luhanay blog Follow Dash Owner

Minggu, 14 Februari 2016

[FF] Surfling Chapter 4


Baiklah, sekarang kalian sedang membaca cerita yang aku sebut FF, yang dibuat tanpa niat dan pemikiran lebih. Jari-jari ini bergerak begitu saja menekan tombol huruf-huruf di laptop. Emh, sebenarnya ini juga permintaan dari uri yeodongsaeng yang memintaku membuat cerita dengan cast (oc) Han Yunchi dan Wonho ‘Monsta X’ dan Kim Jinhwan ‘iKON’. Jadilah begini.
Maka dari itu, saya selaku Author yang berani mem-post cerita ini, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan dan ke-tidak sempurnaan yang ada dalam cerita ini. Mohon maaf karena membuat kalian kecewa telah berkunjung ke blog ini dan menemukan cerita tidak jelas ini. Mohon maaf. Terima kasih.

-
--
Tittle                : Surfling
Genre              : School life, Romance
Length             : Chapter
Author             : Cifa Rakay
Cast                 : Han Yunchi // Kim Jinhwan // Wonho // Ji Eundong // other cast
--
-

Kim Jinhwan masih terus mengaduk sup di hadapannya dengan sepasang sumpit yang dia pegang, sama sekali tidak berniat memasukkan sedikitpun dari semua makanan itu kedalam mulutnya. Dia sudah kenyang hanya dengan mengetahui semuanya.
“Hey, apa yang kau lakukan? Makanlah makananmu”
Jinhwan mengalihkan tatapannya pada wanita yang dia panggil Eomma, membuat wanita itu menyimpan sendoknya karena merasa ditatap aneh oleh anaknya.
“Eomma,”
“Apa kau tidak suka makanannya?”
“Bisakah aku membatalkan pertunangan itu?”
“Tidak, itu tentu saja tidak bisa. Kau harus melakukannya untuk menolong perusahaan kita” Ny.Kim mengambil sendoknya dan kembali melanjutkan makan malamnya, tidak lagi menghiraukan Jinhwan yang hanya menanyakan sesuatu yang tidak berguna.
“Jadi kalian menjualku untuk perusahaan?” kali ini Jinhwan menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Tidak, bukan sekasar itu,” kali ini Tn.Kim membuka suara, menjawab pertanyaan Jinhwan dengan sedikit senyuman, yang entah apa artinya. “Appa tidak menjualmu, hanya membuatmu memiliki seorang gadis, dan sekaligus juga menolong perusahaan”
“Tapi aku sudah mempunyai gadis yang aku cintai,”
“Maksudmu gadis itu?” Ny.Kim langsung menatap tajam Jinhwan, membuat namja itu semakin kenyang dengan makan malam ini. “Kim Jinhwan, Eomma sudah katakan berapa kali, kalian berdua tidak akan pernah bersama, kami tidak akan membiarkan kau bersamanya. Dia hanya seseorang yang tidak punya apa-apa, bahkan sekarang dia sudah tidak punya orang tua”
“Jadi Eomma tahu kalau Jungsoo Ahjusshi sudah meninggal? Lalu kenapa tidak memberi tahuku?”
Ny.Kim sedikit berdehem, meneguk air dari gelas di sampingnya. “Itu sudah lama, memberi tahumu tidak akan membuatnya hidup kembali”
“Sudahlah, berhenti mengejar gadis itu. Sekarang kau sudah punya Eundong, bahkan pertunangan kalian sudah di depan mata” Tn.Kim dengan santainya, masih menikmati makan malamnya, tanpa sedikitpun memikirkan tentang itu.
“Tidak bisakah kalian memikirkan perasaanku sedikit saja?”
“Jinhwan-ah, sudah cukup untuk ini. Kau akan bertunangan, jadi berhentilah mengejar gadis lain yang bahkan tidak pantas untukmu. Eomma sudah baik tidak melakukan apapun padanya karena dia keponakan Presdir Ji, bahkan Eomma juga tidak sedikitpun mengungkit tentang hubunganmu dengannya. Berhentilah memikirkan gadis itu.”
“Apa itu maksudnya Eomma akan melakukan sesuatu padanya jika aku bersamanya?”
“Sudah cukup, berhentilah Kim Jinhwan. Mau tidak mau, kau akan tetap bertunangan dengan Ji Eundong”
“Baiklah, jika itu memang harus” Jinhwan menyimpan sumpitnya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kembali menatap Ny.Kim, seolah menyerah.
“Itu memang seharusnya”
“Tapi, bisakah aku aku yang membeli cincin pertunangannya?”
“Kenapa? Eomma sudah memesan cincin untuk kalian berdua,”
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk calon tunanganku. Bukankah ini adalah pertunanganku?”
“Ah yah baiklah, besok ketua pelayan Choi akan mengantarmu,”
“Geurae” Jinhwan mengangguk pelan, meng’iya’kan perkataan Ny.Kim, setidaknya dia memang harus melakukan sesuatu untuk pertunangannya sendiri.

