luhanay blog Follow Dash Owner

Thursday, 24 November 2016

FF iKON "Wind"



Tittle : Wind
Genre : AU, Divergence || Rate : 15 || Length : Oneshot
Main cast : Koo Junhoe, Lee Hyein
Disclaimer : Junhoe ciptaan Tuhan YME. dan milik keluarga berserta agensinya. Hyein adalah fiction cast milikku.
Summary : “Kau sudah berjanji tidak akan menangis lagi untuk kesedihan itu, jadi kuharap air matamu hanya datang karena kau tidak bisa menahan kebahagiaanmu.”
Author : cifcif rakayzi
======= ======= =======

Walaupun aku melihatnya tertawa, tapi titik air mata kesedihan yang dia sembunyikan, masih jelas aku lihat. Dia hanya membuat dirinya menjadi pembohong. Beautiful liar.
Aku mengerti kalau itu sulit. Menghilangkan kesedihan yang sudah merobek hati, benar-benar sulit, walaupun perlahan. Yang terjadi malah luka itu semakin sakit saat pelan-pelan berusaha menyembuhkan diri. Pantas air mata itu selalu jatuh.
Dia masih tidak bisa memahami dirinya, suasana di lingkungannya, orang lain di sekitarnya, dan terutama keinginannya. Dia hanya terus menutup dirinya, menahannya sendirian. Tersenyum di hadapan orang lain, dan menangis sendirian.
“Apa kau akan membunuhku dengan tatapan itu?”
Suara lembutnya menyadarkanku. Memberiku senyuman tipis. Aku sudah berjalan sampai disini, di hadapannya. Berjalan terbawa terbang pikiranku sendiri.
“Junhoe-ya, kau tidak apa-apa?”
Aku hanya menggelengkan kepala, duduk di ayunan sebelah gadis itu. Tidak ada kata dariku untuk menjawab pertanyaannya.
“Aku tidak apa-apa,”
Dia kembali mengeluarkan suaranya, menatapku seolah meyakinkan. Aku tahu dia mengerti. Aku menatapnya, menunggu dia melanjutkan ucapannya.
“Aku juga tidak menangis. Aku hanya ingin melihat bintang disana...”
Dia menunjuk ratusan bintang di langit malam, tersenyum dan seolah menggantungkan setitik harapan pada salah satu bintangnya.
Dia kembali berbohong. Kedua mataku melihatnya, air mata yang dia sembunyikan. Oh ayolah, kenapa dia selalu bersikap seolah aku tidak tahu? Aku ini sudah mengenalnya sangat lama, bahkan mungkin aku lebih mengenalnya daripada diriku sendiri.
“Hyein-ah, kau tidak mengingkari janjimu?”
Hyein menatapku sekilas, lalu kembali melempar tatapannya melihat bintang. Dia terdiam. Mengayunkan kakinya pelan, membuat ayunan itu berayun maju mundur, membuat angin kecil menerbangkan rambut panjangnya. Dia tidak menjawabku.
“Kau harus kuat untuk dirimu sendiri. Tersenyumlah...”
Aku mengerti. Dia tidak bisa menjawab pertanyaanku, karena dia mengingkarinya. Lee Hyein mengingkari janjinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Aku ikut mengayunkan ayunanku, membiarkan tubuhku sedikit melayang dengannya.
“Junhoe-ya,”
“Apa?”
Dia berhenti berayun. Aku lempar tatapan mataku melihatnya, dia hanya menunduk. Jinjja Hyein-ah, jangan menangis lagi. Kau hanya menyakiti dirimu sendiri jika terus menangis.
“Maafkan aku...”
“Untuk apa? Hari ini kau tidak memukulku, jadi untuk apa minta maaf?”
Dia kembali diam. Aku tahu untuk apa ‘maaf’ itu, tapi dia harus mengatakannya sendiri padaku. Mengakui kebodohannya sendiri. Dia benar-benar bodoh karena terus menangis untuk kesedihan itu, membiarkan dirinya tetap tenggelam.
“Hyein-ah, tidak apa-apa, aku tahu.”
“Aku menangis...”
Aku berhenti mengayunkan kakiku, membuat benda yang kududuki berhenti bergerak maju mundur. Aku menatapnya, dia masih menunduk.
“Maaf karena aku menangis lagi. Aku tidak tahu kenapa air mata itu selalu mendesak keluar dari mataku, aku benar-benar tidak tahu. Aku ingin tidak menangis. Aku ingin membuat diriku baik-baik saja saat mereka mengabaikanku, tersenyum walaupun mereka meninggalkanku, dan tertawa saat mereka dihadapanku. Tapi tidak bisa,”
“Hyein-ah,”
“Jun, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menerima itu, menerima mereka dan bersikap seolah menjadi keluarga yang tidak pernah terjadi apa-apa. Aku akan mengingat apa yang sudah terjadi, dan menyembunyikan diriku dari mereka,”
“Tidak Hyein, kau tidak boleh melakukannya. Cobalah perlahan, dan jangan coba untuk menyerah. Tidak apa jika kau menangis, tapi jangan menyerah untuk mencoba. Tersenyumlah pada mereka, lupakan yang terjadi dan buatlah cerita baru untuk keluargamu.”
