baik dan terlihat sangat enak. Gomawoyo ..” Hyein berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa selama ini, dia harus sadar bahwa kenyataannya dia sudah berselingkuh dan melupakan namjachingunya ini.
“Aku harus kembali ke kantor, jadwalku padat. Mungkin lusa aku bisa bersamamu, aku pergi” Leo mengecup pelan pipi Hyein sebelum dia kembali pergi dengan mobilnya.
“Annyeong Chagi ...” Dan dengan sangat tiba-tiba, Kyungsoo sudah ada di hadapan Hyein. “Oop-oppa sejak kapan kau disini?” Hyein langsung mundur beberapa langkah menjauh darinya.
“Apa kau tidak melihatku berjalan kesini tadi?”
“Anio. Aku tadi melamun, mian”
“Kau sudah siap, kalau begitu ayo kita pergi. Aku tidak punya banyak waktu sekarang, nanti aku harus lembur!”
“Ne, kajja ..”
Seperti janji mereka tadi, mereka pergi untuk makan siang bersama sekarang. Tapi sayangnya Hyein masih tidak bisa percaya kalau ini sudah hampir dua minggu. Sepertinya Hyein baru sadar kalau dia bukan seorang yeoja tanpa pemilik, tapi dia adalah yeoja yang sudah mempunyai namja sebagai pemiliknya sekarang ini.
Perjalanan mereka hanya diam, Hyein tidak bicara apapun seperti biasanya. Kyungsoo juga hanya menyetir dan sesekali melihat Hyein yang memandang keluar kaca mobil. Sebenarnya Kyungsoo juga tahu yang terjadi, dia ada disana tadi.
Sekarang mereka masih menunggu makanan yang mereka pesan tadi, dan saat ini juga mereka masih tidak banyak bicara. Akhirnya, makanan mereka datang. Dan Hyein melihat beberapa orang masuk dengan Leo yang berjalan paling akhir, sungguh itu Leo. Rasanya Hyein berhenti bernafas dengan suasana ini.
“Kenapa kau tidak memakannya?”
“Eoh? Mworageo?” Mata Hyein baru kembali melihat Kyungsoo yang sedang melihatnya dan bertanya, tapi Hyein tidak tahu harus apa karena Leo melihat mereka.
“Kau lihat apa?” Rasanya waktu menjadi lambat. Kyungsoo berbalik dan melihat ke arah tatapan Hyein, tapi dengan cepat Leo berbalik. “Apa yang kau lihat?”
“Aanio. Aku hanya sedang berdoa, bukankah kita harus berdoa sebelum makan?”
“Geurae, kau benar. Ayo makan”
Hyein tidak mengerti kenapa Leo berbalik dan tidak ingin Kyungsoo melihatnya, kenapa dia tidak marah ataupun melakukan sesuatu. Tapi Leo hanya menatap Hyein dan kembali bersama beberapa orang yang datang bersamanya.
***
Malam ini Hyein kembali ‘menggila’ karena kejadian siang tadi. Dia memikirkan sikap Leo yang seolah tidak marah dan malah memberikannya kesempatan, padahal bukankah seharusnya seorang namja akan marah jika melihat yeojachingu-nya bersama pria lain. Ditambah kalau dia tahu kalau itu adalah mantan pacarnya, tapi untungnya Hyein tidak tahu kalau Leo tahu tentang itu.
Saat jari Hyein hampir menekan layar ponselnya untuk menelpon Leo, panggilan dari Leo sudah lebih dulu datang ke ponselnya.
            -----
Leo      : Yeoboseyo
Hyein  : Oppa ..
Leo      : Hyein-ah__
Hyein  : Oppa mianhae
Leo      : Gwaenchanha? Kau jangan menangis. Aku sedang lembur jadi menelponmu, kita
              bisa bertemu besok. Aku harus bicara denganmu
Hyein  : Oppa apa kau marah padaku?
Leo      : Ani. Aku tidak apa-apa, sampai besok.
            -----
Leo menutup telponnya lebih dulu, sepertinya dia marah. Dan ini adalah kesalahan Hyein yang tidak bisa mengatur perasaan hatinya.
Ponsel Hyein kembali bergetar, dan sekarang adalah panggilan dari Kyungsoo. Hyein mengangkatnya, dan mereka terus bicara sampai akhirnya Hyein tidur.