            ***

Setengah dari hari ini sudah berlalu, menyisakan beberapa jam lagi sebelum malam datang. Dan hari ini berjalan dengan baik, walaupun udara terasa dingin memasuki musim gugur.
Hari ini Kim Jinhwan tidak melakukan apapun, hanya duduk dibangkunya dan tidur. Bahkan dia juga tidak melirik Han Yunchi sekalipun, benar-benar tenang. Tidak seperti biasanya, saat tidak ada hari dimana dia tidak lepas menatap Han Yunchi dan memaksa bicara dengannya. Sedikit menyesal memang untuk Han Yunchi, tapi yeoja itu sudah melakukan yang seharusnya.
“Jinhwan-ah....”
Suara itu terdengar lagi, suara riang dan manja Ji Eundong. Yeoja itu selalu bisa datang ke kelas Jinhwan kapanpun, membuat mata yang memandang merasa kalau mereka benar-benar cocok bertunangan.
Jinhwan mengangkat wajahnya, menyipitkan kedua mata sayunya menatap Eundong yang sudah tersenyum lebar dihadapannya. “Bisakah kau tidak memanggil namaku dengan berteriak? Aku tidak tuli.” Jinhwan kembali menempelkan pipinya pada meja dan menutup mata.
“Kenapa? Apa suaraku bermasalah?”
Jinhwan hanya menggeleng dalam tidurnya, tidak menghiraukan yeoja itu. Sebenarnya dia ingin berada sangat jauh dari yeoja manja itu, tapi cerita malah membuatnya terjebak dan terikat dengan Ji Eundong.
“Jinhwan-ah, apa kau lapar? Bagaimana kalau kita membeli makanan?”
“Shirreo!”
“Ah ayolah, aku lapar Jinhwan-ah. Ayo kita keluar...” rengek Eundong dengan ciri khasnya, membuat namja yang mencoba untuk tidur kembali itu menmbuang nafas kasar. “Ayolah Jinhwan-ah...”
“Eundong-ah dengar yah, kalau kau lapar itu, carilah makanan, jangan mendatangiku. Aku ingin tidur, jadi pergilah sendiri”
“Tidak mau!”
“Aish. Menjengkelkan!” Jinhwan beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu, membuat Eundong dengan cepat mengejarnya dan langsung menempel ditangannya.
“Oh, apa itu?” Eundong menunjuk plester bergambar kodok hijau yang menempel di pipi Jinhwan. “Apa kau berkelahi lagi?”
Jinhwan tidak menjawab, hanya berjalan, tidak memperdulikan Eundong ataupun orang-orang yang menatap mereka berdua.
“Kenapa berkelahi lagi?”
Jinhwan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat Han Yunchi berjalan melewati mereka. “Seseorang sudah menghancurkan hatiku, jadi apa peduliku tentang kehidupan yang baik-baik saja?” Jinhwan sengaja menaikkan nada suaranya, membuat yeoja itu mendengar dengan jelas perkataannya.
“Apa maksudmu? Jinhwan-ah, siapa yang menghancurkan hatimu?” Eundong mengapit pipi Jinhwan dengan kedua tangannya, sama sekali tidak menyadari tatapan kesal dari mata namja itu.
“Hanya seseorang yang menyuruhku melupakannya.” Jinhwan melepaskan tangan Eundong dari wajahnya, berjalan cepat dan meninggalkan yeoja yang kembali merengek itu.

