luhanay blog Follow Dash Owner

Sunday, 16 April 2017

Stay [FanFiction]



Tittle: Stay
Genre: Fluff || Length: Ficlet || Rate: 12
Main cast: Koo Junhoe | Lee Hyein
Author: Cifcif Rakayzi
======= ======= =======

Oke, basa-basi dulu.
Saat itu, aku menulis ‘Today, I think I’m sick ...’ diujung atas sebuah kertas, lalu berfikir, dan menambah satu kertas lagi. Akhirnya aku membuat coretan pada dua lembar kertas itu.
Waktu itu, Senin 14 Maret 2016, dan sekarang 15 April 2017 saat aku menemukan kertas itu lagi. Woah daebak. Lalu, daripada dibuang, mending di post, siapa tahu ada yang suka dengan coretan ini.
Yah begitulah.
Sebelum dan sesudahnya, selaku penulis, aku ucapkan terima kasih banyak sudah meluangkan waktu berharganya untuk membaca ini. Semoga bisa menghibur, dan semoga bermanfaat.
======= ======= =======
 
“Uri... geuman kajja.”
Entahlah, mungkin hanya aku atau memang benar kalau udara semakin dingin. Saat angin berhembus, rasanya terasa seperti diserang angin dari ribuan kipas angin raksasa. Sungguh sangat dingin.
Atau mungkin karena berdiri disini? Atap adalah tempat tertinggi dari sebuah bangunan, jadi mungkin angin akan lebih banyak terasa saat berhembus. Tapi atap adalah tempat yang aku suka di sekolah ini, dan aku pasti akan merindukannya setelah lulus nanti.
Dan juga, aku tidak tahu kenapa tidak ada lagi kata yang kami ucapkan, setelah tiga kata itu. Hanya diam membeku, membiarkan salju dan angin membuat kita menjadi es. Aku merasa seperti gelas kaca yang dilempar batu, tapi aku juga merasa seolah melangkah mundur dari tepi jurang. Mungkin semuanya akan baik-baik saja.
“Mianhae,”
Aku menoleh, meliriknya lagi saat dia mengucapkan kata itu. Aku tidak tahu, aku benci dia mengatakan itu, dan sebenarnya dia tidak harus mengatakan itu. Ini bukan kesalahan, dia tidak harus mengatakan itu padaku.
Aku membencinya.
Dia tidak menatapku, pandangannya jauh kedepan. Mungkin kedua matanya sengaja menghindariku, dia tidak ingin melihatku. Tapi itu bagus. Aku tidak ingin air mataku keluar jika dia menatapku.
“Aku tidak memaksamu untuk mengerti, mungkin lebih mudah jika kau membenciku. Maafkan aku.”
“Kenapa?” aku tetap mengunci tatapanku padanya. Entahlah, aku hanya ingin melihatnya dan mendengar alasan laki-laki jahat itu mengakhiri ini.
“Setelah lulus nanti, keluargaku akan pindah ke Daegu, dan aku harus kuliah disana. Ini permintaan Appa.”
Angin yang berhembus kembali menggoyangkan rambut hitamnya, membuat tatanan rambut itu rusak. Yah, aku tahu kalau dia sangat tampan, bahkan sampai membuatku gila.
“Mianhae...”
Aku menggenggam sebelah tangannya, berhenti menatap laki-laki tinggi itu dan memalingkan tatapanku ke depan. Aku hanya menghela nafas, tapi itu bahkan terasa seperti menelan duri.
“Berhenti mengatakan itu. Aku mengerti.” Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku, menjadi bodoh dengan membiarkan bibirku mengatakan itu.
“Tidak, mungkin lebih baik jika aku bersamamu dan_”
“Andwae. Kau harus pergi ke Daegu, kau harus bersama keluargamu. Aku tidak apa-apa, jangan khawatir.”
Sudut mataku merasa kalau sekarang dia menatapku, tatapan yang entah apa artinya. Dan aku, tidak tahu kenapa malah berakting tegar seperti ini. Berkata ‘Tidak apa-apa’ untuk hubungan yang tiba-tiba berakhir setelah hampir empat tahun ini. Ah babo.
“Junhoe-ya, aku punya banyak teman, jadi aku tidak akan pernah kesepian jika bersama mereka. Dan juga, karena tadi kau sudah melepasku, mungkin aku akan memikirkan untuk menerima salah satu namja yang mengejarku...”
“Lee Hyein! Kau jangan berani-berani bersama pria lain.”
Ah, dasar laki-laki aneh. Dia melepaskan tanganku, memutar badanku menghadapnya. Seakarang tatapannya marah padaku. Hey, bukankah tadi dia sudah mengakhirinya? Jadi, kenapa dia marah?
“Wae? Kau bilang kalau kita putus, jadi?”
“Dengar, jika kau dan aku ditakdirkan bersama, maka kita akan kembali bersama, walaupun entah kapan. Tapi percayalah kalau aku akan kembali padamu. Jadi, jangan bersama dengan orang lain.”
Sungguh, aku tidak bisa menahan senyumanku. Matanya yang melotot menegaskan itu padaku, benar-benar lucu. Dengan mendengarnya berkata seperti itu, aku bisa perca kalau laki-laki tinggi ini mencintaiku.
Yah, baiklah, Koo Junhoe, aku tidak akan melepaskanmu.
“Maaf. Aku pikir ini akan jadi lebih baik jika aku mengakhirinya, karena aku tidak tahu kemana kau akan pergi nanti, dan apa aku akan kembali menemukanmu. Tapi aku akan berusaha untuk menemukanmu dan kembali padamu. Jadi simpan hatimu untukku.”
Laki-laki tidak punya abs ini menarik tanganku, membawaku pada pelukannya, dan menyatukan bibir kami.
“Saranghae...” bisiknya setelah itu.
Angin dingin yang berhembus tidak lagi dingin jika aku dalam pelukannya, dan aku akan terus memeluknya, dan bersamanya. Aku sudah bilang kalau aku tidak akan melepaskannya.
Aku tidak tahu sampai kapan bisa memeluknya seperti ini, aku tidak tahu apakah ini ciuman terakhirku dengannya, dan aku takut kalau ini akan menjadi yang terakhir. Tapi tidak, aku harus percaya kalau perpisahan bukanlah segalanya, juga bukan akhir bahagia sebuah cerita.
Aku akan percaya kalau kami ditakdirkan untuk bersama. Dan aku akan menunggunya. Aku akan menjaga hatiku untuknya, juga memastikan tidak ada laki-laki lain yang bisa berdiri disampingku selain dirinya. Aku tidak akan pergi kemanapun, agar dia bisa kembali menemukanku.
            -Fin-

Something Happened to My Heart [FanFiction]



Tittle: Something Happened to My Heart
Genre: Drama || Rate: 15 || Length: Oneshot
Author: Cifcif Rakayzi
Main cast: Kim Rowoon | Baek Juho | Lee Nayoung
========= ========= =========