Langit malam sudah berubah menjadi terang, ada matahari yang seolah tersenyum menyabut padi. Hyein bangun, dia menatap foto yang terpajang di dinding. Disana dia tersenyum disamping Leo yang tidak ber-ekspresi. Seperti biasa.
Hyein sudah tidka sabar, dia segera bersiap dan pergi untuk menemui Leo dan menjelaskan semuanya. Walaupun Leo sudah menyuruh Hyein untuk menunggunya, tapi sepertinya Hyein tidak bisa menunggu. Dia datang ke kantor.
“Keunda Agashi, Sajangniem sedang ada tamu. Tunggulah sebentar lagi”
“Andwae! Aku tidak bisa menunggu, aku harus bicara dengannya sekarang”
“Agashi ..” Sekretaris Choi masih mencoba menahan Hyein agar tidak masuk dan mengganggu Leo yang sedang bersama seseorang di ruangannya.
“Apa tamunya penting?”
“Mereka sedang rapat, tapi itu adalah teman lamanya__”
“Aku harus masuk!”
“Lee Hyein Agashi!” Sekretaris Choi tidak bisa menahan Hyein lebih lama lagi, akhirnya Hyein masuk kedalam ruangan Leo.
Leo dan Kyungsoo kaget melihat Hyein yang masuk tiba-tiba, begitu juga Hyein yang kaget melihat mereka berdua disini. Hatinya berdebar kencang.
“Hyein-ah?”
“Sepertinya kita lanjutkan ini lain kali, annyeonghaseyo” Kyungsoo beranjak dan berjalan melewati Hyein yang masih berdiri, pergi meninggalkan mereka berdua.
“Oppa ..”
“Kenapa kau kesini?”
“aa-aku .. aku ingin memberitahumu kalau sebenarnya ... aku dan Do Kyungsoo per-nah .. kami dulu pernah bersama bukan sebagai teman, tapi kami__”
“Hyein-ah ...” Leo beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Hyein yang sekarang terdiam dan menangis. “Aku sudah tahu”
“Oppa?”
“Sebelum hubungan kita, aku sudah mengetahuinya. Kita bertiga satu kampus dan dia temanku. Saat aku menelpon dan bilang akan pulang terlambat, sebenarnya karena aku tahu kalau kau ingin bersamanya kembali. Aku pulang sebelum karangan bunga itu datang”
Hyein terduduk lemas, dia tidak berkata apapun selain menangis. “oop-oppa hiks hiks .. jeongmal mianhae. Ak-aku .. aku sudah membuatmu marah .. Oppa miahae .. hiks hiks”
Leo perlahan dan membantu Hyein berdiri, dia memeluknya. “Aku mencintaimu, dan aku sudah tahu semuanya. gwaenchanha, ullijima. Aku tidak marah karena aku mengerti perasaanmu, kau mencintainya. Jika kau ingin bersamanya, silahkan”
“Oppa, aku tidak bermaksud untuk itu. Aku hanya tidka tahu kenapa aku jadi seperti ini dan itu berubah menjadi__”
“Dia lebih dulu daripada aku, kalian lebih lama bersama. Kembalilah padanya ..” Perlahan Leo melepas pelukannya dan dia pergi meninggalkan Hyein. Astaga.
***
Hyein duduk di kursi yang di berikan Kyungsoo, dia tersenyum. Siang ini mereka makan bersama, atau mungkin ini kencan.
“Chagiya? Kau harus memakannya, bukan hanya di potong dan di aduk-aduk ..”
“Hah mwoya?”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Anio Oppa. Aku akan memakannya”
            -----
Kyungsoo menggandeng tangan Hyein, mereka berjalan menyusuri pantai menunggu sunset.
“ ... lalu apa menurutmu aku harus menerima investasi itu?”
“Ne, Jung Sajangniem ..”
Kyungsoo berhenti melangkah, dia terdiam.
“Hyein-ah ..”
“Emm Waeyo?” Hyein berbalik dan melihat Kyungsoo yang berjalan menghampirinya sekarang.
“Siapa aku?”
“Apa maksudmu? Tentu saja kau adalah Presdir Do Kyungsoo, geurae?”
Kyungsoo memeluk Hyein dan berharap itu hanya salahnya mendengar Hyein mengucapkan itu.