Han Yunchi hanya menghela nafasnya untuk kesekian kali, membiarkan matanya tetap tertuju kedepan, yang sebenarnya entah sedang menatap apa. Dia terus mengatakan kalau inilah yang benar, membiarkan namja itu dengan kehidupannya. Tapi mungkin tidak pernah terfikir olehnya, kalau itu rasanya akan seperti ini, sulit.
“Apa kau ingin permen kapas Nona?”
Yunchi langsung berbalik saat telinganya mendengar suara namja yang sepertinya dia kenal, namja dengan abs dan mata sipit.
“Wonho Oppa? Kenapa ada disini?” sedetik kemudian, seulas senyum terlihat diwajahnya, melihat namja itu menyodorkan permen kapas padanya. Entah kenapa, rasanya seperti matahari yang bersinar saat namja itu datang.
“Aku sudah selesai dengan sekolahku, lalu aku merasa ada seseorang yang kehilangan senyumnya di atap sekolah ini. Jadi aku datang untuk mengembalikan senyum itu,”
“Terima kasih. Lalu ini, apa ini untukku?” Yunchi menunjuk permen kapas itu ragu, kemudian kembali tersenyum saat mendapat anggukan dari Wonho. “Terima kasih. Aku sangat suka permen kapas, dulu Ayahku yang selalu membelikannya untukku”
“Benarkah? Ouh astaga...”
“Apa?” Yunchi menatap Wonho tidak mengerti karena namja itu tiba-tiba merubah ekspresinya.
“Berarti aku harus menyembunyikan milikku, jika tidak mau kau mencurinya dariku” Wonho mengangkat tinggi-tinggi permen kapas miliknya, menjauhkan itu dari Yunchi. Lalu mendapatkan pukulan ditangannya dari yeoja itu.
“Tentu saja tidak Oppa, aku tidak akan mencuri milikmu, aku juga punya”
“Oh baiklah, maaf”
Sedikit tawa terdengar dari yeoja itu, membuat Wonho tersenyum karena berhasil membuatnya tertawa. Mereka memakan permen kapasnya masing-masing, dengan sesekali tawa yang keluar lagi dari keduanya.
“Keundae, kenapa Oppa bisa begitu saja masuk kesini?”
“Itu karena aku sangat dekat dengan pemiliknya, jadi aku bisa kesini kapanpun dan melakukan apapun yang aku inginkan. Kenapa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya bertanya”
“Yunchi-ya, apa kau tidak tahu siapa anak dari pemilik sekolah ini?”
“Mwo? Aku hanya tahu kalau itu saudara Jinhwan, tapi aku belum pernah bertemu dengannya. Jinhwan bilang, dia di Itali”
“Apa kau Jinhwan tidak mengatakan padamu kalau dia sudah kembali?”
“Tidak. Lagipula, aku dan Jinhwan sudah berbeda sekarang. Aku hanya teman masa kecilnya. Jadi tidak hak untukku mengetahui tentang keluarganya” Yunchi tersenyum kilat, lalu kembali memakan permen kapasnya.
“Yunchi-ya,” Wonho sedikit berbalik, membuat posisi mereka jadi berhadapan. Namja itu senang bisa melihat Yunchi seperti ini, tertawa, membuatnya semakin cantik walaupun rambut panjangnya sedikit berantakan karena tiupan angin. “Yunchi-ya, aku sudah tahu hubunganmu dengan Kim Jinhwan,”
“Benarkah?” Yunchi lagi-lagi hanya tersenyum. “Tapi itu hanya masa lalu, sekarang kami hanya orang asing”
“Benarkah?”
“Iya. Kim Jinhwan hanya tunangan sepupuku, dan tidak ada hubungan apapun denganku”
“Kalau begitu, apa bisa aku menggantikannya di hatimu?”
Dan suasana tiba-tiba menjadi sangat canggung hanya dengan tiupan angin. Han Yunchi tidak bisa menjawab itu, dia hanya bisa tersenyum menghindar. Dia tidak bisa memasukkan orang lain kedalam hatinya, disaat masih ada seseorang di dalamnya.
“Emh Op-ppa... aku... sepertinya aku__”
“Ah baiklah, tidak usah dijawab sekarang. Aku akan menunggumu... haha, lupakan itu” Wonho dengan cepat memecah kecanggungan itu dengan tawa hambarnya, dia juga mengerti kalau posisi Jinhwan pasti sulit untuk tergantikan.
“Tidak apa-apa, aku hanya bercanda Nona Han. Bukankah sudah kubilang, aku datang untuk membuatmu tersenyum,”
Yunchi kembali tersenyum, memakan permen kapasnya lagi. Setelah itu, suasana sedikit berubah rasanya.