“Tidak, aku tidak ingin memperbaiki cerita itu. Eomma meninggal, dan aku tidak akan menerima Ibu tiriku. Aku akan membiarkan Appa tetap seperti itu padaku, tidak peduli sebesar apa kemarahannya padaku. Aku tidak ingin menggantikan Ibuku dan hidup sebagai keluarga baru dengan wanita itu, aku tidak menyukainya. Dan aku akan membuat janji baru. Janji untuk tidak menangis karena wanita itu, atapun Appa.”
“Lee Hyein!”
Aku menarik rantai ayunan itu, membuatnya menghadapku. Dia  menangis. Aku tidak tahu kenapa dia selalu menyerah untuk mencoba. Dia hanya perlu membiarkan Ibunya tenang, dan menerima istri baru Ayahnya, lalu memperbaiki cerita keluarganya dan tersenyum. Apa itu sangat sulit?
“Jun, dia berteriak padaku. Wanita itu menangis dan mengatakan maaf, memintaku untuk berpura-pura menerimanya, dan menjadi keluarga. Dia bilang kalau dia bodoh dan aku pintar, jadi aku bisa bersikap baik padanya dan menganggapnya Ibu,”
Aku menarik nafas yang rasanya berat, kulepas rantai itu dan membiarkannya kembali berayun kecil.
“Aku juga bilang maaf padanya, tapi dia tidak mendengarku. Wanita itu hanya menangis dan membuat semua orang berfikir kalau aku seorang penjahat, membiarkannya menangis dan menderita. Tanpa mereka tahu siapa sebenarnya penjahat dalam cerita ini.”
Aku tidak mengatakan apapun, Hyein juga terdiam, hanya menatap bintang dan berayun. Beberapa titik air mata itu sudah mengering karena hembusan angin, dia hanya terus berayun. Seolah membiarkan angin sedikit demi sedikit menerbangkan kemarahannya.
“Hyein-ah, aku tahu kau mengerti perasaan Ayahmu, apa kau tidak ingin membuatnya tenang? Kau tidak ingin melihat Ayahmu tersenyum? Cobalah bersikap baik dan menerimanya, atau jika kau memang tidak bisa, berpura-puralah menerimanya,”
“Aku sudah melakukannya. Selama sembilan tahun ini, aku selalu berpura-pura menerimanya, tapi dengan caraku sendiri. Dan aku membuat diriku tidak peduli untuk itu, aku tidak ingin memikirkan bagaimana perasaan Appa melihatku seperti ini. Appa menangis atau tersenyum, aku tidak ingin tahu. Aku hanya akan memikirkan diriku sendiri, dan kau.”
Hyein beranjak, dia berjalan beberapa langkah menjauh dariku. Menghapus air matanya, membuatku yakin untuk perkataannya. Tapi sayangnya aku tahu dia meneriakan kata yang sebaliknya dalam hati kecil itu.
“Kalau kau ingin bersamaku..” aku juga beranjak, melangkah mendekatinya, memeluk tubuh kecilnya dari belakang. “Cobalah perbaiki ceritamu dan_”
“Junhoe!”
Dia melepas tanganku darinya, mendorongku, berbalik dan menatapku. Membuat mataku bisa melihat kalau dia benar-benar mengingkari janjinya. Dia selalu menangis, tapi membuat janji untuk tidak menangis. Babo.
“Aku tidak akan memperbaiki ceritaku. Aku tidak akan menerima wanita itu, dan aku membencinya. Kau tahu kenapa aku membencinya, Jun?”
“Hyein-ah,” aku menarik tangannya, tapi dia menepisku lagi.
“Wanita itu menyebalkan. Dan lebih menyebalkan lagi karena aku menyadari itu sekarang, setelah menghabiskan masa kecilku berpura-pura menerimanya sebagai Ibuku. Junhoe-ya, aku membencinya, dan jangan paksa aku lagi untuk tersenyum padanya. Aku tidak akan berusaha menerimanya.”
“Baiklah. Kau membencinya, dan membuatmu menjadi penjahat karena menyakiti empat hati.”
Tatapan yang tadi berpaling, sekarang kembali padaku.
“Apa maksudmu?”
“Kau menolak memperbaiki ceritamu, menutup hatimu untuk memikirkan mereka. Itu artinya kau menyakiti hati Ayahmu, Ibumu, Ibu tirimu, dan hatimu sendiri.”
