luhanay blog Follow Dash Owner

Minggu, 14 Februari 2016

[FF] Blank



Pada suatu sore disuatu hari, aku yang merasa kesal melihat seseorang hanya duduk manis sementara terus menyuruh orang untuk melakukan yang dia inginkan, dan tiba-tiba ide itu muncul.
Aku duduk di salah satu anak tangga, berpandangan dengan Han Yunchi dan membayangkan kalau tiba-tiba Koo Junhoe datang untuk menciumku, woaaah daebak!
Ide-ide lain terus bermunculan untuk mengembangkan cerita absurd ini. Kita terus bicara kesana kemari tentang itu, membicarakan alur dan benang merah cerita yang mungkin bisa menjadi sebuah FF ini.
Dan pada akhirnya, Jjang!! Kita berdua setuju untuk membuat obrolan itu menjadi cerita. Berharap bisa diterima dengan baik dan tidak mengecewakan. Walaupun tentu saja saya selaku penulis ini sangat menyadari kalau ini sangat jauh dari kesempurnaan.
Jadi, saya ucapkan terima kasih atas partisipasinya membaca ini. Selamat membaca.
Ah iya lupa, juga terima kasih pada Han Yunchi yang berfikir tentang ciuman itu untuk pertama kalinya. Kita berdua memang benar-benar gila dengan cerita ini, benarkan Yunchi-ya?

-
--
Tittle                : Blank
Genre              : ?
Rate                 : 15
Length             : Oneshot
Author             : Cifcif Rakayzi // Han Yunchi
Disclaimer       : ide cerita milik kami, cast milik Tuhan
Main cast         : Kim Jinhwan // Koo Junhoe // Kim Yujin
--
-