            -----
Sekarang Hyein duduk menyandarkan kepalanya di pundak Kyungsoo. Mereka memandang langit yang penuh bintang malam ini, di taman yang penuh dengan bunga.
“Kenapa kau tidak menyuruh Sekretaris Choi membelikan coklat untukku, Leo Opp___” Hyein langsung menghentikan perkataannya saat yang di lihatnya adalah Kyungsoo Oppa.
            -----
Begitu banyak yang di bawa Hyein sekarang, sepertinya dia membawa hampir setia makanan di super market ini. Sementara Kyungsoo hanya diam dan membawa semuanya.
“Oppa lihat, bukankah makanan ini merk-nya LEO?” Hyein tersenyum dan membawa sebuah snak, tapi senyuma itu langsung menghilang karena Oppa disampingnya bukan yang dia maksud.
“Geurae, itu benar. Kau ingin membelinya juga? Kalau begitu ambil beberapa untukku juga”
“Oppa mianhae ..”
            -----
Kyungsoo dengan Hyein sedang main game sekarang, walaupun di kantor tapi tetap bebas. Serasa milik sendiri.
“Sepuluh November, bukankah itu tanggal___” Hyein menghentikan perkataannya dan kembali memainkan game.
“Apa, tanggal apa itu?”
“Itu tanggal peluncuran game ini, yah itu benar. Hahah aku tahu kan”
“Berarti itu sama dengan ulang tahun Presdir Jung, kau tahu?”
“mm-mwoya? Mollayo”
            -----
Kyungsoo menghentikan langkahnya, dia menatap Hyein dengan tatapan yang menurut Hyein aneh.
“Apa kau mencintaiku?”
“Geurae”
“Hyein tatap mataku!”
“Kenapa Oppa tiba-tiba bertanya itu?”
“Apa kau benar mencintaiku? Kau bahagia denganku?”
“Oppa ... kau ini__”
“Hyein-ah, aku rasa kau berbeda. Kau berubah”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau menyadarinya? Beberapa minggu ini, semenjak kita bersama, kau selalu memanggiku Leo. Kau anggap aku Leo dan bicara seolah-olah aku benar-benar Leo. Apa kau merindukannya?”
“Oppa, tidak aku mungkin salah. Mian”
“Selama ini aku selalu memperhatikanmu, dan kau memang berubah. Sepertinya tidak ada cinta untukku di matamu, kau tidak mencintaiku tapi hanya ingin memilikiku. Hatimu untuknya ..”
“Aku mencintaimu Oppa”
“Kau mengatakannya tanpa menatapku, dan juga walaupun kau mengatakan itu tapi kenyataannya kau tidak benar-benar mencintaiku seperti dulu. Saat kau bersamaku, senyummu berbeda, tatapanmu padaku berbeda, dan hatimu juga berbeda, aku merasakannya. Apa kau mencintainya?”
“Oppa, aku memang kadang memikirkannya tapi aku ingin bersamamu .. ak__”
“Tidak dengan hatimu, Hyein-ah. Hatimu ingin bersamanya, dan kau memikirkannya karena kau merindukannya. Dengarlah, cinta itu harus saling mengisi dengan hati, dua hati. Tidak bisa jika hanya satu, karena itu bukan cinta”
“Oppa ...”
“Aku lama sekali memikirkan tentang ini, dan aku tidak bisa membiarkanmu terus di sampingku jika kau sendiri tidak menginginkannya, kau harus memilih. Aku dan dia bukan sesuatu yang kau bisa miliki bersama, harus ada satu yang berdiri di sampingmu. Dan sepertinya itu bukan aku”
“Keundae Oppa ..”
“Hyein-ah, aku sudah mengerti bagaimana perasaanmu padaku dan padanya. Cintamu untuknya, dan kau hanya menginginkan aku untuk sekedar menemanimu. Hubungan kita yang sebenarnya sudah berakhir, jadi kembalilah padanya. Lihat, dia menunggumu ..” Kyungsoo menunjuk seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka, dan itu Leo.
“Leo Oppa ..” Ucap Hyein pelan saat kembali melihat namja yang memang dia rindukan itu.
“Gomawo, untuk semuanya” Kyungsoo mencium kening Hyein sebelum dia pergi.