            ***

“Yunchi-ya... Han Yunchi eodiga? Han Yu__” Ji Eundong memotong teriakannya saat melihat calon mertuanya keluar dari kamar  Han Yunchi.
“Oh Eundong-ah, bagaiamana persiapanmu?” Ny.Kim langsung mengalihkan perhatian yeoja itu, membuat tatapan kaget Eundong menjadi senyuman girang karena masalah pertunangannya.
“Aku sudah menyiapkannya, Eommoniem” Eundong langsung berbinar jika membicarakan tentang itu. Dia benar-benar menyukai Jinhwan, tersihir dengan wajah imutnya. Mungkin dia tidak ingat kalau menolak Jinhwan mentah-mentah pada awalnya.
“Baguslah. Dan mungkin, kau harus lebih sering menghabiskan waktu bersama Jinhwan mulai sekarang. Kau bisa main ke rumah kami kapanpun kau mau, menemui Jinhwan,” Ny.Kim menggandeng Eundong perlahan menjauh dari kamar Yunchi.
“Benarkah? Apakah benar aku bisa bertemu Jinhwan kapanpun?”
“Tentu saja,”
Dan mereka menghilang dibalik dinding, menyisakan Han Yunchi yang hanya bisa menghela nafas, mengingat kembali apa yang dikatakan Ny.Kim. Sepertinya memang benar jika dia dan Jinhwan bersama, semuanya tidak akan menjadi baik-baik saja.

            ***

Entahlah, kenapa orang-orang datang dengan cepat dan memenuhi ruangan ini, Kim Jinhwan tidak tahu kenapa waktu jadi semakin cepat sekarang. Membuat usahanya untuk tetap mengulur-ulur waktu, menjadi sia-sia. Sekarang sudah waktunya dia memulai itu, memasangkan sebuah benda bulat berlubang yang disebut cincin.
Ji Eundong tidak berhenti memasang senyuman merekah di wajahnya, membuat Jinhwan hanya menahan diri melihatnya. Karena entah kenapa, senyuman lebar itu terasa sangat menyebalkan untuk Jinhwan.
Eundong sudah mengulurkan tangan kirinya, menunggu cincin itu di masukkan Kim Jinhwan. Dan kali ini, Jinhwan menarik bibirnya tersenyum. Mengambil cincin itu dan menatap manik Eundong, Jinhwan semakin melebarkan senyumannya saat Eundong mengangguk pertanda saatnya dia memasukkan cincin itu.
Perlahan, Jinhwan mulai memasukkan cincin itu perlahan di jadi manis Eundong. Tapi, cincin itu berhenti di tengah. Yah, hanya sampai di tengah jari Eundong. Cincin itu tidak cukup besar untuk jarinya, cincin itu terlalu kecil.
Jinhwan kembali menatap Eundong, juga melirik orang tua mereka. Kemudian, bisik-bisik orang yang bicara di ruangan itu mulai terdengar. Ini benar kejadian luar biasa. Bagaimana bisa cincin pertunangan itu tidak muat karena teralu kecil? Benar-benar memalukan.
Sorotan tajam bak petir, langsung menyambar mata Jinhwan. Dan dia tahu pasti akan ada badai besar setelah ini, Ny.Kim tidak akan memaafkannya untuk ini. Sementara, Kim Jinhwan hanya menyembunyikan senyuman kemenangan di bibirnya. Ini berjalan seperti yang direncanakannya.
“Astaga. Si mungil itu mencari masalah” gumam Wonho pelan, tapi itu masih terdengar jelas oleh telinga yeoja disampingnya. Dan itu berarti akan ada masalah baru setelah ini.
“Ehm. Sepertinya terjadi sedikit kesalahan disini, jadi mari kita beralih dulu pada acara lain. Topik selanjutnya, yang tidak kalah baik, yaitu kerja sama antara King’s Corporation dan JE Group...”
Terpaksa, Tn.Kim langsung mengalihkan perhatian sebisanya. Walaupun mungkin malu sudah tidak bisa ditahan karena ini, tapi setidaknya perhatian para tamu undangan bisa sedikit beralih pada pengumuman kerja sama itu. Sementara pihak mereka menyiapkan solusi untuk cincin kekecilan itu.