Kedua mata wanita itu membulat, menatap pria yang membuatnya terkunci antara dinding dan kedua tangannya. Detak jantungpun mulai tidak normal, seiring semakin dekatnya jarak antara mereka. Hembusan nafas pria itu terasa hangat menabrak wajahnya, membuatnya dengan susah payah menelan ludah.
“Ju-junhoe-ya....”
“Mwo?” pria dengan alis tebal itu sedikit tersenyum, perlahan merapatkan tubuh mereka. Bergerak semakin dekat.
“A-apa yang kau lakukan?” wanita itu berhenti menatap kedua manik pria yang membuatnya sangat tegang sekarang, dia sedikit memalingkan wajahnya ke samping. Menghindarinya.
“Saranghae”
“Mwo?” wanita itu kembali menatap Junhoe saat pria itu berbisik sesuatu padanya. Dia masih mempertahankan smirk mematikannya, membuat wanita itu semakin tidak bisa menahan debaran jantungnya yang kacau.
“Aku mencintaimu, Kim Jihyun”
Dan sedetik kemudian, pria bernama Junhoe itu menggerakan tangannya menarik tengkuk wanita itu, mempertemukan bibir mereka perlahan. Mata keduanya sudah tertutup, menahan nafasnya untuk sedikit mereda debaran kacau jantungnya sekarang.
Bugh. Bugh bugh.
“Oppa?” jerit wanita itu saat tiba-tiba seorang pria yang sangat dia kenal datang dan memukul Junhoe, membuatnya tersungkur dengan sedikit darah di ujung bibirnya.
“Ya! Apa yang kau lakukan hah?”
Pria yang sedikit lebih pendek dari Junhoe itu, kembali menyentuh wajah Junhoe dengan kepalan tangannya. Menarik kerah bajunya dan terus memukul tanpa memberikan kesempatan pria itu untuk bernafas.
“Oppa, ada apa? Hentikan!” Han Yunchi kembali berteriak, masih mematung di tempatnya berdiri karena kejadian itu. Dia belum berani melangkah untuk menghentikan kakaknya.
“Nu-nugu?” Junhoe menahan perih dan nyeri di beberapa bagian wajahnya karena pukulan pria itu, pria yang tiba-tiba datang entah dari mana, dan memukulnya tanpa sebab.
“Kau, apa yang kau lakukan pada Jihyun?”
“A-aku hanya...”
“Oppa! Jinhwan Oppa wae? Apa yang kau lakukan?” akhirnya, wanita itu menarik tangan kakaknya yang sudah bersiap untuk memukul Junhoe lagi.
“Jinhyun-ah, apa yang kau lakukan dengan bajingan ini?” kali ini, pria bernama Jinhwan itu beralih menatap wanita yang masih menahan tangannya.
“A-apa? Sebenarnya apa yang Oppa katakan? Kenapa tiba-tiba memukul Junhoe?”
“Junhoe?” Jinhwan tersenyum hambar, melirik kembali pria yang masih dia tahan kerah bajunya. “Yah benar, Koo Junhoe. Aku tidak pernah ingin bertemu lagi denganmu, tapi anehnya, aku ternyata masih mengingat namamu. Dasar brengsek!” Jinhwan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Junhoe, mendorong pria itu menjauh.
“Sebenarnya, kau siapa?” Junhoe menatap pria itu, menuntut penjelasan atas apa yang dia lakukan padanya. Seingatnya, mereka sama tidak pernah bertemu, apalagi saling mengenal.
“Siapa? Kau tanya siapa aku?” Jinhwan melepaskan genggaman tangan Jihyun darinya, sedikit melangkah kembali mendekati Junhoe. Menatapnya penuh kebencian. “Aku adalah suami dari wanita yang sudah kau bunuh!”
Sontak, Koo Junhoe dan Kim Jihyun membatu saat mendengar teriakan Jinhwan. Pembunuh? Koo Junhoe membulatkan matanya, sama sekali tidak mengerti kenapa pria itu menuduhnya sebagai pembunuh, yang bahkan dia juga tidak tahu siapa istri pria itu. Sementara Jihyun juga masih membisu karena teriakan itu.
“A-apa maksudnya itu? Apa... ak-aku membunuh istrimu?” Junhoe perlahan melangkah mundur, menjauhi pria itu. Dia benar-benar tidak mengerti maksudnya.
“Kau lupa? Koo Junhoe, apa kau sengaja melupakan kenyataan bahwa kaulah yang menyebabkan istriku meninggal. Kau membunuhnya! Kau membunuh istriku, brengsek!” Jinhwan kembali berteriak frustasi. Bayangan tentang kecelakaan itu, tentang istrinya, semuanya kembali menari-nari dalam fikirannya.
“Andwae! Maldo andwae! A-aku bukan pembunuh...”
“Aku bahkan hampir gila karenamu, kau menghancurkan hidupku. Kau membuat istriku dan bayi dalam kandungannya pergi meninggalkanku, dasar pembunuh! Brengsek!”
“Oppa... a-apa maksudmu Junhoe pembunuh Yunchi Eonnie?”
“Kim Jihyun! Aku mati-matian membangun hidupku kembali dan melupakan orang ini, memilih tidak melakukan apapun padanya walaupun rasanya aku ingin sekali menabraknya sampai mati. Dan kau, sekarang kau malah bersama pria yang sudah membunuh kakak iparmu,”
Titik demi titik, air mata Jinhyun berjatuhan. Walaupun dia sama sekali tidak mengerti dengan cerita ini, tapi mendengar itu semua, membuatnya benar-benar tidak bisa bernafas rasanya. Apa maksudnya itu.
“Tidak. Tidak mungkin Junhoe melakukannya, Oppa pasti salah__”
“Ya! Mulai sekarang tinggalkan dia, jangan pernah bertemu lagi dengan pembunuh itu. Karena mungkin aku tidak akan bisa menahan emosiku lebih kuat jika bertemu dengan pria itu lagi, kajja!” Jinhwan menarik paksa tangan Jihyun, tidak peduli kalau adiknya berteriak dan berontak, Jinhwan tetap membawa pergi wanita itu. Meninggalkan Koo Junhoe yang masih berdiri disana dengan fikirannya.

