luhanay blog Follow Dash Owner

Sunday, 16 April 2017

8p.m [FanFiction]



Begini, entah kenapa tiba-tiba Han Yunchi kembali memintaku membuatkannya sebuah FF. Dan entah kenapa, dia mendadak mau membaca cerita yang aku tulis. Padahal, dia selalu mengatakan ‘TIDAK’ dengan kerasnya setiap kali aku meminta. Jadi aku tetap tidak tahu kenapa, dan ada apa. Ah sudahlah lupakan. Han Yunchi is my little sister.
Setelah dia meminta cerita dengan cast Jeon Wonwoo, Kim Jinhwan-Wonho, dan sekarang dia meminta Park Jimin-Vernon.
Oh mungkinkah? Sekarang dia sudah mendapat pencerahan untuk melirik tulisan-tulisanku? Mungkinkah? Atau jangan-jangan.... dia adalah penggemar rahasiaku sebenarnya, dan selama ini dia malu untuk mengakuinya? Ah itu bisa terjadi. Huahaha.
“Ya! Han Yunchi! Jangan mentertawakanku saat membaca ini! Awas!”
Baiklah, sudahi saja asal muasal coretan ini. Bukankah seseorang yang datang kesini adalah untuk membaca tulisanku, jadi semua ocehanku tidak penting. Geurae geurae, silahkan membaca.


|| Author: Cifcif Rakayzi ||
|| Tittle: 8p.m || Genre: Romance, Hurt || Rate: 15 ||
|| Length: Oneshot || Cast: Park Jimin, Han Yunchi, Vernon ||
|| Disclaimer: cast milik Tuhan YME, cerita oleh Cifcif-Han Yunchi ||
|| ------------------------------------------------------------------------------------------ ||

 “Aku merindukannya....”
“Ish. Menjijikan!” Kim Taehyung hanya bisa memutar bola matanya melihat tingkah pria bermarga Park itu. Seharian ini pria yang bersamanya hanya duduk, menempelkan sebelah pipinya pada meja dan bergumam tidak jelas. Seperti mayat hidup.
“Sudah hampir seminggu sejak aku terakhir bertemu dengannya, dia juga tidak membalas pesanku, mengangkat teleponku, dan bertemu denganku,”
“Ya Park Jimin! Berhentilah mengoceh, kau membuat semangat belajarku hilang. Jika kau merindukannya, datangi dia dan katakan kau merindukannya. Bukankah itu mudah?”
“Ani, aku sudah mencobanya.”
“Lalu?”
“Dia tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum kemudian perlahan menghilang,” Jimin merubah posisinya, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Seseorang disana berhasil membuatnya setengah gila seperti ini.
“Ck. Kau gila. Kalau begitu, berhenti memikirkannya dan kerjakan tugasmu!” Taehyung menunjuk setumpuk buku tebal yang masih rapi tersimpan dihadapan mereka. Karena mood Jimin yang tidak bagus, keduanya tidak bisa mengerjakan satu tugaspun hari ini.
“Taehyungie, apa aku tidak tampan?” Jimin langsung memutar tubuh Taehyung menghadapnya, membuat mereka bertatapan.
“Emh kurasa memang tidak, tapi mungkin bukan itu alasannya. Kau dan dia sudah terlalu lama bersama, kalian berdua bahkan sudah terlalu banyak tahu tentang masing-masing. Jadi mungkin dia tidak melihatmu seperti laki-laki.”
“Apa maksudmu? Apa dia melihatku seperti wanita?” Jimin mengerutkan keningnya, membuat pria dihadapannya menghela nafas frustasi.
“Bukan begitu, maksudku dia tidak menganggapmu sebagai seseorang yang bisa dia sukai dan dijadikan pacar, mungkin dia hanya menganggapku sebagai kakaknya.”
“Benarkah?”