“Dia bukan Ibuku!”
“Jangan seperti itu Hyein-ah, cobalah untuk_”
“Koo Junhoe! Berhenti seperti itu padaku. Aku tidak peduli, bahkan jika aku harus menjadi penjahat, aku tetap tidak akan memikirkan mereka. Aku tidak mau, kau mengerti itu? Aku tidak mau!”
Aku menarik tangannya, membawanya kedalam pelukanku. Membiarkan dia menangis. Lupakan saja janji itu. Tidak ada gunanya membuat janji yang tidak bisa kau tepati.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”
“Hanya membiarkan itu berjalan sendiri. Aku tidak akan melakukan apapun, aku tidak akan minta maaf lagi padanya, aku tidak akan memikirkan perasaan Appa, dan aku tidak akan menangis lagi.”
“Baiklah, bertahanlah seperti itu. Jangan menangis. Tidak usah memaksakan diri melakukan apa yang tidak kau suka, tapi cobalah membuat dirimu tidak menyakiti orang lain. Jangan menjadi penjahat. Hatimu tidak akan terluka jika kau tidak melukai hati orang lain.”
Mungkin dia akan mengerti. Ah tidak, dia harus benar-benar mengerti. Aku tidak ingin dia terus membuang air matanya untuk kesedihan, dia tidak boleh tersakiti dengan ke-egoisannya, bukankah semua orang harus bahagia? Jika iya, maka termasuk dia.
Menjadi penjahat itu buruk. Menyakitkan. Aku harap dia bisa terus mencobanya, menata ulang ceritanya, menata hatinya, menjadi lebih baik dan menjadi dia yang dulu. Tidak apa-apa jika itu diawali dengan berpura-pura. Setidaknya dia harus mencoba.
Keluarga itu adalah kebahagiaan. Dan kita tidak akan bahagia jika cerita keluarganya berantakan. Harus ada kata maaf. Harus memaksakan diri untuk memaafkan. Harus ada senyuman dan tawa. Sudah kubilang, tidak apa-apa jika berpura-pura, yang penting mencoba untuk menjadi lebih baik. Jika sudah, maka percayalah, angin akan berhembus mengeringkan air matamu. Menerbangkan kesedihanmu.

FF iKON "Lotus"



Tittle: Lotus
Genre: AU, Drama, Hurt || Rate: 15 || Length: Oneshot
Main cast: Lee Hyein, Koo Junhoe, Kim Donghyuk
Author: Cifcif Rakayzi
Summary: ‘Cinta itu bodoh...’
======= ======= =======

Entah kenapa, aku punya sedikit perasaan tidak enak hari ini. Bukan karena gosip kecil di sekolah tentang kekasihku, ini lebih pada diriku sendiri. Rasanya berbeda. Aku tidak tahu apa, tapi aku tidak akan terpengaruh begitu mudah dengan perasaan seperti itu, aku ingin baik-baik saja. Dan juga, ini adalah hari spesialku.
Aku menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan dan tersenyum. Tidak lama, pintu kayu di hadapanku terbuka, menampakkan seorang laki-laki yang lebih tinggi dariku, tersenyum manis. Laki-laki yang terlihat dingin dan tidak ramah itu, selalu tersenyum seperti biasanya. Sebenarnya dia bukan orang yang dingin, malah dia adalah laki-laki dengan penuh tawa kerasnya yang selalu menggemaskan. Kim Donghyuk.
“Hyein-ah, apa kau datang sendiri? Tiidak bersama Han Yunchi?”
Aku tersenyum kecil, menggeleng kepala menjawab pertanyaannya. Akhir-akhir ini, laki-laki itu terus menanyakan adik perempuanku, sepertinya dia menyukai Yunchi.
“Yunchi ikut pelajaran tambahan, dan juga dia sibuk. Kau harus lebih perhatian jika ingin mendekatinya,”
“Ah.. ketahuan yah,” Kim Donghyuk tersenyum, menggaruk lehernya kaku. Dia benar-benar lucu saat seperti ini, jauh dari julukan ‘Smile Killer’ yang diberikan padanya. “Tapi baiklah, karena sudah ketahuan, aku akan lebih bersemangat!” dia bahkan sampai mengepalkan tangannya seperti itu, kurasa dia benar-benar menyukai adikku. Dan mungkin aku harus memberinya restu mulai hari ini.
“Tapi, apa kau tidak akan membiarkanku masuk?”
“Aigo ah aku lupa, maaf,” Donghyuk kembali tersenyum kaku, dia membuka pintunya lebih lebar, memberiku jalan untuk masuk. “Junhoe sudah menunggumu dari tadi,”
Aku berjalan masuk, dan Donghyuk menutup pintunya. Rumah ini sepi, tidak seperti biasanya saat ada Yejin Eonni atau orang tua laki-laki jangkung itu. Aku menghentikan langkah di depan anak tangga pertama, berbalik dan menatap Donghyuk yang ikut berhenti di belakangku.