Sementara Komisaris Kim dan Presdir Ji mengalihkan perhatian dengan membicarakan program kerja sama mereka, di sebuah ruangan kecil di samping aula hotel itu, Jinhwan terjebak dengan kemarahan Ny.Kim dan calon mertuanya. Tapi, dia sama sekali tidak menyerap umpatan kesal dan amarah Ibunya, hanya didengar telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Lagipula, Ny.Kim tidak bisa lebih mengeluarkan amarahnya pada Jinhwan, karena harus sesegera mungkin mencari cincin lain untuk Ji Endong.
“Eomma benar-benar bodoh sudah membiarkanmu memilih cincin itu!” Ny.Kim masih sibuk menyuruh beberapa pelayannya mencari cincin pengganti yang harus ada sekarang juga, tentunya dengan ukuran yang Ji Eundong. Mereka sudah cukup malu dengan ini.
Dan yeoja yang tadi selalu memenuhi wajahnya dengan senyuman merekah, sekarang hanya bisa menahan tangis karena itu. Eundong masih ditahan oleh Ibunya untuk tidak menangis dan menghancurkan penampilannya. Dan lagi-lagi, Jinhwan tidak memperdulikan itu. Lalu beberapa detik kemudian, Kim Jinhwan berlari meninggalkan mereka.