“Molla. Itu hanya menurutku, jadi lupakan dia dan kerjakanlah tugasmu, agar aku bisa cepat pulang dan tidur. Kau tahu betapa melelahkannya berada disampingmu saat kau sedang gila seperti ini?” Taehyung membuka bukunya juga buku Jimin, memberikan alat tulis pada pria itu, dan membulatkan matanya untuk memaksa Jimin mengerjakan tugasnya.
“Padahal dia hanya anak-anak, tapi aku bisa gila seperti ini,”
“Lupakan dia sekarang, Park Jimin!”
“Aish ara ara!”
Dan akhirnya, setelah beberapa paksaan keluar dari pria bermarga Kim, pria bermarga Park bisa juga mengerjakan tugasnya. Membuat waktu mereka menjadi lebih berguna daripada memikirkan seseorang yang jauh disana. Dan juga, mempercepat waktu pulang untuk pria bermarga Kim.
“Sunbae! Jimin Sunbae!”
Jimin menoleh. “Oh Yerin-ah?” dia tersenyum pada seorang gadis imut yang berjalan menghampiri mereka juga dengan senyuman merekahnya.
“Aish. Ada lagi yang menganggu” gumam si pria bermarga Kim kesal. Dia dan Jimin harus segera menyelesaikan tugas itu sebelum sore, dan dia sudah cukup menahan amarahnya karena seseorang yang menari dalam pikiran Jimin.
“Apa aku boleh bergabung? Aku tidak menganggu?” gadis itu begitu saja duduk diantara mereka.
“Sangat mengganggu, jika boleh jujur.” pria bermarga Kim bergumam pelan.
“Ne?” dia mengernyitkan alisnya saat mendengar ucapan Taehyung, membuat pria itu hanya tersenyum dengan tatapan aliennya.
“Ah tentu saja tidak menganggu... haha.” dan pria bermarga Park itu hanya tertawa, tidak peduli sumpah serapah apa yang sedang temannya ucapkan sekarang karena kembali menunda tugasnya.
            ***
Pria berotot dengan perut kotak-kotak itu kembali menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya, sudah hampir lima belas menit dia berdiri di depan gerbang itu menunggunya, tapi yang di tunggu belum juga terlihat.
“Haksaeng, apa kau sedang menunggu pacarmu?”
Park Jimin menoleh, melihat pria tua yang memakai seragam penjaga bicara padanya, dan sedetik kemudian dia menggeleng cepat. Menepis pertanyaan itu. “Tidak, bukan pacarku. Aku hanya sedang menunggu adikku, yah benar... adikku, haha.” dia tertawa kikuk.
“Eoh benarkah, kukira kau sedang menunggu pacarmu,” Ahjusshi penjaga itu tersenyum menggoda.
“Aniya, dia bukan pacarku,” alhasil, Jimin hanya tersenyum tidak jelas. Mungkin, jika berkesempatan, dia akan berdiri disini lagi dan menunggu gadis itu sebegai kekasihnya. Mimpi.
“Kau sudah menunggu lama, tapi sekolah mungkin selesai lima menit lagi,”
“Mwo?” Jimin mengerutkan keningnya menatap pria itu. “Kenapa Ahjusshi tidak mengatakannya dari tadi? Tau begitu, aku tidak akan datang secepat ini,”
“Kau tidak bertanya padaku, jadi apa yang harus aku katakan padamu?”
“Aigo. Aku sudah membuang waktuku dari tadi disini.” Jimin menghembuskan nafasnya kasar, melirik jam di pergelangan tangannya dan gedung sekolah itu berganntian.
Tidak ada pilihan lain, selain menunggu lagi. Jika dia memang mau menjemput gadis yang sudah membuatnya gila akhir-akhir ini.
Tapi kemudian, penantiannya selesai. Murid-murid sekolah itu mulai keluar. Dengan cepat dia merapikan penampilannya, memasang senyum terbaiknya untuk menyambut seseorang yang dia tunggu.
Dia datang.
“Jimin Oppa?”
Seorang perempuan menghampiri pria itu, menatapnya aneh. Pasalnya, pria yang juga tetangganya itu, sangat tidak mau untuk datang ke sekolahnya, apalagi untuk menjemputnya. Jadi ini adalah peristiwa mengejutkan.