“Dimana dia?”
“Tadi di balkon kamarnya, mungkin sekarang masih disana juga. Ayo,”
Aku menatap Donghyuk yang berjalan mendahuluiku menaiki anak tangga, dan punggung laki-laki itu terlihat sangat berotot, pantas membuat wanita menjerit jika bertemu dengannya. Jadi otot adalah salah satu pesona Kim Donghyuk.
“Hey, ayo! Kenapa diam disana?”
Senyum kecilku menghilang saat laki-laki itu berbalik dan sedikit berteriak, dia sudah berdiri pada anak tangga paling atas, jauh dariku.  Dan aku teringat perasaanku. Perasaan aneh yang aku bicarakan tadi.
“Lee Hyein, ada apa?
“Tidak, bukan apa-apa,” aku dengan cepat menaiki tangga, membuat Donghyuk mengurungkan niatnya untuk kembali turun dan mendekat padaku. Aku tersenyum, dan berjalan di belakangnya.
“Aku tidak akan mengganggu, aku tahu hari apa ini. Jadi Hyein-ah, chukkae...”
Kakiku berhenti, aku terdiam saat tiba-tiba Donghyuk berbalik dan tersenyum lebar padaku, juga merentangkan kedua tangannya. Apakah itu? Itukah senyuman maut yang orang-orang bicarakan? Sepertinya aku bisa melihat senyuman itu sekarang, jadi harus kuakui kalau laki-laki imut itu pantas mendapat julukan ‘Smile Killer’. Dasar Kim Donghyuk.
“Mwoya, kenapa reaksimu hanya seperti itu? Aku memberimu selamat, tapi kau hanya menatapku seperti itu. Apa kau tidak senang dengan hari jadi kalian eoh?”
Senyuman lebar itu menipis sekarang, tergantikan kerutan dahi yang menuntut jawaban dariku. Harus aku katakan sekali lagi, laki-laki itu memang imut. Kurasa, aku juga menyukai Kim Donghyuk. Bercanda.
“Aku hanya kaget. Kau berbalik dan berteriak seperti itu, bagaimana aku tidak kaget?”
“Ish baiklah, terserah kau saja. Tapi hari ini aku benar-benar tidak akan mengganggu kalian berdua, dan itu adalah hadiah dariku. Sana, masuklah..” Donghyuk membuka pintu kayu berwarna coklat tua itu, menatapku seolah memberi isyarat untuk cepat masuk.
“Baiklah, terima kasih hadiahnya.” Aku mengangguk, lalu melangkah memasuki ruangan dengan dinding berwarna putih bercorak hitam. Ruangan yang digunakan laki-laki bernama Koo Junhoe untuk tidur dan melakukan beberapa aktivitas lainnya. Dan disini, sangat berantakan, seperti biasanya.
Pintu menuju balkon terbuka, sepertinya laki-laki jangkung itu masih disana. Aku menarik nafas dalam, membuangnya perlahan, lalu berjalan menuju balkon.
            ***
Tidak ada matahari yang terlihat, hanya langit berwarna kuning-orange yang mengiringi sore ini, juga sedikit awan abu-abu yang berkumpul di beberapa bagian langit. Menurutku itu indah.
Laki-laki jangkung itu duduk di kursi. Mengingat ucapan Donghyuk, berarti dia sudah lama disana. Apa yang dia lakukan, apa dia melamun, atau sedang menggoda gadis lain di jalan sana? Bibirku tersenyum sekilas, lalu perlahan menghampirinya.
“Junhoe-ya, kau sedang apa?”
Dia terkejut, tatapannya dengan cepat terlempar padaku, bibirnya mengulas senyum, manis.
“Annyeong Hyein-ah, kau lama sekali.” lalu senyuman itu berubah menjadi bibir yang dikerucutkan.
“Kau disini menungguku dari tadi?” aku melangkah, menggeser kursi di samping Junhoe dan duduk. Menatapnya.
“Aku tidak menunggumu, hanya sedang diam saja,” dia menyeringai, kembali menarik tatapannya memandang langit.
“Memangnya kau tidak melihatku datang tadi? Bukankah kau sudah lama diam disini,”
Junhoe tersenyum, mengalihkan tatapannya padaku lambat. “Sebenarnya aku tidur tadi,” lalu dia tertawa.
“Seperti biasanya Koo Junhoe,” aku mengangguk mengiyakan, dan mengalihkan tatapanku darinya. Laki-laki ini menyebalkan, dia memang selalu bercanda. Tapi dia tetap Koo Junhoe yang aku cintai.
Hening.
Dan keheningan itu buyar saat aku ingat kalau di dalam tas yang aku jinjing dari tadi, ada sesuatu untuknya. Padahal tadi hampir saja aku terbawa suasana mengantuknya Koo Junhoe.