            ***

Kim Jihyun sedikit tersenyum, mengangguk pelan meng’benar’kan pilihannya untuk menjenguk pria yang beberapa hari ini menghilang dari pandangannya. Koo Junhoe menghilang sejak pertemua tiba-tiba itu. Dia bahkan meninggalkan kuliahnya yang sedang sibuk menyiapkan tugas akhir.
Jihyun masih duduk di sofa empuk itu, menunggu orang yang dia tunngu datang. Pelayan Jung bilang kalau Junhoe hanya mengurung dirinya dikamar, tidak mau mengatakan apapun. Yah mungkin Jinhwan sudah membuatnya shock.
Pelayan Jung kembali dengan seorang pria tinggi di belakangnya, akhirnya Junhoe datang. Jihyun langsung mengulas senyum melihatnya. Memar di wajah Junhoe masih sedikit terlihat, tapi sepertinya itu tidak parah.
“Kalau begitu, saya tinggalkan kalian,”
“Ne Ahjumma, gamsahamnida” Jihyun sedikit membungkook saat pelayan Jung pergi, lalu kembali duduk di sofa itu.
Entah kenapa, keheningan menjadi satu-satunya yang terdengar sekarang. Mereka mengatakan apapun, dan bahkan tidak saling tatap. Sampai akhirnya, Jihyun membuka suara. Membuat kedatangannya kesini, tidak sia-sia.
“Junhoe-ya,”
Manik Junhoe bergerak, sekilas melirik Jihyun dan kemudian kembali berpaling. Menghindari tatapan hangat yang dia rindukan, karena beberapa hari ini mereka menjadi terlalu jauh.
“Mianhae...”
Junhoe tersentak, dia langsung menatap wanita itu lekat. “Ji-Jihyun-ah sungguh, aku sama sekali tidak membunuh mereka! Aku bahkan tidak ingat apapun tentang kakak iparmu,”
“Arraseo, aku sudah mendengar semuanya dari Ketua pelayanmu”
“Mianhae Jihyun-ah. A-aku bahkan hidup seperti ini sementara aku sudah melupakan kalau aku adalah seorang pembunuh...”
“Aniya Junhoe-ya, kau sama sekali bukan pembunuh. Itu adalah kecelakaan, bukan kesalahanmu”
“Tapi, aku satu-satunya yang ada sementara mereka pergi__”
“Junhoe-ya hajima!” Jinhyun beranjak dan dengan cepat memeluk Junhoe, menenangkan pria itu yang terlihat sangat shock dengan cerita ini.
“Junhoe-ya, aku mencintaimu, dan aku tidak bisa menyalahkanmu sekalipun kau memang melakukan sesuatu. Aku mencintaimu Koo Junhoe”
“Andwae! Kau tidak boleh bersama pembunuh sepertiku,”
“Kau bukan pembunuh. Ayo jelaskan ini pada Jinhwan Oppa,” Jihyun semakin mengeratkan pelukannya.