Lee Nayoung kembali menarik nafasnya dalam, menahan debaran kencang jantungnya. Alasannya, dia tidak begitu yakin untuk mengatakannya sekarang, kekuatan yang dia miliki tidak terlalu banyak. Dia mencoba kembali. Mengangkat tatapannya menatap laki-laki yang masih berdiri dihadapannya, menunggu perempuan itu menyelesaikan perkataannya.
“Nayoung-ah, sebenarnya apa yang ingin kau ka_”
“Kim Rowoon, te-tentang.. pertanyaanmu waktu itu, a-aku bisa me-menjawabnya,”
Laki-laki jangkung bernama Kim Rowoon itu mengernyit, mengingat pertanyaan apa yang dimaksud Nayoung.
“Pertanyaan apa?”
“A-aku.. ah tidak, maksudku.. bi-bisakah kau menerimaku disisimu?”
Kim Rowoon terdiam, seolah tubuhnya terbakar. Dia mengerti maksud perempuan itu, benar-benar mengerti. Pertanyaan yang dimaksud adalah, pertanyaan untuk menjadikan Lee Nayoung sebagai miliknya. Dan sekarang, perempuan itu memberikan jawabannya.
Kim Rowoon masih diam. Bukan tubuhnya yang terbakar, tapi lidahnya yang terbakar. Dia tidak bisa mengatakan apapun, bahkan untuk meneriakkan apa yang ingin dia ucapkan.
“Aku minta maaf membuatmu terlalu lama menunggu, tapi apa kau masih menerima jawabanku? A-aku... aku menyukaimu Kim Rowoon_”
“Mianhae,”
“Huh?”
Nayoung membeku. Detak jantungnya yang tadi menggila, seolah berhenti, lalu kembali berdetak sangat lambat.
Sekarang giliran perempuan berambut sebahu itu yang terdiam. Kata yang terucap dari bibir Rowoon, benar-benar memiliki banyak arti. Dengan cepat pikiran-pikiran gila merasuki kepalanya. Tapi dia tetap berharap laki-laki itu akan mengakhiri perkataannya dengan bahagia.
Tapi sepertinya tidak.
Entah kenapa, air mata itu jatuh begitu saja, dengan cepat menganak sungai dipipinya. Kim Rowoon tidak mengatakan apapun lagi, memberi arti kalau itu sebuah penolakan.
“Aku tidak benar-benar serius dengan pertanyaan itu. Lagipula kau membenciku. Jadi lupakan saja, tidak perlu menjawabnya,”
Deru nafas itu tercekat, debaran jantungnya semakin lambat, Nayoung masih membeku seolah kehilangan benar-benar detak jantungnya.
“Maaf.” ucap laki-laki itu pelan sebelum melangkah dan pergi meninggalkannya. Membiarkannya membeku disana.
“Kim Rowoon...” hanya desahan nama itu yang mampu dia ucapkan, lidahnya kelu untuk berteriak memanggil nama itu lebih keras, kakinya kaku untuk berlari mengejarnya, dia hanya terjatuh lemas dengan sesak didadanya.

“Kenapa? Apa itu bercanda? Apa dia benar-benar pergi dan menolakku? Tapi kenapa? Apa jawabanku terlalu lama untuk dia tunggu? Apa dia sudah melupakanku? Apa dia membenciku karena membuatnya menunggu? Tapi, apa semudah itu dia melupakan semua yang sudah dia lakukan untukku? Ucapannya yang selalu mengatakan dia mencintaiku, senyumannya yang selalu dia berikan hanya untukku, pelukannya yang dia hangatkan untukku, genggaman tangannya yang dia eratkan padaku, apa dia membuangnya? Kenapa?”
            ***