“Junhoe-ya,” aku mengeluarkan kotak dari dalam tas, menyimpannya di meja yang menjadi pembatas antara aku dan Junhoe. Dia menatapku, seolah bertanya tanpa suara.
“Itu hadiah untukmu,”
“Benarkah?” dengan antusias dia membukanya, mengeluarkan chocolate cake di dalamnya. “Ini untukku?” dia bertanya lagi, memastikan.
Aku mengangguk, membuatnya kembali mengulas senyum. “Itu buatanku sendiri, hanya untukmu. Happy 2th Anniversary, Koo Junhoe.”
Beberapa detik kemudian, senyuman Junhoe hilang tergantikan dua alisnya yang berkerut. Hah... aku tahu ekspresi itu. Dia pasti tidak mengingatnya.
“Benarkah? Aku tidak ingat ini tanggal lima belas September...”
“Kau memang selalu tidak mengingatnya, Jun.”
Ah geurae, kalau begitu maafkan aku. Aku akan berusaha mengingatnya lebih keras. Boleh aku makan kuenya?” dia menatapku, menunggu jawaban.
“Silahkan, makanlah. Itu untukmu,”
Aku tidak apa-apa, Junhoe memang seperti itu. Sudah aku katakan, aku mencintainya. Dan sekarang dia terlihat menggemaskan, mencolek-colek krim di atas kuenya, lalu menjilat tangannya seperti anak kecil. Kyeopta.
“Lee Hyein, kau juga makan kuenya, jangan membuatku menghabiskannya sendiri. Makanlah,”
“Itu untukmu, kau harus menghabiskannya sendiri,”
“Kenapa? Apa kau meracuni kuenya?” Junhoe menahan tangannya untuk menyuap kue itu lagi, dia menatapku curiga.
“Tentu saja,”
“Mwo?” bibir penuh coklat itu berteriak bersamaan dengan kedua matanya yang membulat, seolah matanya akan jatuh keluar jika dia tidak berkedip. Dasar Junhoe.
“Aku memasukkan banyak racun cinta kedalamnya, agar kau semakin mencintaiku, Koo Junhoe.”
Entah kenapa dia terdiam, tangan kanannya menyimpan kembali sendok berisi kue yang tadi tidak jadi dia suapkan ke dalam mulutnya. Biasanya dia tertawa jika aku seperti itu, tapi sekarang Junhoe tidak menatapku dan diam.
Aku tidak tahu suasana apa yang sekarang bersama kami, aku hanya ikut terdiam karenanya.
“Apa... kau sangat mencintaiku?”
Ucapannya mengejutkanku, tiba-tiba memecah keheningan ini. Dia menatapku lekat, menantikan jawabannya.
“Hem...” aku mengangguk, memberinya senyuman. Aku tidak tahu kenapa dia bertanya seperti itu tiba-tiba, sekarang dia tersenyum dan kembali memenuhi mulutnya dengan kue.
“Em geurae,” dia bicara dengan mulut penuh kuenya. Aku tidak mengerti. Lalu dia menyodorkan sepotong kue di sendoknya padaku. “A- makanlah,”
Bibirku begitu saja terbuka, menerima suapan Junhoe. Dia tertawa melihatku, lalu tertawa lagi menyadari bibir dan dagunya penuh coklat dari kuenya. Junhoe beranjak, masuk ke dalam kamarnya dan kembali dengan kotak tissue di tangannya.
Setelah keheningan tadi, Junhoe kembali seperti biasa, ah tidak... maksudku, kami kembali seperti biasa. Bicara dan tertawa.
Ini memang sedikit berbeda dari perayaan hari jadi yang aku inginkan, tapi tidak apa, aku sudah tahu akan seperti ini.
            ***
Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri, tapi aku harus tetap menyelesaikan ini. Tidak ada waktu untuk menangis atau sakit hati, yang terpenting adalah menyelamatkan hati itu. Hah... apa yang aku bicarakan.
“Junhoe-ya,”
“Hem?” dia menoleh, menatapku menunggu. Kuenya sudah setengah habis, dia berhenti memakan itu. Sepertinya dia sudah kenyang.
“Boleh aku bertanya padamu?”
Junhoe diam, tatapannya padaku berubah, aku merasakannya walaupun dia menutupinya. Tapi sedetik kemudian, dia tersenyum dan mengangguk.
“Tentu saja, tanyakan apapun,” Junhoe mengalihkan tatapannya dariku, meneguk air mineral dalam gelas di tangannya.
Aku tidak mau menanyakan ini, dan kupikir setiap wanita tidak akan menanyakan ini pada pacarnya. Aku gila. Tapi aku harus menanyakannya agar hatiku tidak terlalu terluka, dan hancur. Setidaknya, aku masih bisa menyelamatkan hatiku walaupun terluka.