“Annyeong Yunchi-ya,” Jimin melebarkan senyumannya.
“Apa yang sedang kau lakukan disini? Tidak mungkin Oppa datang untuk menjemputku kan?”
“Aku memang datang untuk menjemputmu. Apa kau akan pulang sekarang?”
“Woah... daebak! Apa yang terjadi padamu sampai kau datang menjemputku?”
“Aish. Sudah, jangan banyak bicara. Masuklah,” Jimin membuka pintu mobilnya, memaksa Yunchi masuk. Dan mereka pergi.
            --- ---
Mungkin hari ini hujan tidak akan turun, karena sore ini, langit masih cerah dengan sinar matahari. Angin yang berhembus perlahan, anak-anak yang bermain di taman, juga bunga-bunga yang masih mekar, menghias sore itu.
Dan di salah satu kursi taman itu, mereka berdua masih bercanda dengan eskrim di tangan masing-masing. Jimin membawa gadis itu duduk di taman ini.
“Hentikan! Kau merusak wajah tampanku,” Jimin menggeser duduknya, menjauh dari Yunchi yang terus berusaha mengotori wajahnya dengan eskrim.
“Wajah mana yang Oppa kira tampan itu?”
“Ah kau ini, apa kau tidak tahu kalau di kampus banyak wanita yang mengatakan aku tampan?”
“Mungkin mereka hanya berbohong, tidak usah diambil hati. Jalani saja apa apadanya... haha.”
“Ya!” Jimin sedikit berteriak, mengurungkan niat Yunchi untuk kembali mengoleskan eskrim pada pipinya. Pria itu marah.
“Ah baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi.”
Mereka tenang sekarang. Jimin kembali menggeser duduknya, mendekati Yunchi. Mereka menghabiskan eskrim yang tersisa di tangan masing-masing.
“Keundae Oppa, sebenarnya kenapa tiba-tiba datang menjemputku?”
“Aku tidak menjemputmu, tadi hanya kebetulan lewat, jadi aku sekalian menunggumu saja.”
“Em geurae. Kukira Oppa merindukanku,”
Yunchi tertawa pelan, membuat Jimin diam dengan alasan itu. Sebenarnya Jimin memang datang karena itu, tapi rasanya sedikit memalukan jika dia mengatakannya. Jadi, berbohong sedikit membantu.
“Yunchi-ya, apa kau benar-benar sibuk dengan sekolahmu?”
“Ya! Apa  maksudmu?” Yunchi melotot menatap Jimin, meminta arti lain untuk pertanyaan itu. “Aku harus membuat banyak persiapan untuk ujian, dan aku benar-benar sibuk. Oppa pikir aku hanya bermain di sekolah? Aigoo menyebalkan...”
“Bukan itu maksudku, aku hanya mencari tahu kenapa kau menghilang akhir-akhir ini. Sulit sekali menemukanmu,”
“Untuk apa kau mencariku?”
Jimin menelan ludahnya, mengalihkan tatapannya. Ini memalukan. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu kemana Han Yunchi yang selalu menempel padaku,”
“Oppa, siapa yang menempel padamu? Sekarang aku sudah besar, aku juga sibuk dengan kehidupanku sendiri,”
“Ya!” Jimin menjitak kening Yunchi, membuat gadis itu meringis. “Baiklah terserah kau saja. Tapi jika kau merindukanku, kau bisa kapan saja datang padaku,”
“Anio, itu tidak akan lagi.” Yunchi membuang pandangannya, menelan eskrim terakhirnya.
“Kenapa? Kau sudah punya pria lain?”
“Mwo?” Yunchi hampir tersedak dengan ludahnya sendiri, tapi dia bisa kembali menguasai dirinya. “Kenapa bicara seperti itu, memangnya kau siapa? Lagipula Oppa bukan priaku.”
Jimin mengeluarkan tatapan laser padanya, lalu mengalihkan tatapan. Itu benar, tapi rasanya, setelah mereka bersama sejak kecil, gadis itu terasa seperti miliknya.