“Han Yunchi!”
Yeoja itu berbalik dan menatap kaget namja yang sekarang mempercepat langkah menghampirinya. Han Yunchi sengaja pergi dari acara itu diam-diam karena tidak ingin terlibat masalah, tapi Jinhwan malah tetap mengejarnya.
“Yunchi-ya tunggu!” Jinhwan berlari semakin cepat saat Yunchi juga berlari menjauhinya. Dan mereka berhenti saat Jinhwan sudah berhasil menarik sebelah tangan Yunchi, menahannya untuk berhenti menjauh.
“Lepaskan!”
“Tidak!”
“Jinhwan-ah, apa yang kau lakukan? Apa itu rencanamu?”
“Sudah aku bilang, kau tidak bisa menghancurkan hidupku dengan melakukan ini Han Yunchi!”
“Lepaskan aku, dan kembalilah kedalam”
“Saranghae,”
“Jinhwan-ah andwae” Han Yunchi mengerahkan kekuatannya untuk melepaskan diri dari namja itu, tapi entah kenapa, malam ini sepertinya Kim Jinhwan menjadi sangat kuat.
“Aku tahu kau juga mencintaiku, masih mencintaiku. Aku tidak semudah itu untuk kau lupakan, Yunchi-ya. Dan aku akan tetap bersamamu apapun yang terjadi, aku akan melindungimu,”
“Tidak Jinhwan, aku tidak mencintaimu. Jangan lakukan hal seperti ini, kau hanya membuatku dalam masalah. Lepaskan!”
“Jika kau ingin aku berhenti, maka kau harus membunuhku...”
Yunchi menabrak tatapan Jinhwan, tatapan penuh keyakinan. Ini semakin sulit. Andai saja Jinhwan mengerti kalau hanya masalah yang akan datang jika mereka bersama. “Jinhwan-ah aku mohon, jangan seperti ini padaku. Seharusnya kau biarkan aku baik-baik saja jika kau memang mencintaiku, biarkan aku hidup dengan baik dalam kehidupanku tanpa masalah darimu. Kau tidak bisa bersamaku Kim Jinhwan!”
“Tidak. Kita bisa bersama, kau dan aku bisa melawan mereka dan terus bersama. Aku yakin kita bisa menang jika kita bersama, Yunchi-ya aku mohon...”
“Tapi kau sama sekali tidak bisa melindungiku Kim Jinhwan!” Yunchi sedikit menjerit, mengeluarkan tangisnya bersamaan dengan itu. “Kau selalu membuatku menderita dengan semua masalah yang kau berikan, kau selalu membuatku dalam kesulitan, kau membuatku mengorbankan orang lain hanya untuk bersamamu, dan itu sudah cukup. Itu sudah cukup membuatku gila Jinhwan-ah, aku tidak bisa bertahan bersamamu! Hiks Jinhwan-ah.. aku mohon hentikan hiks..”
Jinhwan terdiam, genggaman tangannya perlahan melonggar. Dia sudah tahu sekarang, jadi dia mengerti apa yang dirasakan Yunchi. Tapi, ini sudah terlambat untuk mundur. Mereka saling mencintai, dan harus tetap bersama.
“Mianhae...”
“Biarkan aku tetap baik-baik saja mulai sekarang, berhentilah memberiku masalah”
“Aku... maaf karena aku masih tidak bisa melindungimu, maaf karena membuatmu selalu dalam kesulitan karena bersamaku, maaf untuk semua air mata yang kau jatuhkan karenaku, maafkan aku Yunchi-ya,”
“Ini sudah berakhir,”
“Keundae, Yunchi-ya, apa kau mencintaiku?”
“Aku mencintaimu. Aku sangat sangat mencintaimu, bahkan sampai membuatku gila karena tidak bisa berhenti mencintaimu ataupun melupakanmu. Aku rasanya ingin mati karena tidak bisa mengeluarkanmu dari hatiku, aku selalu memikirkanmu Kim Jinhwan. Aku hanya terus berteriak kalau aku tidak mencintaimu lagi, membohongi diriku sendiri. Bahkan aku masih sangat mencintaimu walaupun hanya kesulitan yang datang jika aku bersamamu, aku tidak bisa menyuruh hatiku berhenti, aku tidak bisa... hiks aku tidak bisa melihatmu dengan orang lain. Aku mencintaimu...”
Akhirnya, pada akhirnya Han Yunchi mengatakan semuanya. Berteriak dan menangis. Dia sudah mengeluarkan semuanya, tapi rasanya itu masih tidak bisa membuat hatinya lega jika mereka masih terus dalam cerita ini. Yunchi hanya ingin hidup bersama namja itu, namja yang tidak bisa dia benci walau apapun yang terjadi.
“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi Yunchi-ya, percayalah kalau kita bisa bersama,”
Dan Jinhwan menarik Yunchi padanya, menempelkan bibir mereka. Kim Jinhwan malah semakin menempelkan tubuh mereka saat Yunchi memukul dadanya dan meronta untuk menjauh, namja itu sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti.
Han Yunchi masih terus memukul dan mendorong Jinhwan untuk menjauh, tapi namja itu terlalu kuat sekarang. Yunchi merasa kalau Jinhwan mulai memberikan lumatan-lumatan pada bibirnya, membuatnya perlahan menghentikan pukulan itu, dan menutup matanya, menerima perlakuan itu.
Tanpa sadar, ada sepasang mata yang melihat itu. Melihat dengan jelas kalau mereka memang saling mencintai dan ingin bersama.
“Tunggu!” Wonho langsung menghadang beberapa pria berjas hitam yang berlari akan menghampiri Jinhwan. “Jangan katakan apapun, jangan beri tahu siapapun tentang ini, tentunya jika kalian masih ingin hidup.” Wonho meyakinkan pria-pria itu kalau ucapannya sama sekali tidak main-main, lalu membiarkan mereka kembali berlari.
Pria-pria berjas hitam itu membawa paksa Jinhwan, menariknya untuk kembali masuk kedalam Hotel dan melanjutkan acara pertunangannya yang sudah dia buat kacau. Meninggalkan Han Yunchi yang sekarang menangis sendirian disana.
“Nona Han, sedang apa kau menangis sendirian di halaman hotel?”
Akhirnya setelah beberapa lama hanya berdiri diam, Wonho berlari menghampiri Han Yunchi. Melepaskan jasnya dan memakaikan itu untuk Yunchi.
“Jangan menangis, kenapa menangis?”
Tapi tentu saja tidak ada jawaban dari yeoja itu, Han Yunchi masih menangis, mengeluarkan perasaannya.
Wonho menarik Yunchi kedalam pelukannya, mengusap kepalanya lembut. “Baiklah kalau begitu, menangislah, tidak apa-apa. Menangislah jika kau ingin menangis, menangislah jika menangis bisa membuatmu lebih baik. Tidak apa-apa, aku akan bersamamu. Menangislah...”
Dan yeoja itu semakin menumpahkan tangisannya dalam pelukan Wonho, tidak peduli kalau air matanya sudah membasahi kemeja namja itu. Sekarang Han Yunchi hanya ingin menangis.