Sudah aku bilang tadi, kekasihku menjadi bahan gosip teman-teman di sekolah. Walaupun aku tidak percaya itu, dan ingin tetap percaya pada kekasihku, tapi akhirnya aku harus terima kalau itu benar. Aku harus percaya gosip itu.
“Apa... kau tidak mencintaiku lagi?”
Akhirnya itu keluar dari bibirku. Nafasku sesak dan aku ingin menjerit kalau aku sangat mencintainya.
Koo Junhoe terdiam. Aku berhenti menatapnya, mengalihkannya menatap langit. Itu jawabannya, akhirnya aku dapatkan.
“Mianhae...”
Aku menulikan pendengaranku, menepis suara pelan Junhoe. Sebelum datang kesini, aku sudah memikirkan banyak sekali hal. Tentang apa yang akan aku katakan atau yang akan Junhoe katakan, tentang kami, tentang Koo Junhoe, dan tentang bagaimana akhirnya kami. Aku sudah memikirkan semua itu.
Dan aku mengingatnya. Mengingat hubungan kami yang berubah belakangan ini, mengingat tawa Junhoe yang perlahan menghilang dari sampingku, juga mengingat tangan Junhoe yang tidak sering lagi menggenggam tanganku. Aku baru menyadari kalau hubungan kami perlahan berubah bersama datangnya gosip itu. Aku harus mengerti. Tentang itu, dia, dan kami.
“Aku benar-benar minta maaf,” Junhoe berucap lagi, dan aku tidak mau melihatnya. “Ini bukan seperti yang mereka bicarakan, aku... aku hanya tidak tahu kenapa aku seperti ini. Aku berusaha tetap bersamamu, atau tidak menyakitimu, tapi aku gagal. Aku menyukainya,”
Cukup. Hentikan Junhoe! Kata terakhirmu adalah pedang yang membelah jantungku. Kau jahat Koo Junhoe.
“Maaf, aku tidak bisa menjaga cintaku untukmu,”
Sudah aku bilang hentikan! Aku tidak mau mendengarmu Junhoe.
Semua yang dia ucapkan membawa banyak pikiran aneh kedalam kepalaku, aku tidak tahu harus menerima apa. Aku mencintainya. Aku tidak ingin berkata, dan sekarang laki-laki itu diam.
            ***
“Koo Junhoe,” aku menatapnya, tapi pandangannya tidak padaku. Aku bisa mengerti perasaannya sekarang, tapi aku juga harus mengerti hatiku sendiri.
“Hey Juhoe-ya, lihat aku! Maafmu aku terima,”
Dia langsung menatapku, tatapan penuh pertanyaan ‘kenapa’. Aku memberi senyumanku, dia pernah bilang kalau senyumanku manis. Aku akan lebih banyak tersenyum padanya mulai sekarang.
“Yah, aku tentu harus menerima maafmu, mau bagaimana lagi?”
“Hyein-ah?”
“Ini bukan salahmu. Setidaknya kau berusaha mempertahankanku, dan itu seperti lem yang menyatukan kembali jantungku yang kau belah. Dan aku tidak apa-apa,”
“Mianhae,” ucapannya sangat pelan, seperti hanya gerakan bibir saja. Dasar Junhoe, kau lupa kalau aku tidak tuli?
“Kalau kau benar menyukainya, berusalah mendapatkannya. Dan jangan lupa jadikan dia milikmu dengan sebuah ikatan, seperti kau dulu padaku,” aku tertawa kecil, mengingat itu membuatku semakin ingin berteriak kalau aku mencintainya. Aku sangat mencintai Koo Junhoe.
“Jun dengar, perempuan itu butuh ikatan. Berjanjilah menjadi laki-laki baik Junhoe-ya, jangan membuatnya menangis, dan sayangi dia. Kau mau berjanji padaku?” aku menatapnya dengan senyum.
Maaf Junhoe, aku egois membuatmu berjanji padaku untuk cinta gadis lain. Tapi itu karena kau jahat, dan aku mencintaimu.
“Tidak, bukan begitu. Aku ingin kau berjanji untuk menjadi laki-laki baik, bukan untuk mencintai gadis itu atau siapapun. Setelah hubungan kita berakhir, aku tidak akan bisa menjagamu lagi, jadi berjanjilah kalau Koo Junhoe akan menjadi laki-laki baik, dan menjadi yang terbaik, iya?” aku beranjak dari dudukku, melangkah ke hadapannya. Dia tidak memalingkan tatapannya dariku.
“Aku anggap kau mengatakan iya,” aku menarik tangan kanannya, menyatukan kelingking kami sebagai tanda perjanjian. Junhoe tertunduk, mungkin menghindari tatapanku. Aku mengerti.