Kemudian hening. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Yunchi-ya,” Jimin kembali bersuara, memecah keheningan mereka.
“Apa lagi?”
“Sebenarnya ada yang harus aku katakan padamu, kau mau mendengarnya?”
“Ah benar, aku juga harus memberitahu Oppa sesuatu. Tapi sekarang aku masih belum tahu bagaimana hasilnya, jadi bisa kau tunggu itu sampai aku mendapatkannya?”
“Memangnya apa?”
“Aku akan mengatakannya nanti, jadi katakan apa yang ingin Oppa katakan nanti. Oke?” Yunchi tersenyum, mengacungkan kelingkingnya menunggu jawaban Jimin.
“Baiklah...” Jimin menghela nafas, mengaitkan kelilngkingnya dengan kelingking gadis itu. Dia akan menunggu.
            ***
Mobil hitam itu berhenti, dan seperti biasa, sang supir akan keluar setelah membuka pintu mobilnya. Park Jiminpun keluar.
Senyuman merekah langsung menghias wajahnya saat kedua manik mata itu melihatnya, Han Yunchi. Gadis itu baru saja keluar dari rumahnya, dengan wajah murung dan dua buku ditangannya.
“Yunchi-ya...”
Tapi senyuman merekah itu menyusut, dan perlahan menghilang. Han Yunchi tidak membalas senyumannya seperti biasa, dia hanya diam dengan mata sembab. Sepertinya sore ini tidak terlalu baik untuk gadis itu.
“Kenapa, apa kau sakit?” Jimin melangkah merapatkan tubuhnya dengan pagar rumah, berusaha menjangkau Yunchi yang masih berdiri diam di depan pintu rumahnya.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Yunchi menggeleng pelan, berjalan membuka pagar rumahnya.
“Emh.. bohong. Apa kau mau aku belikan eskrim? Aku bisa membuatmu tertawa lagi, jadi ayo kita pergi ke tam_”
“Oppa...”
Langkah Jimin tertahan saat Yunchi menghentikan langkahnya dan berbalik, menatapnya. Itu ekspresi yang tidak asing untuknya, pria itu tahu semua arti ekspresi gadis yang bisa dikatakan tumbuh bersamanya itu. Dan ekspresi gadis itu sekarang, buruk. Mungkin terjadi sesuatu padanya.
“Maaf, sepertinya hari ini aku harus sendiri.”
Jimin terdiam, kakinya tertahan untuk mengejar Yunchi yang berlalu melewatinya. Sesuatu yang terjadi itu pasti buruk, karena Yunchi tidak pernah berkata seperti itu padanya. Itu pertama kalinya dia tidak ingin ditemani Jimin, pria yang selalu menjadi daftar pencarian nomor satu baginya. Tapi sepertinya itu sudah berubah.
Dan, gelisah. Jimin tidak bisa menahan perasaan itu, dia takut jika gadis itu mulai menjauh darinya, dan berakhir tidak memutuhkannya lagi. Itu mimpi buruk yang selalu ditakutinya.
            ***
Kantung mata dan warna hitam itu muncul, semalaman dia tidak bisa tidur, bahkan untuk hanya memejamkan matanya saja. Dia gila dengan perasaannya sendiri. Dan karena itu, pagi ini dia harus melakukan sesuatu yang bisa membuatnya tenang.
Pagi ini Park Jimin menyuruh Ibunya membuatkan rise omelete, makanan kesukaan Yunchi. Gadis itu sangat menyukainya, dan hanya masakan Ibunya dan Ibu Jimin yang dia sukai. Pagi ini Jimin akan mengantarnya sekolah.

Jimin memasang senyumannya, mengetuk pintu, dan bersiap mengucapkan kata bujukan yang sudah dirangkainya semalaman.
“Oppa?” Yunchi membuka pintu, menatap pria itu aneh karena mengeluarkan senyuman mengerikan.