            ***

Plaakk.
Sebuah tamparan lagi dengan mudahnya mengenai pipi Jinhwan, tapi dia masih tetap diam. Menutup rapa-rapat bibirnya. Tidak mengindahkan rasa perih dan panas di pipinya yang sudah memerah karena tamparan itu.
“Sebenarnya apa maksudmu melakukan itu? Apa kau sengaja mempermalukan keluarga kita dengan cara itu? Jawab Eomma, Kim Jinhwan!”
“Jika ini karena kau tidak mau bertunangan dengan Eundong, tidak bisakah kau melakukan sesuatu yang lebih baik daripada mempermalukan keluargamu huh?” berbeda dengan istrinya, Tn.Kim masih sedikit bisa menahan amarahnya. “Setelah ini, apa kau tahu harus di simpan dimana wajah Appa?”
“Dan kau malah menemui gadis itu lagi,”
“Aku mencintainya Eomma!”
“Cinta? Kau fikir cinta itu segalanya? Apa cintamu bisa membantu perusahan kita? Apa cinta juga yang sudah membuatmu menjadi seperti ini?”
“Aku akan tetap memilihnya”
“Kim Jinhwan!”
“Eomma, berhentilah menyiksaku. Aku hanya ingin bahagia dengan hidupku sendiri, aku hanya ingin hidup dengan orang yang aku cintai. Sudah cukup memaksaku melakukan semua yang kalian mau, aku lelah”
“Sebenarnya apa yang sudah gadis itu lakukan padamu, sampai membuatmu berani melawan orang tuamu?”
“Dia tidak melakukan apapun, dia hanya mencintaiku dengan hatinya. Jangan salahkan dia tentang apapun, sudah cukup Eomma membuatnya menderita. Bahkan Eomma sengaja membunuh Ayahnya,”
“Apa yang kau katakan?” Ny.Kim menatap Jinhwan tajam, dia akan kembali menampar anaknya jika Tn.Kim tidak menahan tangannya.
“Bukankah menyuruh seseorang untuk menabrak mobil Jungsoo Ahjusshi, sama saja dengan membunuh? Eomma yang sudah membuat Ayah Han Yunchi meninggal! Eomma yang membuatnya sangat menderita, Eomma yang selalu membuatnya kesulitan, dan Eomma yang seharusnya bertanggung jawab untuk semua itu”
“Kim Jinhwan! Apa sekarang kau berani menuduh Ibumu?”
“Itu bukan tuduhan Eomma, itu sebuah pernyataan. Aku bahkan tidak menyangka kalau Eomma bisa melakukan hal sekejam itu”
“Yeobo?” dan sekarang, tatapan Tn.Kim beralih menatap istrinya, seolah menanyakan kebenaran atas apa yang dikatakan putranya. “Benarkah kau melakukan yang dikatakan Jinhwan?”
“Tidak Yeobo, aku pernah melakukan hal semacam itu. Aku tidak mungkin membunuh, percayalah Yeobo” Ny.Kim mulai panik dan menenangkan suaminya.
“Eomma tidak melakukan itu, tapi jika kau terus seperti ini, kau bisa membuat Eomma melakukan sesuatu, Jinhwan-ah”
“Apa- apa maksud Eomma?” Jinhwan kembali menatap lekat kedua mata Ny.Kim. Sebenarnya, sehina apakah cinta itu? Sampai membuat seseorang bisa melakukan hal gila yang merusak hidupnya dan orang lain.
‘Dan aku akan menjadi anak yang mengecewakanmu, Eomma. Mianhae. Tapi jika Eomma melakukan sesuatu padanya, maka aku tidak akan segan memberi tahu semuanya kalau Eomma sudah menghilangkan nyawa seseorang. Mian’