Aku melepas tautan tangan kami, berjalan mendekati pagar balkon. Langit sore orange ini sudah mendung, mungkin hujan akan turun. Aku menatapnya, awan abu-abu yang menampung air untuk di turunkan sebagai hujan.
“Junhoe-ya, kau ingat?” bibirku mengulum senyum tanpa perintah, seraya ingatan itu melayang kembali dalam kepalaku. “Dua tahun yang lalu, saat kau menyatakan perasaanmu padaku, kau berkata kalau tiba-tiba hubungan kita harus berakhir, jangan menangis dan katakan perpisahan dengan ciuman,”
Aku berbalik, dia mengangkat wajahnya dan menatapku. Kurasa dia ingat ucapannya dulu. dasar Junhoe. Apa dia sudah tahu kalau hubungan kita akan berakhir secepat ini?
Aku melangkah menghampirinya, duduk di pangkuannya, membuat laki-laki jangkung itu membulatkan matanya menatapku.
“Sepertinya hubungan kita berakhir sampai disini,”
Banyak titik air yang tiba-tiba jatuh menyerang semuanya, kukira awan tidak akan secepat ini menurunkan hujan. Yah... siapapun tidak bisa menolak jika titik hujan sudah datang bergerombol.
“Tapi Junhoe-ya, bisakah aku meminta hubungan lain denganmu?”
“Hyein-ah?”
Junhoe menatapku tajam, dan aku tidak bisa mengartikan tatapan itu. Mungkin dia hanya terkejut dengan ucapanku.
“Pertemanan...” aku tersenyum, menenangkan sorot matanya. Junhoe babo. Mana mungkin aku meminta hubungan aneh denganmu. Aku terlalu mencintaimu. “Ikatan kau dan aku sudha berakhir hari ini, jadi bisakah mulai besok kita bertemu sebagai teman? Aku hanya akan menjadi teman sekelasmu, atau teman bicaramu, atau teman yang membantumu, tidak lebih dari itu. Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggu hatimu lagi. Janji.” aku memeluknya, menyimpan rasa hangat pelukannya sebagai kenangan terindah memoryku. Aku mencintaimu, Koo Junhoe.
“Kau mengingatnya, jadi katakan lagi apa yang kau katakan dua tahun lalu jika kita berpisah, aku mohon Jun. Sekarang kita benar-benar berpisah Junhoe-ya,”
Aku merasakan tangan Junhoe membalas pelukanku, erat. Rasanya aku tidak mau melepas pelukan terakhir ini.
“Baby don’t cry, just give me a one last kiss and say goodbye...” Junhoe mengucapkannya, juga mempererat pelukannya.
Aku melepas pelukannya, tersenyum.
“Baby I’m gonna kiss you and say goodbye..” aku menciumnya. Menempelkan bibirku dengannya, tidak peduli hujan yang terus datang lebih banyak. Rasanya jantungku berhenti berdetak.
Beberapa detik. Bibir Junhoe sedikit terbuka, memberiku izin jika aku ingin bermain dengan bibirnya untuk yang terakhir, dia memelukku erat, tapi itu sudah cukup. Aku melepas tempelan bibir kami, aku beranjak.
“Junhoe-ya, sampai hari ini aku berterima kasih padamu, memberiku banyak kenangan indah selama dua tahun kita bersama. Dan terima kasih sudah jujur padaku...” aku menatapnya. Hanya menatapnya lebih lama se-lama yang aku bisa. “Besok saat terbangun dari tidur dan membuka mata, Koo Junhoe dan Lee Hyein akan terlahir kembali sebagai teman. Annyeong Junhoe-ya...” aku menahan senyumku, melangkah pergi meninggalkannya. Saranghae Junhoe-ya.
            ***
“Hyein...”
Aku berhenti melangkah, menahan tanganku membuka pintu. Berbalik dan menatap Donghyuk yang mengejarku.
“Kau mau kemana?”
“Aku harus pulang, ini sudah sore.”
“Tapi di luar hujan, apa Junhoe tidak mengantarmu?”
“Tidak apa-apa, aku akan pulang sendiri. Gomawo Donghyuk-ah.” Aku pergi, keluar dari rumah itu untuk yang terakhir kali sebagai kekasih Koo Junhoe.
Hujan turun sangat deras, tapi aku tidak akan berhenti berlari, tidak peduli bajuku yang basah, aku harus cepat pergi dari sini.
Teriakkan Donghyuk yang masih tertangkap inderaku, aku abaikan, itu tidak ada gunanya, aku tidak akan kembali. Ini sudah berakhir sekarang.
Tidak... sesuatu keluar dari mataku. Tapi aku sudah mengatakan padanya tidak akan memangis, dan aku tidak menangis. Aku mengusap mataku, itu hanya air hujan, bukan air mataku. Hanya hujan deras yang membasahi semuanya.