Bugh.
Kim Rowoon tersungkur, setelah mendapat banyak pukulan di tubuhnya, akhirnya dia roboh. Rowoon terbaring di lantai, menormalkan nafas terengahnya. Tetes darah masih keluar dari beberapa lukanya, dan lebam yang perlahan berubah warna. Dia tidak bisa melawan.
“Bangun! Katakan sesuatu jika kau tidak ingin aku menyalahkanmu,”
Baek Juho berdiri di samping Rowoon, menarik nafasnya dalam. Tangannya juga terluka karena memukul sahabatnya itu, tapi dia masih belum merasa cukup.
“Kau memang harus menyalahkanku,”
“Aissh jinjja! Dasar brengsek!” Baek Juho berteriak, menarik laki-laki jangkung itu untuk berdiri, dan kembali memukulnya. Juho mungkin sudah menghabiskan setengah tenaganya untuk semua pukulan itu, tapi kemarahannya lebih besar dari tenaganya sekarang.
“Sebenarnya apa maumu? Kau tidak ingat seberapa besar usahamu mendapatkan gadis itu, seberapa lama kau mempermainkannya, apa kau lupa itu?” Juho terengah, tangannya lemas untuk kembali mengepal, tapi semua pukulan itu masih belum cukup. Mungkin ini tidak akan lebih melelahkan jika setidaknya Rowoon melawan, tapi laki-laki jangkung itu tetap diam.
“Aku tidak mempermainkannya, aku benar-benar mencintainya,” Rowoon menyeka tetes darah dari bibirnya, menatap Juho.
“Lalu apa yang kau inginkan?” Juho menahan dirinya, kembali mencoba mencari kebenaran dibalik tatapan Rowoon. Tapi laki-laki itu sekarang diam.
“Dia menyatakan perasaannya padamu, seperti apa yang kau inginkan. Nayoung menerima cintamu, dan kau menolaknya. Aku percaya kau tidak gila, tapi apa maksudmu melakukannya?” Juho masih menunggu jawaban Rowoon, tapi tidak ada. Dia masih diam, membuatnya juga diam.
Angin dingin berhembus, membelai lembut dan mengirim kedinginannya. Mereka tidak peduli dengan angin itu. Tidak peduli dengan luka yang bertambah perih karena tiupan angin.
“Aku menyerah,”
Keheningan sesaat itu pecah dengan suara pelan Rowoon, membuat Juho segera menarik tatapannya pada laki-laki itu. Menatapnya lekat.
“Menyerah?” perlahan langkah Juho mendekati Rowoon, memaksanya bersiap untuk menahan pukulan tangannya lagi. “Menyerah untuk apa? Menyerah untuk mendapatkannya, atau menyerah untuk bersamanya? Kalau begitu, biar kutanya lagi. Sebenarnya apa yang kau inginkan huh?”
“Aku mencintainya_”
Rowoon melangkah mundur, menyeimbangkan tubuhnya. Walaupun dia lemas dan tangannya juga terluka, tapi pukulan Juho masih terasa berat untuknya. Sepertinya, untuk mendapat kata ‘cukup’ itu, Juho akan menghabiskan semua tenaganya untuk Rowoon.
“Jangan katakan itu seolah kau benar-benar mencintainya!”
“Aku benar-benar mencintainya, tapi aku hanya bisa menyerah...”
“Hentikan! Aku bilang jangan katakan seolah kau mencintainya!” Juho membentak, berteriak, dan terus memukul Rowoon yang tidak melawan.
Nafas mereka terengah, rasa lelah itu sangat terasa, tapi entah kenapa ini belum berakhir. Juho menahan pukulannya, membuang tatapannya kelangit. Dan Rowoon jatuh terduduk.
“Aku tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk diriku sendiri. Dan harus kuakui, aku tidak ingin menyerah, tapi aku dipaksa menyerah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu harus bagaimana!” Rowoon berteriak, namum teriakkannya merendah. Dia membiarkan air matanya keluar, berharap bisa sedikit meringankan pikirannya.
“Ck. Brengsek. Apa maksudmu?” Juho masih menatap langit, mengalihkan emosinya, menepis kalau dia tahu Rowoon menangis.
“Sepertinya aku gila. Ini terlalu cepat untukku, bahkan aku belum sempat menarik satu hela nafaspun,”
Rowoon kembali diam, membiarkan hanya angin yang terdengar, membuat itu sepi. Dia harus mencoba menenangkan dirinya.
“Tidak, aku percaya kau masih memili kewarasanmu. Jadi karena itu, katakan dengan sisa kewarasanmu, katakan padaku apa maksud semua ini, Kim Rowoon!” Juho berhenti menahan dirinya, tidak peduli dengan air mata yang baru pertama kali dia lihat dari mata sahabatnya, dia hanya ingin menghabiskan tenaganya untuk kata’cukup’.
Tapi itu tidak semudah yang dia inginkan, tangannya tidak kuat lagi mengepal dan memukul. Dia lelah. Tenanganya masih belum habis, tapi dia tidak bisa memukul lagi. Laki-laki jangkung itu adalah sahabatnya.
Sekarang, deru nafas kuat itu melambat. Mereka terbaring di lantai, menatap langit yang sebentar lagi ditinggal sang surya.
“Ayah kandungku, yang aku tahu sudah meninggal, tiba-tiba datang menemuiku. Dia tidak meninggal. Dia menatapku, bicara padaku,”
Juho menahan nafasnya beberapa detik, memejamkan matanya menahan perih. Itu gila. “Mana mungkin orang yang meninggal bisa hidup lagi? Kau bohong Rowoon!”
“Dia memintaku tinggal dirumahnya untuk hidup sebagai anaknya yang meninggal. Anaknya yang meninggal sebelum pernikahan. Ayahku memintaku untuk hidup sebagai kakakku yang sudah meninggal,”
Juho menelan ludahnya perlahan, dengan susah payah. Rasanya batu besar sudah dia telan, dan mengganjal di tenggorokannya. “Cerita macam apa itu? Kau gila. Mana ada permintaan semacam itu. Kau bohong Rowoon!”
“Dan aku tidak bisa menolaknya. Bahkan wanita yang selama ini aku panggil Ibu, ternyata bukan Ibu kandungku,”
Juho semakin merapatkan pejaman matanya, menahan dirinya untuk tidak lagi memukul laki-laki pembohong itu. Dia sudah terlalu lama mengenalnya, dan karena itu, dia mengatakan semua yang dikatakan Rowoon adalah bohong. “Hey... hentikan!  Apa kau tidak ingin tertawa dengan cerita bohongmu itu huh? Atau kau sedang mengarang cerita untuk drama sekolah nanti? Tolong hentikan, tidak akan ada yang percaya ceritamu itu, walau itu benar sekalipun. Kau terlalu banyak berbohong Kim Rowoon!”
“Lalu aku harus bagaiamana? Semua ini sangat menekanku.” Rowoon menghapus air matanya, tersenyum kecil. “Hey... aku tidak sedang mengarang cerita. Tapi terserahlah. Aku tahu kau pasti tetap mengatakan aku berbohong, sekalipun kau percaya padaku. Kau sampai menyiksaku seperti ini, pastinya kau sangat mencintaiku kan, Baek Juho?”
Tidak ada jawaban, Juho hanya diam. Membuat keheningan itu kembali menyelimuti.
“Hey Juho-ya, bagaimana ini? Aku tidak bisa menolak, aku tidak tahu harus bagaimana, dan aku mencintai Nayoung. Sepertinya aku memang harus menyerah. Mengakhiri cerita sebagai sahabatmu, sebagai laki-laki yang mencintai Nayoung, dan mengakhiri hidupku sebagai Kim Rowoon. Jika aku tidak bisa menolak, maka aku harus terima sisanya. Menerima hukuman untukku. Aku akan hidup sebagai Kakakku, tinggal bersama Ayah yang aku tahu sudah meninggal, dan meninggalkan Ibu yang ternyata bukan Ibu kandungku.”
Baek Juho membuka matanya, menatap langit yang sekarang sudah gelap. Dia masih menghindari matanya untuk melihat Rowoon, tidak ingin melihat laki-laki itu menangis. Dia juga menulikan pendengarannya. Juho tidak tahu harus percaya cerita itu atau tidak, rasa frustasi itu terlalu nyata dimata Rowoon, yah... terlalu nyata jika itu hanya kebohongan. Dia mengerti. Sekarang Juho mengerti maksud semuanya.
Tapi rasanya, dia tidak ingin mengerti. Juho tidak ingin menerima apapun alasan Rowoon menolak Nayoung, apapun yang terjadi padanya, apapun yang menekannya, dia tidak akan menerima penjelasan Rowoon, apapun.