Hyein hanya terdiam, melihat Kyungsoo terus berjalan pergi darinya. Hatinya bergetar, karena memang benar apa yang dikatakannya. Selama ini dia selalu memikirkan Leo setelah kejadian itu, keberadaan Kyungsoo di sampingnya tidak bisa menghentikan getaran hatinya.
Jadi apakah ini benar terjadi, Kyungsoo pergi dan Hyein kembali pada Leo. Atau haruskah Hyein mengejar Kyungsoo, tapi hati kecilnya memang ingin bersama Leo.
Selama ini Hyein hanya merindukan Kyungsoo, tidak benar-benar mencintainya seperti dulu. dia benar, rasa itu, perasaan itu, hanya sekedar rasa ingin memiliki. Bukan cinta.
“Kenapa dia pergi?” Leo melihat punggung Kyungsoo yang semakin menjauh dan tidak terlihat lagi.
“Kenapa Oppa kesini?”
“Dia yang menyuruhku kesini, dan sekarang dia pergi. Apa ini semua?”
“Oppa, mianhae. Aku sudah membuat semua ini kacau, tapi sekarang aku sudah mengerti perasaanku sendiri. Dan ternyata hatiku memilihmu”
“Mwo? Tidak usah cepat memutuskan sesuatu, tenanglah ..”
“Oppa! Kau ini merusak adegan romantisnya, aish jeongmal”
“Memangnya aku harus bagaimana?”
“Sebenarnya kau ini mencintaiku atau tidak?”
“Apa?”
“Apa Oppa masih tidak tahu kenapa menyukaiku? Sudahlah ...” Hyein berjalan pergi.
Tapi, Hyein tidak jauh melangkah karena Leo memeluknya dari belakang sekarang. “Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Alasanku menyukaimu karena kaulah yang selalu ada dalam mata dan pikiranku, kau yang membuat hati dan jantungku bergetar, dan kau yang selalu membuat aku tersenyum. Jeongmal saranghae ...”
Hyein tersenyum dan berbalik, dia memeluk Leo-nya dengan sangat erat. Tidak ingin dia lepas lagi dari pelukannya. Sudah cukup semua perjalanan ini.

Epilog.
Hyein terus berjalan dengan menggandeng tangan Leo, namjachingunya. Mereka sedang melihat pameran dari produk usaha kerja sama Leo dengan Kyungsoo sekarang, karena kerja sama mereka berhasil.
“Aigoo. Apa tangan kalian menempel hah, menjijikan sekali selalu seperti ini setiap saat!” Kyungsoo datang dari belakang mereka dan membuat keduanya tersenyum.
“Mollayo ..” Leo malah memasukkan kedua tangan mereka ke dalam saku jas nya.
“Oppa, bagaimana kabarmu?”
“Verry good. Dan aku sudah tidak menjadi pria lembut yang seperti wanita, lihatlah abs ku ini. Apa kau resmi menjadi pria sejati sekarang?” Kyungsoo menarik dan membuka jasnya, menunjukkan enam kotak di perutnya. Abs chocholate.
“Aahh Oppa! Benarkah ini semua, kau banyak berubah. Kau sexy dan sangat tampan” Hyein langsung melepaskan tangan Leo dan mengusap perut Kyungsoo.
“Jadi bukan hanya Jung yang kekar sekarang, ara?”
Leo hanya tertawa kecil mendengar Kyngsoo. “Tambah tinggi dan sedikit berat badanmu lagi untuk menyaingi kekar seorang Leo!”
“Astaga, kau ini sombong sekali! Ah Hyein-ah, karena kita sudah berteman jadi jangan kau lupakan aku dan hubungan kita. Kau boleh membicarakanku kapanpun, pada siapapun, dan tentang apapun. Jung kekar ini tidak akan cemburu ..”
“Baiklah. Dengan seperti ini, teman-temanku tidak akan marah dan mencekik leherku karena aku menyebut nama kalian bergantian. Leo pria-ku, dan Kyungsoo adalah teman terbaikku. Kau akan selalu menjadi Oppa untukku, aku mencintaimu dan juga si kekar ini. Kita bertiga adalah cerita indah”
“Itu benar, tapi hentikan memegang perutnya. Bukankah aku juga punya abs yang harus kau pegang?”
“Ya! Byuntae!”
Hyein merapikan jas Kyungsoo dan memukul Leo dengan tenaga supernya. Mereka tertawa

Tamat

SUPER JUNIOR