            *** (Lee Hyein POV end.)
“Ya! Jun! Hyein pulang kehujanan, kenapa kau tidak mengantarnya?” Donghyuk masuk ke kamar Junhoe, menghampiri laki-laki jangkung itu yang berdiri di depan pintu balkon, diam.
“Junhoe-ya... Koo Junhoe!” Donghyuk kembali memanggil, tapi Junhoe tetap diam. Donghyuk menarik nafas dalam, memperhatikan Junhoe lebih dekat. “Apa kalian bertengkar?” Donghyuk bertanya lagi.
“Donghyuk-ah, dia pergi?”
“Geurae, Hyein sudah pergi. Dia berlari kehujanan,”
“Mianhae...”
“Harusnya kau tadi mengantarnya Junhoe-ya, walaupun kalian bertengkar. Dan jangan minta maaf padaku, katakan maaf padanya dan... Eoh Junhoe-ya, kau menangis?”
Junhoe hanya menunduk, sebisa mungkin menahan sesak di dadanya. Tapi itu terlalu sesak. Junhoe jatuh terduduk di lantai, dengan isakan. Junhoe mengabaikan ucapannya dua tahun lalu, kalau dia tidak akan menangis.
“Kenapa Jun? Ada apa, kenapa menangis?”
Tidak ada jawaban. Akhirnya Donghyuk hanya memeluk Junhoe, mencoba menenangkannya. Donghyuk mungkin tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia mengerti kalau ini buruk.
            ***
Jam istirahat baru saja datang, masih lama untuk kembali bergabung dengan pelajaran. Murid-murid itu melakukan apa yang mereka inginkan.
“Ya ya! Lee Hyein lihat itu!” dua orang perempuan berlari menghampiri Hyein, mengusik pekerjaannya.
“Ada apa?” terpaksa, Hyein menutup bukunya dan mendengarkan kedua temannya itu. Mereka tidak akan berhenti ribut sebelum mendapat tanggapan.
“Di luar tadi, Junhoe berjalan menggandeng murid baru itu. kau harus melihatnya,”
“Geurae, aku juga melihatnya. Junhoe berjalan dengan Jennie Kim, Sunbae baru itu. Kau harus temui dia,”
“Tidak perlu,” Hyein menarik nafas dalam, tersenyum, lalu kembali membuka bukunya.
“Kenapa? Tapi Koo Junhoe pacarmu, dan dia bergandengan dengan murid baru dari New Zeland itu!”
“Hyein-ah, kau tidak tahu kalau gosip itu sudah semakin menyebar sekarang? Semua orang membicarakan mereka pacaran,”
Hyein masih menahan senyumannya, menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, jika mereka memang sudah pacaran. Sekarang itu tidak ada hubungannya denganku,”
“Apa maksudmu? Pacarmu dengan gadis lain, Lee Hyein! Dan kau malah bilang itu tidak apa-apa?”
Hyein menggenggam tangan temannya, menenangkan. Dia beruntung mempunyai teman sebaik itu, yang mau peduli dengannya. Tapi ini berbeda sekarang, ceritanya sudah berubah. “Koo Junhoe bukan pacarku lagi...”
“Apa?” mata kedua temannya membulat, juga beberapa orang di kelas itu yang mendengarnya. Mereka menatap Hyein memastikan, meyakinkan kalau telinganya tidak salah mendengar.
“Kemarin adalah hari terakhir kami bersama, dan Junhoe bukan milikku lagi. Aku hanya teman sekelasnya mulai sekarang,”
“Kau bercanda? Apa yang kau katakan ini huh...”
“Hyein-ah, jangan bercanda seperti ini, benar-benar tidak lucu...”
Kedua temannya langsung memeluk Hyein, menahan dan menyembunyikan air mata mereka. Ini berita buruk. Dan mereka tidak akan berteriak membicarakan Koo Junhoe jika tahu kalau hubungan mereka sudah berakhir. Babo.
“Mianhae Hyein-ah...”
“Tidak apa-apa. Dan mulai sekarang, jangan membicarakan gosip itu lagi. Bukan masalah jika Jennie Sunbae memang pacar Junhoe, bukankah ini kabar baik?”
“Jinjja mianhe Hyein-ah...”
“Gwaenchanha.” Hyein memeluk mereka, tersenyum. Menyelesaikan ini dengan mengatakan akhir ceritanya dengan Junhoe. Dia lega sekarang, ini terasa lebih baik untuk mereka. Dan Hyein juga melempar senyumaannya pada laki-laki jangkung berdiri menahan langkahnya di samping pintu, Koo Junhoe.
Hyein akan selalu ingat kalau Junhoe sudah berjanji menjadi laki-laki baik, membiarkannya menyimpan cinta itu di setiap hela nafasnya.

            -Fin-

SUPER JUNIOR