“Sebenarnya ini hari terakhirku disini, besok aku akan pergi ke Seoul. Pindah sekolah, dan pindah rumah. Ceritaku sebagai Kim Rowoon berakhir hari ini. Dan tadinya, aku ingin membuat perpisahan manis denganmu dan Nayoung, tapi malah seperti ini yang terjadi. Mianhae.”
Juho beranjak, berdiri dan merapikan seragamnya. Menyembunyikan luka itu dengan memasukkan tangannya kedalam saku celana. Menghembuskan nafas kasar. Dia tidak ingin peduli dengan cerita Rowoon, dan juga dia tidak ingin mengerti alasan Rowoon menyerah.
“Juho-ya, maaf karena aku terlambat mengetahui perasaanmu pada Nayoung. Aku terlalu bodoh untuk mengerti perasaan sahabatku sendiri, mian. Tapi itu berakhir sekarang. Kim Rowoon sudah pergi, jadi kau bisa kembali padanya_”
“Bodoh! Kau pikir itu yang aku inginkan? Apa kau sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Nayoung?”
“Aku memikirkannya, karena itu aku memintamu untuk bersamanya,”
Juho berbalik, menarik seragam Rowoon, memaksanya untuk berdiri. “Dengar, aku tidak percaya dengan semua ucapanmu, dan aku aku tidak akan menerima alasan apapun kau mencampakkannya! Dia mencintaimu, brengsek!” Juho tidak akan mempercayai semua itu. Dia tidak ingin peduli dengan alasan itu, dia hanya tidak ingin memberi tolenrasi untuk sahabatnya yang sudah menolak gadis yang dia cintai dalam diam.
“Tidak, itu tidak boleh lagi.” Rowoon melepas cengkraman Juho dari kerah seragamnya. “Kau harus membuatnya menghilangkan cinta itu. Laki-laki yang dia sukai sudah tidak ada.”
“Ya! Apa semudah itu kau meninggalkannya? Kau pikir Nayoung akan baik-baik saja dengan semua ini? Kau anggap apa cintanya padamu?” Juho memukul Rowoon lagi. Tapi itu terlalu lemah, tenaganya ternyata sudah habis. Kepalan tangannya hanya berakhir di dada Rowoon.
“Itu adalah sesuatu yang sangat berharga untukku. Aku senang cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, sepertimu ... haha. Dan aku akan menghilang bersama cinta itu.”
“Ck. Kau gila!”
“Mungkin benar. Sisa kewarasan yang Rowoon miliki, habis sampai malam ini. Dan besok, aku akan terbangun menjadi orang lain, dengan cerita lain, dan penderitaan lain.”
“Sebenarnya apa yang katakan itu huh? Aku tidak mengerti cerita apa yang sudah kau bicarakan dari tadi. Berhentilah mengoceh, aku lelah.”
“Terima kasih. Aku akan berhenti malam ini. Dan karena kau sahabatku, aku akan meminta banyak maaf darimu,”
Juho membulatkan mata, menatap Rowoon yang bersujud dihadapannya. Lak-laki jangkung itu benar-benar sudah gila.
“Hentikan! Kata ‘maaf’ itu tidak akan pernah keluar dariku untukmu. Bangunlah, itu percuma saja.” Juho memalingkan tatapannya. “Sudah kubilang aku tidak percaya padamu!”
“Tapi tetap saja, aku harus minta maaf padamu sebelum mengakhirinya. Dan juga, tolong sampaikan maafku pada Nayoung,”
“Tidak mau!” Juho berbalik, melangkah melewati Rowoon. “Katakan maafmu sendiri padanya. Dasar brengsek.”
Rowoon masih belum merubah posisinya, kembali tenggelam dengan air matanya.
“Nayoung sangat mencintaimu. Dia akan menunggumu sampai kau kembali, jadi ingatlah untuk kembali, dengan kau Kim Rowoon atau orang lain.” Juho pergi, menghilang di balik pintu.

Jika itu benar, maka Rowoon ingin percaya. Dia ingin percaya kalau jalan untuknya kembali itu ada, dan mereka disana menunggunya.
            -Fin-
========= ========= =========
Baiklah, mari aku katakan. Dan pertama, maaf mengganggu dengan sedikit penjelasan ini.
Sebenarnya, ini adalah FF chapter yang aku buat 20 Oktober 2016, dan pada 27 Oktober 2016, FF ini selesai dengan setengah bagian ceritanya menggantung. Karena itu, aku singkat menjadi FF Oneshot, yang bisa di post.
Aku tidak tahu apa bisa memperbaiki FF ini yang chapternya, jadi .. daripada terbuang di Reycicle Bean laptop, lebih baik di post seperti ini. Siapa tahu bisa menjadi penghibur untuk kalian. Karena itu, terima kasih sudah bersedia membacanya.
Dan, oh .. satu lagi. Karena FF yang chapter itu masih tidak jelas statusnya untukku, maka anggaplah FF itu telah selesai bersama dengan di postnya FF ini. Jadi aku sudah buat cerita keduanya. FF ‘Something Happened to My Heart’ Season 2. Di spoiler sedikit. Yang S2 itu mungkin nantinya akan menceritakan kehidupan Rowoon yang hidup sebagai kakaknya dan tinggal bersama keluarga Ayahnya, juga menggantikan pernikahan kakaknya itu. Jadi istrinya juga bakalan di ceritain lah. Itu saja bocorannya.
Karena semua-semua itu, sekali lagi ... aku ucapkan Terima Kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia membacanya. Semoga bisa bermanfaat.


Remember Love You Part 2 [FanFiction]



Tittle: Remember Love You
Rate: 15 || Genre: Drama || Length: Oneshot
Cast: Bobby | Kang Jiho | Koo Junhoe | Lee Suhyun | Kim Hanbin
======= ====== =======


  Part.2

Koo Junhoe menghela nafas bosan, untuk kesekian kalinya dia menekan tombol remote, mengganti channel televesi yang dia tonton. Tapi tidak ada yang menarik perhatiannya, semua acara membosankan.
Setelah bertemu Bobby tadi, Suhyun tidak menghubunginya, bahkan dia meninggalkannya sendiri di halte bus.
Junhoe mematikan televisinya, beranjak dan berjalan menuju jendela. Cuaca tidak begitu cerah, dan angin selalu berhenbus menerbangkan dedaunan. Sekilas pria bermata sipit dan gigi kelinci itu muncul dalam kepalanya, membuat ucapannya kembali terngiang di telinga Junhoe. Dia tidak mengerti maksud pria itu, dia bahkan tidak tahu kalau pria itu sepupunya. Junhoe masih kehilangan banyak ingatannya.
Junhoe melangkah keluar rumah, berharap udara di luar bisa sedikit membantunya lebih tenang.