            ***

“Kim Jihyun!” Jinhwan langsung beranjak dari meja kerjanya saat melihat Jihyun datang bersama pria itu. “Sudah aku katakan, jangan pernah temui pria ini lagi! Jangan pernah bersama pembunuh, Jihyun-ah”
“Tapi Koo Junhoe bukan pembunuh” Jihyun menggenggam erat tangan Junhoe, berjalan menghampiri Jinhwan dengan yakin.
“Ya! Jelas-jelas dia yang membuat kakak iparmu dan calon keponakanmu meninggal, apa yang kau katakan kalau dia bukan pembunuh?”
“Oppa, itu kecelakaan, sama sekali bukan kesalahan Junhoe. Yunchi Eonnie yang menabrak mobil Junhoe lebih dul__”
“Kim Jihyun!”
Jihyun semakin mengeratkan genggamannya saat Jinhwan berteriak. Rasanya Jihyun akan menyakiti kakaknya karena melakukan ini, tapi ini adalah sesuatu yang salah jika tidak dibenarkan. Kim Jinhwan harus berhenti menyalahkan Junhoe untuk semua itu.
“Oppa, saat itu, setahun yang lalu, kecelakaannya memang terjadi karena Yunchi Eonnie menabrak mobil Ayah Junhoe. Sama sekali bukan kesalahan Junhoe!”
“Ya! Apa kau gila Kim Jihyun? Kenapa kau lebih membela pembunuh itu daripada__”
“Sudah kubilang kalau Junhoe bukan pembunuh! Berhenti mengatakan itu Oppa!” bersamaan dengan jeritan Jihyun, air matanya kembali berjatuhan. Dia harus tetap menjelaskan ini.
“Andwae Jihyun-ah, aku memang pantas disalahkan untuk semua ini” Junhoe melepaskan tangan Jihyun darinya, mendudukkan dirinya dilantai dan memohon pada Jinhwan. “Maafkan aku untuk semuanya, maaf karena aku hidup dalam kesedihan yang kalian alami selama ini, maafkan aku...”
“Ani, Koo Junhoe bangunlah!”
“Ini salahku Jihyun-ah”
“Yah, ini memang salahnya. Dia salah karena menjadi satu-satunya yang hidup sementara istri dan calon anakku meninggal!” Jinhwan kembali berteriak, mengacak rambutnya menahan emosi.
“Oppa, aku mohon berhentilah menyalahkan Junhoe yang bahkan tidak salah. Junhoe juga menderita, dia kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan itu. Dan dia sendiri, dia koma hampir tiga bulan. Junhoe kehilangan semua ingatannya dan hidup sendirian, tanpa tahu apa yang terjadi pada orang tuanya. Aku mohon Oppa, Junhoe tidak salah apapun. Dia tidak pantas Oppa sebut pembunuh...”
“Aku tidak akan peduli dengannya, dia hanya bajingan yang me__”
“Keumanhae Oppa! Jebal keumanhae!” Jihyun menarik tangan Junhoe, membantunya berdiri. Dia kembali menggenggam tangan itu lebih erat. “Aku mencintainya Oppa,”
“Andwae! Kau tidak bisa bersamanya karena aku akan membunuhnya, Kim Jihyun!”
“Oppa, sadarlah! Aku mohon berhentilah, Yunchi Eonnie pasti sangat sedih jika melihat kalau suaminya seperti ini. Dan aku yakin kalau Yunchi Eonnie sama sekali tidak ingin mendengar Oppa menyalahkan Junhoe untuk semua ini...”
“Jihyun-ah, aku sangat mencintainya, aku mencintai istriku...” kali ini suara Jinhwan melembut, tidak lagi ada bentakan seperti tadi.
“Aku mohon Oppa, berhentilah membuat Eonnie sedih dengan seperti ini. Oppa hanya membuat semuanya kacau. Menyalahkan Junhoe tidak akan pernah bisa membuat mereka hidup kembali, mereka sudah pergi”
“Yunchi meninggalkanku...”
“Oppa, Koo Junhoe juga korban disini. Dia hampir tidak bisa membuka matanya lagi, dan dia sendirian. Koo Junhoe juga menderita disini, Oppa! Jadi berhentilah menyalahkannya,”
“Andwae”
“Kalau begitu, maaf karena tidak bisa mendengarkan perintahmu. Aku akan tetap bersama Junhoe, karena aku mencintainya”
“Jadi.... dia bukan pembunuhnya?” Jinhwan perlahan melangkah menghampiri mereka, menatap manik Junhoe. Fikirannya tidak beraturan sekarang, dia tidak tahu bagaimana. Atau mungkin, Jihyun benar. Koo Junhoe bukan pembunuh istrinya.

-fin-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iklaan

SUPER JUNIOR