            ***

“Oppa, dari mana kau tahu ada kembang api disini?” Yunchi melirik Wonho sekilas, lalu kembali memutar tatapannya melihat percikan-percikan kembang api dilangit gelap itu.
“Seseorang memberi tahuku. Bagaimana, kau suka?”
“Emh, aku suka sekali. Terima kasih sudah mengajakku,”
“No. Ya! Aku tidak mengajakmu kesini agar kau bisa melihat itu, tapi aku hanya memintamu untuk menenamiku yang ingin melihat itu” Wonho menepuk pundak Yunchi, meyakinkan yeoja itu dengan ekspresi wajahnya.
“Ah mian, tapi aku tetap berterima kasih”
“Lain kali kau juga harus mengajakku pergi, tidak apa-apa jika hanya membeli eskrim,”
“Baiklah, lain kali aku akan mengajak Oppa jalan-jalan” Yunchi tersenyum, kembali meneguk minuman ditangannya.
“Ah keundae Oppa, kenapa tidak banyak orang yang datang kesini? Padahal kembang apinya bagus sekali. Apa mungkin.... Oppa sengaja membuatnya untukku?” Yunchi menatap Wonho yang langsung mengeluarkan tawa besarnya.
“Aigoo. Kenapa kau percaya diri sekali?”
“Mwoya? Aku hanya heran kenapa hanya kita berdua saja di taman ini, bukankah Oppa bilang ini pesta kembang api?”
“Ya! Mana mungkin aku melakukannya? Lagipula, untuk apa aku sengaja melakukan ini? Jangan menghayal Nona Han, ini sudah malam” Wonho mengusap kepala Yunchi, sedikit mengacak rambutnya.
“Maaf kalau begitu...”
“Kau itu lucu sekali Yunchi-ya”
Sedetik kemudian Wonho mengangguk pelan, dia tidak mungkin mengatakan kalau memang dia yang melakukan itu. Dia tiba-tiba sengaja merepotkan beberapa pelayannya untuk menyiapkan kembang api itu, hanya untuk menghibur Han Yunchi. Dan ternyata itu berhasil. Mungkin Han Yunchi masih sedih dengan itu, tapi setidaknya, dia sudah berhenti menangis sekarang.
“Apa kau kedinginan?” Wonho membenarkan jasnya yang dipakai Yunchi, merapatkan benda itu agar dia tidak kedinginan. Ini hampir tengah malam, dan udara semakin dingin.
“Aniya, aku tidak apa-apa. Apa Oppa kedinginan, karena aku memakai jasmu?”
“Ani ani, gwaenchana. Aku tidak bisa membiarkanmu hanya dengan dress itu, kau menggodaku”
“Mwo?”
Wonho hanya menjawab itu dengan dengan tawa anehnya, membuat Yunchi mengerutkan kening tidak mengerti. Namja itu memang selalu membuatnya tersenyum, tapi kadang juga namja itu benar-benar aneh, sedikit tidak bisa dimengerti.
“Yunchi-ya,”
“Ne?” yeoja itu kembali memindahkan tatapannya pada Wonho, menatap namja itu yang entah sejak kapan jadi sangat dekat dengan tubuhnya.
“Boleh aku mengatakan sesuatu padamu?”
“Tentu saja, katakan saja”
“Tapi mungkin kau tidak mau mendengar ini,”
“Tidak apa-apa, aku tidak akan marah pada Oppa baik sepertimu. Katakan saja,”
“Apa kau tahu kalau aku menyukaimu?” Wonho mempertemukan tatapan mereka, menarik nafas pendek dan kembali membuka suara. “Aku tahu kalau kau mencintai Jinhwan, tapi aku akan tetap berusaha untuk bersamamu. Aku tidak akan mengalah karena Kim Jinhwan. Apa itu tidak apa-apa jika aku seperti itu?”
Beberapa detik Yunchi diam, kemudian senyuman muncul di wajahnya. Dia menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, aku tidak bisa melarang Oppa untuk itu. Semua orang mempunyai hak untuk menyukai. Tapi, maaf karena mungkin ak__”
“Tidak, tidak usah katakan itu, aku mengerti,” Wonho langsung memalingkan wajahnya, sedikit tersenyum dan kembali menatap langit malam. “Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Aku hanya akan bersamamu, tidak masalahkan?”
“Gomawo Oppa”
“Eh Yunchi-ya, mulai sekarang aku adalah sahabatmu. Ah yah, anggaplah aku seperti itu, sahabat yang lebih dari sahabat. Haha. Jadi kau bisa kapanpun minta bantuanku, aku akan selalu ada untukmu”
“Ne Oppa, gomawo”
“Berhentilah mengatakan kata itu, kita ini sahabat yang lebih dari sahabat, ingat? Bersikaplah seperti biasa padaku”
Han Yunchi mengangguk pelan, tersenyum. Dia juga kembali menatap langit malam, kembang api itu masih terus bermunculan, menemani mereka dengan dinginnya malam.
‘Aku akan melindungimu Yunchi-ya’ Wonho tersenyum melirik Yunchi sekilas, menegaskan kalau mulai sekarang dia akan ikut melindungi yeoja itu bersama Jinhwan.
            -end-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iklaan

SUPER JUNIOR