Pria jangkung ini menghentikan langkahnya, melihat sekeliling, sedikit bingung kenapa dia bisa berjalan ke danau itu lagi. sepertinya dia yang dulu menyukai tempat ini, atau mungkin banyak hal indah yang terjadi disini.
“Junhoe-ya...”
Pria itu menoleh cepat, terkejut dengan suara lembut yang memanggil namanya. Dia ingat suara itu, suara gadis bertopi itu.
“Tidak Junhoe, tunggu!” gadis itu cepat berucap saat melihat Junhoe melangkah mundur hendak pergi. “Hanya sebentar,” dia mencoba menahan.
Junhoe menahan langkahnya, mengurungkan niat untuk lari menghindari gadis itu. jantungnya kembali berdetak tidak beraturan, perasaannya tdak jelas merasa apa, dia hanya tidak tahu harus bagaimana.
“Aku hanya ingin minta maaf,”
Junhoe mengangkat tatapannya, melihat gadis itu. Dia menahan nafasnya, mendengar gadis itu mengatakan maaf dengan suara lembutnya, membuat jantung Junhoe berdetak terlalu kencang sampai sesak, seolah jantung itu akan loncat dari tubuhnya.
Gadis bertopi itu melangkah mendekatinya, membuat Junhoe benar-benar sesak dengan jantungnya sendiri. Dia tercekat. Gadis itu mengulurkan seikat bunga padanya, tapi Junhoe tidak berpikir untuk juga mengulurkan tangannya menerima bunga itu. Junhie diam.
“Maaf karena belum sempat minta maaf padamu sebelum kecelakaan itu, maaf karena memaksamu mengingatku tanpa memikirkan kesehatanmu, dan maaf karena selalu mengganggumu. Aku minta maaf,”
Entah kenapa rasa sesak itu sekarang menusuk hatinya, memberi rasa perih. Junhoe tidak tahu, tapi dia merasa sangat bersalah karena gadis itu menangis dan mengatakan maaf untuknya.
“Ini untukmu,” gadis itu mengulurkan bunga di tangannya lebih dekat pada Junhoe. “Kau sering memberiku bunga dulu, dan sekarang aku yang memberimu bunga.” dengan suara bergetar, dia mencoba tersenyum. Dia berusaha lebih kuat menahan air matanya, walaupun beberapa tetes lolos keluar.
Hening. Junhoe masih tidak membuka suaranya, dan gadis itu terdiam.
“Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak mengingatmu. Jadi jangan minta maaf padaku, ataupun mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti,” Junhoe melangkah melewati gadis itu. “Dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi, aku tidak mau melihatmu.” Ucapan itu yang Junhoe gunakan sebagai penutup pertemuan mereka, lalu meninggalkannya.
Gadis bertopi itu menutup matanya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Hanya mencoba menenangkan dirinya. Dia tidak bergerak sedikitpun, bahkan masih memegang erat bunga di tangannya, bunga yang tidak di terima Koo Junhoe.
Titik-titik hujan datang dengan cepat, sedikit banyak dan mulai membasahi semuanya. gadis itu tersenyum, berterima kasih karena hujan datang. Dia tidak ingin menangis lagi, dan terbantu dengan datangnnya air dari awan itu. Dia tidak perlu menahannya, karena air yang membasahi pipinya bukan air mata, melainkan hujan. Dia akan mengeluarkan semuanya.

“Hey gadis bodoh!”
Gadis bertopi itu mengerjap, benar-benar terkejut dengan pria yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Dengan cepat dia melepas lingkaran tangan pria itu, menjauh, mengangkat tatapannya bertemu dengan dua iris pria di hadapannya.
“A-apa yang kau lakukan?”
Pria bermata sipit itu menatapnya tajam, tatapan sulit di artikan. Dia mengambil bunga yang gadis itu jatuhkan, lalu selangkah mendekat.
“Kau ingin seperti ini? Apa tidak apa-apa jika ceritamu berakhir seperti ini? Benar tidak apa-apa bagimu?”
Gadis bertopi itu melangkah mundur, tatapannya terkunci dengan pria itu. Dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.
“Stupid. Jika iya, harusnya kau tidak perlu menangis. Tapi jika tidak, kejarlah brengsek itu dan lakukan apapun padanya sampai dia mengingatmu benar-benar lagi. Kecuali jika kau senang dengan akhris cerita seperti ini, maka jangan lakukan apapun.”
Gadis itu diam, menahan detak jantungnya yang berdetak cepat. Dia tidak bisa mengatakan apapun, ucapan panjang lebar pria itu benar. Dia menginginkan Junhoe, dan tidak mau ceritanya berakhir seperti ini. Tapi, memangnya apa yang bisa dia lakukan jika menolak, dia tidak bisa melakukan apapun karena Koo Junhoe yang menghentikan ceritanya.
“Dengar, aku minta maaf karena seharusnya aku tidak ikut campur masalahmu. Tapi jika kau menyerah seperti ini, maka jadilah milikku,”
Gadis itu membeku, terpaku dengan akhir kalimat itu, jantungnya serasa lompat dari tubuhnya. Pria sipit itu gila.
“Aku tidak gila, aku hanya jatuh cinta sejak pertama melihatmu. Dan jika kau menjadi milikku, kau tidak usah khawatri karena aku akan mencintaimu denan seluruh cintakku_”
“Hentikan!”
“Walau aku tidak bisa berjanji, tapi akan kupastikan kalau aku akan selalu bersamamu, dan hanya menyimpan namamu dalam hatiku. Aku akan_”
Plak.
Ucapan pria itu terhenti saat sebuah tamparan mengenai sebelah pipinya. Gadis itu melangkah mundur, memalingkan tatapannya dari pria yang sekarang terdiam.
“Sudah cukup, tidak usah mengatakan sesuatu yang tidak kau tahu bisa melakukannya. Dan aku sudah berjanji untuk hanya mencintai pria itu. aku tidak akan mengingkari janjiku sampai mati.”
Pria itu tersenyum, mengusap pipinya sekilas. Kemnali menatap gadis di hadapannya. “Kau menolakku untuk pria yang meninggalkanmu?”
“Aku tidak mengenalmu, jadi ini bukan urusanmu.”
“Hey.. aku sudah mengenalkan diriku padamu waktu itu, kau tidak ingat?”
Gadis itu menatapnya ragu, mengingat kembali apa mereka pernah bertemu.
“Namaku Bobby,”
“Aku tidak tahu siapa kau.”
“Kalau begitu, beri tahu namamu. Dengan begitu kita akan saling mengenal, dan menjadi teman,” Bobby tersenyum, mengulurkan tangannya kehadapan gadis itu.
Hujan masih mengguyur, dan sekarang semakin deras. Mereka tidak memperdulikannya. Tatapan itu bertemu sekarang.
“Kim Jiho.” Jawabnya pelan, lalu berlari meninggalkan Bobby.
“Jadi bunga ini di tinggalkan lagi?” Bobby menatap bunga yang masih dia pegang. Bunga yang tidak diterima Junhoe, dan di tinggalkan Jiho.
            ***

Saat Guru Shin masuk, kelas menjadi tenang dan tertib, seperti biasa. Semua murid duduk di kursinya, bersiap memulai pelajaran untuk hari ini.
“Lee Suhyun,” Guru Shin menahan langkah sebelum duduk di kursinya, melempar tatapan pada gadis berpipi chubby yang sekarang menatapnya.
“Ne?”
“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di luar,”
“Siapa?” Suhyun bertanya ragu. Pikirannya berpikir cepat menebak seseorang yang di maksud Guru Shin.
“Dia bilang sepupumu. Cepatlah temui dia sebelum kita mulai pelajarannya.” Guru Shin duduk, membuka buku ditangannya.
“Ne Saem, terima kasih.” Suhyun mengangguk, beranjak dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Dia melihat sekeliling koridor, tapi tidak ada siapapun disana. Sepi.
“Annyeong Suhyun-ah,”
Kaki gadis itu tertahan saat hendak berbalik, mengurungkan niat untuk kembali masuk kedalam kelas. Nafasnya tercekat melihat seringaian khas pria bergigi kelinci besar itu. Bobby.
“Ayolah, jangan menatapku seperti itu.” Bobby tersenyum, melangkah mendekati Suhyun.
“A-ada apa Oppa kesini?” Suhyun kembali menguasai dirinya.
“Hanya ingin bicara denganmu. Bisa ikut aku sebentar?”
Suhyun tidak sempat menjawab, tangan pria itu sudah menarik tangannya, memaksa mengikuti langkahnya. Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban sepertinya. Dia menarik tangannya sendiri, mencoba melepaskan genggaman itu, tapi tidak bisa. Bobby memaksanya.
“Lepaskan!”
“Tenang, aku tidak akan membunuhmu. Hanya sebentar,”
“Aku tidak mau. Lepaskan!”
Bobby sengaja menulikkan pendengarannya sekarang, tidak peduli Suhyun yang berteriak atau pukulan yang dia berikan. Toh gadis itu tidak cukup kuat untuk melepaskan genggaman tangannya.

“Apa yang kau inginkan Oppa?” Suhyun meringis, langsung memegang tangan kanannya saat Bobby melepaskannya. Pergelangan tangannya merah berbentuk jari, pria itu menggenggamnya terlalu kuat.
Bobby menarik nafas, melihat sekeliling. Atap sekolah. Dia membawa Suhyun kesana. “Suhyun-ah dengar, aku akan minta maaf padamu sebelumnya,”
“Untuk apa?” Suhyun menunduk, sengaja menghindari tatapan pria itu.
“Aku sudah mengerti, dan aku akan merusaknya sekarang. Aku akan menyelesaikan apa yang sudah kau mulai,”
“Apa yang Oppa maksud?” Suhyun langsung melempar tatapan pada Bobby, melupakan niatnya untuk tidak beradu tatapan dengan pria itu.
“Berhentilah, tinggalkan Junhoe,”
“Mwo?” Suhyun tecekat. Tubuhnya benar-benar beku sekarang. Dia mengerti maksud Bobby. Pria itu sudah mengetahui apa yang dia lakukan. Dan rasanya, seolah balok es raksasa jatuh menimpa tubuhnya.
“Jangan teruskan itu, berhentilah. Tidak seharusnya kau melakukan itu. Terlebih, kau melakukannya karena perasaanmu padaku.”
Suhyun melangkah mundur, kakinya bergetar. Dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Lidahnya kelu untuk berucap. Merasa seolah Bobby menusuknya dengan pedang sampai menembus tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan ini salah, kau tidak akan bisa bahagia jika menyakiti orang lain. Dan kau tidak akan bisa membuat hatimu tenang. Berhentilah Suhyun-ah,”
“Hentikan!” Suhyun tiba-tiba menjerit. “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, jadi berhentilah!”
“Jika kau menghentikannya sekarang, itu belum terlambat untukmu me_”
“Aku bilang hentikan!” Suhyun berteriak lebih kencang, menepis tangan Bobby dan membuang tatapannya dari pria itu. “Ini bukan urusanmu. Jangan menggangguku. Jadi pergilah!”
“Ini menjadi urusanku, karena alasanmu melakukannya adalah aku.” Bobby masih menahan ketenangannya, kembali melangkah mendekati Suhyun. “Aku harus menghentikanmu meneruskannya.”
“Hentikan Oppa! Ini tidak ada hubungannya denganmu, dan jangan pernah berpikir aku melakukannya karenamu. Jangan campuri masalahku. Pergi!”
“Jangan berbohong, aku melihatnya dari matamu,”
“Sudah aku bilang hentikan!” Suhyun menjerit frustasi, melangkah mundur menjauhi pria itu. Bobby membaca ceritanya dengan cepat, dan itu sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. “Aku sudah tidak ada hubungannya lagi denganmu, begitu sebaliknya. Jangan ikut campur apa yang aku lakukan. Pergilah tinggalkan aku, seperti yang sudah kau lakukan.”
Bobby membuang nafas kasar. Dugaannya benar. Lee Suhyun melakukan ini karenanya. Dia memang gadis bodoh.
“Suhyun-ah, kau tahu aku tidak akan pernah minta maaf untuk itu. Dan juga, tidak akan ada perubahan walaupun aku minta maaf sekalipun. Aku tidak bisa bersamamu.”
Setelah itu keduanya diam. Angin berhembus, membelai lembut tapi menusuk dengan dinginnya. Pagi cerah itu serasa mendung, seolah petir menyambar terus menerus.
Suhyun mengepalkan tangannya, mencoba bertahan walaupun satu pertahanannya roboh. Matanya tidak bisa menahan air yang keluar, dia menangis. Dasar pria gila.
“Aku tidak akan berhenti. Dan aku tidak peduli.”
“Kau akan menjadi penjahat jika tidak berhenti. Kau membuat Junhoe melupakan Jiho, kau sudah menghancurkan hati mereka, Suhyun-ah,”
“Aku tidak membuat Junhoe melupakan wanita itu, dia sendiri yang tidak mengingatnya.”
“Tidak, kau melakukannya,”
Suhyun semakin mengepalkan tangannya, benar-benar berusaha untuk menahan dirinya, mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin kalah.
“Junhoe tidak mengingat Jiho, tapi kau membuatnya tidak berusaha untuk mengingatnya dan melupakannya. Kau melakukan itu Lee Suhyun!” Bobby setengah berteriak, tidak mengalihkan tatapannya dari Suhyun. “Berhentilah,”
“Ini masalahku, jangan mencampurinya. Aku tidak akan berhenti.”
“Lee Suhyun!”
Gadis yang juga bermata sipit itu terdiam. Teriakkan atau yang lebih tepatnya benatakan Bobby menusuknya. Dua pertahanannya roboh.
“Diam! Aku tidak bisa berhenti. Apapun yang kau lakukan, aku akan menyelesaikannya. Aku akan melakukan apapun yang aku inginkan. Aku hanya ingin membuang sesak dan panas didadaku. Aku ingin kau kembali, dan aku ingin Oppa bersamaku, memilihku, bukan pergi meninggalkanku. Karena itu, aku harus menyelesaikannya, tidak peduli apa yang terjadi padaku atau orang lain, bahkan aku juga tidak peduli kalau aku menyakiti orang lain. Aku tidak pedili jika aku menjadi penjahat, aku tidak peduli_”
Plak.
Tamparan Bobby menghentikan Suhyun, membuat teriakkan itu berhenti, membuat Suhyun tidak menahan air matanya lagi. Bobby melangkah, menarik gadis itu kedalam pelukannya.
“Aku tidak peduli apa yang aku lakukan, karena aku juga menyakiti hatiku...” Suhyun memejamkan matanya, membiarkan Bobby memeluknya. Tiga pertahanannya roboh. Suhyun sudah tidak tahu harus apa untuk mempertahankan dirinya lagi.
“Berhentilah, jangan biarkan hatimu hancur karena apa yang kau lakukan,” Bobby mengusap kepala gadis itu, membiarkannya menangis, mengeluarkan semua yang ditahannya. “Aku menyayangimu. Kau adalah adik perempuan kecilku, yang selalu membuatku tertawa dan menemaniku. Tapi aku tidak bisa bersamamuseperti apa yang kau inginkan. Suhyun-ah, berhentilah, jangan lakukan apapun lagi, sudah cukup.”
Suhyun membuang nafas lega. Semua pertahanannya yang tersisa roboh, dia kehilangannya.
            ***

Koo Junhoe masih menatap kursi kosong itu. Jika sudah disana, tatapannya seolah terkunci dan tidak bisa beralih. Kim Jiho masih tidak sekolah, bahkan ini sudah hampir dua minggu.
“Junhoe, kau mau menginap disini?”
Seorang murid pria datang, membuyarkan lamunan Junhoe. Kelas sudah selesai dari setengah jam yang lalu, dan Junhoe masih duduk di kursinya.
“Tentu saja tidak, aku akan pulang.” Junhoe membawa tasnya dan beranjak.
“Kau dari tadi melamun disini?”
“Aku tidak tahu,”
“Baiklah, aku tidak mengerti yang kau katakan. Aku pergi.” pria itu berlari pergi, meninggalkan Junhoe. Dia hanya datang mengambil sesuatu yang tertinggal.
Junhoe menarik nafas dalam, menarik kursi itu lagi sekilas, sebelum mulai melangkah menuju pintu.

“Junhoe...”
Kedua mata pria itu membulat, menatap gadis bertopi yang tiba-tiba datang menghampirinya. Gadis itu membawa seikat bunga lagi di tangannya.
“Aku tahu kau tidak mau melihatku, jadi maaf karena mengganggumu lagi. Tapi aku pastikan ini yang terakhir.”
Gadis itu tersenyum. Dan itu adalah senyuman pertama yang dilihat Junhoe sejak melihatnya ‘kembali’.
Junhoe membuang nafasnya pelan, menarik tatapannya, menunduk, menghindari gadis itu.
“Jika kau begitu tidak ingin melihatku, tutup saja matamu. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat.”
Junhoe menutup matanya saat telapak tangan Jiho membelai wajahnya lembut, menutup pandangannya. Junhoe merasakan sentuhan itu dengan jelas, begitu lembut dan hangat. Kim Jiho memeluknya.
Junhoe diam, seolah terkena sihir menjadi patung. Jantungnya yang berdetak tidak beraturan, perlahan kembali pada detak normal seiring mengeratnya pelukan itu. Pelukan dan kehangatan Jiho membawa ketenangan untuknya.
“Junhoe-ya, aku merindukanmu...”
Dalam ketenangan, dalam detak normal, jantung Junhoe berpacu cepat. Suara lembut itu, terdengar menyenangkan dan menyakitkan bersamaan di telinganya. Dia tidak tahu kenapa.
“Tapi ini adalah perpisahan kita. Aku akan menerima permintaanmu, untuk tidak lagi muncul di hadapanmu.”
Isakan itu, Junhoe bisa merasakannya. Jiho menangis. Hanya mereka berdua di ruang kelas itu, sepi, membuat ucapan pelan Jiho terdengar seperti teriakkan frustasi yang membelah sore.
“Dan juga, aku akan menepati janjiku. Aku sangat mencintaimu Junhoe-ya, dan akan selalu mencintaimu. Maaf sudah menyusahkanmu,”
Koo Junhoe terusik dengan perkataan itu, kata maaf. Entah kenapa rasanya dia tidak ingin kehilangannya, dengan arti lain dia tidak ingin Jiho benar-benar menerima permintaannya. Mungkin dia egois, tidak mau menerimanya dan juga tidak mau ditinggalkannya, tapi Junhoe sadar melakukan apa, dia kehilangan ingatannya.
“Aku selalu ingin kita bersama, selamanya. Dulu kau juga selalu mengatakannya, kau ingin bersamaku selamanya. Tapi sekarang, kau tidak sama, Jun. Keinginanmu berbeda, dan itu menyakitkan. Kau ingin aku menghilang dari pandanganmu,”
Isakan itu semakin jelas terdengar, bahkan sekarang Junhoe juga bisa merasakan detak kencang jantung dipelukannya.
“Jun, kau tahu? Aku menangis semalamam setelah mendengar ucapanmu. Rasanya aku ingin menamparmu, dan juga memelukmu, menangis dalam pelukan hangatmu. Kau jahat Koo Junhoe, aku memebencimu!”
Junhoe membuka mata saat merasakan kecupan di bibirnya, dan sekarang dia melihat Jiho tersenyum di hadapannya, dengan air mata yang menganak sungai di pipinya. Senyuman itu manis, tapi menyakitkan.
“Annyeong Koo Junhoe...”
Kim Jiho berlari, cepat, meninggalkan Junhoe sendirian disana. Dan walaupun pria itu ingin berlari mengejarnya, nyatanya dia hanya tetap berdiri ditempatnya seolah kedua kakinya menyatu dengan lantai. Kim Jiho pergi.
            ***

Bobby merubah posisi duduknya, meliik sekilas perempuan di sampingnya. Sore ini tidak terlalu dingin, dan langit masih indah dengan sisa bias cahaya matahari yang baru saja pulang.
Sebenarnya, begitubanyak pertanyaan yang ingin dia ucapkan, tapi tidak sopan namanya jika menyerang seseorang yang baru dikenal dengan banyak pertanyaan. Jadi, Bobby hanya kembali menarik nafas dalam, memperhatikan Kim Jiho.
“Emh...jadi, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”
Jiho menarik tatapannya pada laki-laki itu, menatapnya beberapa detik lalu kemudian mengangguk sebagai jawaban.
“Apa kau sangat menyukai topi? Kau selalu memakai topi itu kemanapun,”
Jiho melepas topi yang dipakainya, tersenyum menatap tulisan ‘Ju-Ne’ yang menghias topinya. Kemudian tatapannya perlahan teralih pada langit.
“Tidak begitu. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai topi, rasanya sedikit merepotkan memakai benda ini di atas kepalaku.”
“Huh? Lalu kenapa aku selalu melihatmu memakai topi itu?”
Jiho menarik nafas, membuangnya lambat. “Ini topi milik Koo Junhoe, dan ‘Ju-Ne’ adalah nama panggilan yang dia berikan padaku untuknya. Setelah Junhoe kehilangan ingatannya dan melupakanku, aku selalu memakai topi ini kemanapun,”
Hening. Jiho menahan ucapannya. Bobby hanya menatap perempuan itu dalam diam, dia yang mungkin sedang terbang dengan pikirannya mengingat laki-laki itu.
“Dan aku menjadi aneh. Aku menganggap topi ini adalah dirinya. Dengan aku memakainya, maka aku akan selalu bersamanya. Walaupun yang sebenarnya dia melupakanku.”
Bobby menarik nafas dalam, merasa bersalah karena membicarakan topi itu. Tentunya dia tidak akan menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan laki-laki bermarga Koo itu, tapi dia tidak tahu kalau semua berhubungan dengannya.
“Emh begitu ya. Dan menurutku itu tidak aneh, kau hanya menggantikan se_”
“Bobby-sshi,”
Bobby menghentikan ucapannya, menatap perempuan itu lebih dalam. Merasakan sesuatu yang baru dia sadari, darinya. Perempuan itu menatapnya. Dan sesuatu itu adalah senyuman. Kali ini Kim Jiho tersenyum, padanya, dengan senyuman miliknya. Entah kenapa, rasanya sore ini, gagis bertopi itu tidak seperti biasanya. Dia lebih tenang, hangat, dan terlihat lega.
“Ya! Aku lebih tua darimu. Panggil aku Oppa!
“Ke-kenapa?”
“Kau harus menghormati yang lebih tua darimu. Jadi, panggil aku Oppa.”
“Baiklah. Bobby Oppa,”
Dia tersenyum lagi. Rasanya seperti pagi hari yang indah. Bunga yang mekar, dan hangat matahari pagi yang baru datang. Perasaan itulah yang dirasakan Bobby dari senyuman Kim Jiho. Gadis bertopi itu berubah.
“Hey... a-apa terjadi sesuatu padamu?”
“Sesuatu seperti apa maksudnya? Aku baik-baik saja.”
Bobby menarik nafas lebih dalam. Dia benar-benar merasakan sesuatu pasti sudah terjadi padanya, perempuan itu bukan lagi dirinya.
“Bobby Oppa, aku minta maaf,”
“Maaf? Untuk apa kata itu kau berikan padaku?”
“Maaf karena sudah menamparmu waktu itu, aku tidak bermaksud untuk melakukannya,”
“Baiklah, sudah, tidak apa-apa. Aku sudah melupakannya. Lagipula itu memang salahku.”
“Terima kasih.”
Bobby sedikit melebarkan tatapan dari mata sipitnya. Kim Jiho benar-benar mekar dengan senyumannya sekarang. Senyum yang indah. Jantungnya berdetak lebih, lebih, dan lebih kencang setiap detik dari tatapan mereka.
“Kim Jiho, kau- ... a-apa benar tidak terjadi sesuatu padamu? Kau baik-baik sa_”
“Senang bisa bertemu denganmu, Bobby Oppa. Terima kasih.”
“Ji- Jiho....”

Dia masih bisa melihatnya, tapi rasanya dia sudah kehilangannya. Entah pandangannya yang tidak lagi menemukannya, atau dia yang tiba-tiba menghilang. Itu perasaannya. Sore itu sepi.
            ***

Lee Suhyun mengeratkan genggaman tangannya pada Bobby, menarik nafas bersama dengan menguatkan dirinya. Ini yang harus dia lakukan, jadi dia tidak boleh lagi mengacaukannya.
Sudah cukup baginya kalau Bobby masih menyayanginya, dia tidak boleh menjadi gadis serakah yang menghancurkan hati orang lain untuk keegoisannya. Dan karena Bobby pula, dia menadapat keberanian untuk berhenti dan minta maaf.
Yah, dia akan mengatakan semuanya dan minta maaf pada mereka. Itu rencananya pagi ini. Dia sudah meminta Koo Junhoe datang ke danau itu, karena pasti Kim Jiho ada disana. Suhyun akan bersujud mengatakan maaf sampai suaranya habis dan lebih dari itu. Karena dia benar-benar harus minta maaf pada mereka berdua.

“Oppa, apa Jiho akan ada disana?”
“Dia pasti disana. Kemarin aku bertemu dengannya,”
“Baiklah..” Suhyun menarik nafas dalam.
“Tenanglah, jika kau sungguh-sungguh, aku yakin mereka akan menerima maafmu.”
Suhyun mengangguk, mencoba percaya dengan ucapan Bobby. Mereka masih berjalan menuju danau itu.

Tidak seperti biasanya, danau yang sepi itu sekarang ramai. Ada kerumunan orang disana. Bahkan beberapa poli juga ada disana. Mereka membicarakan sesuatu, dan pastinya itu penting jika sampai melibatkan polisi.
“Permisi, boleh aku tahu apa yang terjadi?” Bobby bertanya pada seseorang diantara kerumunan itu.
“Lihatlah, seseorang tenggelam disana,”
Bobby langsung menarik tatapan kearah yang ditunjuk orang itu. Disana, seseorang terbaring. Tepatnya, seorang perempuan berambut panjang terbaring, pucat dan kaku. Dia sudah meninggal.
Bobby melangkah semakin mendekat. Penglihatan matanya mengenali orang itu, tapi tidak mungkin, dia harus memastikannya lebih. Bobby semakin mendekat.
“Kami menemukan gadis ini sudha mengambang di danau,” ucap seseorang pada polisi.
“Dari kondisi mayatnya, sepertinya dia sudah meninggal dari kemarin. Apa tidak ada seorangpun yang mengenalnya?” Polisi itu mengedarkan tatapan, mencari kemungkinan seseornag yang mengenal mayat itu.
“Tidak. Kami tidak mengenalnya,”
“Aku pernah melihatnya, tapi sama sekali tidak mengenalnya. Sepertinya dia tinggal di sekitar sini,”
Beberapa orang menjawab. Mereka masih saling bertanya tentang siapa mayat perempuan itu. Perempuan berambut hitam panjang.
Bruk.
Bobby terjatuh. Kakiknya seolah tiba-tiba kehilangan tulang untuk menyangga tubuhnya, nafasnya tercekat, dan matanya perih melihat itu. Melihat perempuan yang kemarin sore bersamanya dan sekarang sudah terbaring menjadi mayat. Kim Jiho.
“Ji- ... Ki- Kim Jiho!” Bobby benar-benar sesak, dia tidak percaya dengan yang matanya lihat, itu pasti bohong. Mayat perempuan itu Kim Jiho. Perih, kedua matanya perih melihat itu.
Juga seseorang yang masih berdiri disamping Bobby, Lee Suhyun. Perempuan itu membatu. Berusaha membuat dirinya terus menrik dan mengeluarkan nafas dengan benar, tapi mayat di hadapannya seolah membuatnya lupa bagaimana cara bernafas.
“Nak, apa kau mengenal perempuan ini?” seorang polisi menghampiri Bobby.
            ***

Koo Junhoe masih berdiri di depan danau itu, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya. Dia tidak peduli.
Dia merasa seseorang menemaninya, menggenggam tangannya, membantu dirinya mengingat sesuatu yang dia lupakan. Perlahan dia merasakannya. Dia merasakan seseorang memeluknya, ditengah hujan dingin itu, pelukan hangatnya begitu nyaman. Kehangatan yang sangat dia kenal. Dan sekarang, sangat dia rindukan.
“Kim Jiho...”
Koo Junhoe membuang nafas lega, ingatannya kembali. Yang dia lupakan adalah Kim Jiho, kekasihnya.

            -Fin-


review Part 1

SUPER JUNIOR