“Annyeong. Aku datang untuk memberimu rise omelete dari Eomma, dan juga mengantarmu sekolah.”
“Apa? Kenapa tiba-tiba?” Yunchi membuka pintu lebih lebar, menatap Jimin menyeluruh dan berpikir. Itu mengejutkan, karena selama ini Jimin tidak pernah mau mengantarnya sekolah dengan segudang alasan, tapi tiba-tiba pria itu jadi gila seperti ini.
“Tidak tiba-tiba, aku hanya mengabulkan permintaanmu yang dulu-dulu, yang belum sempat aku penuhi.”
“Woah daebak! Sepertinya Oppa kerasukan roh lagi,”
“Hey! Jangan mengataiku seperti itu lagi, aku sama sekali tidak pernah kerasukan roh seperti pikiranmu!” Jimin menajamkan tatapan matanya, menyodorkankan kotak bekal ditangannya.
“Tapi Oppa bersikap aneh, jadi mungkin benar kerasukan roh,” Yunchi mengambil kotak bekal itu, melangkah mendekati Jimin.
“Tidak! Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu tidak menjauh dariku,”
“Huh?”
“Kemarin kau bilang tidak mau kutemani, jadi aku pikir kau akan menjauhiku dan me_”
“Jimin Oppa,”
Ucapan Jimin terhenti, Han Yunchi memeluknya.
“Maaf kemarin aku berkata seperti itu, maafkan aku. Hanya saja... kemarin aku tidak_”
“Aku mengerti,”
Yunchi menghentikan ucapannya, diam dengan pelukan Jimin. Pria itu memeluknya erat.
Dan ternyata, semua pikiran buruk yang dipikirkannya semalaman ini, tidak semuanya benar. Karena seperti dugaannya, Yunchi tidak berniat menjauhinya, gadis itu hanya sedang tidak baik. Dan ini hanya masalah keegosisan Jimin dengan perasaannya.
“Yunchi-ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,”
“Oppa,”
Jimin mengangguk pelan, masih dalam pelukan. Walau tidak bisa lagi menahannya karena rasa gelisah, tapi Jimin akan menunggu sampai Yunchi mau mendengar apa yang ingin dikatakannya.
            ***
Entah kenapa, siang ini turun hujan. Awan abu yang menurunkan jutaan tetes air dari langit, dan membawa kedinginan menusuk kulit. Hujan ini deras.
Seorang laki-laki sengan rambut hitam sedikit bergelombang, berjalan memasuki ruang seni. Ruangan sepi yang masih diisi seseorang. Perlahan, laki-laki itu menghampirinya, sesorang perempuan yang duduk memoles kanvas putih dengan kuasnya.
“Aku sudah menerima semua suratmu, dan juga membacanya. Dan aku juga membalasnya, tapi apa kau masih memintaku menjawabnya?”
Perempuan itu berhenti menggerakkan tangannya melukis, menarik nafas sangat dalam, sampai rasanya itu sesak. Dia menahan untuk tidak membawa kedua matanya menatap laki-laki itu.
“Emh.”
Laki-laki itu juga menarik nafas panjang, saat perempuan itu bergumam menjawab. Dia menyimpan kotak kecil yang dibawanya di atas meja, di samping perempuan itu.
“Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini, karena tadinya kau tidak mau mendengarnya. Tapi kau terus memberiku suratmu, dan sepertinya memaksaku untuk mengatakan langsung padamu. Aku tidak me_”
“Aku akan terus menulis surat untukmu!” perempuan itu berdiri, memberanikan matanya untuk menatap laki-laki itu. “Aku akan terus mengatakan perasaanku padamu dalam surat, dan terus menulisnya sampai kau memberi jawaban yang aku inginkan.”
“Tidak boleh,”
“Ke-kenapa?” sekuat tenaga, perempuan itu menahan air matanya yang mendesak keluar. Masih berusaha untuk menatap laki-laki itu.
“Aku takut kalau aku tidak akan merubah jawabanku, dan membuatmu terus melakukannya sampai menyakiti dirimu sendiri. Jadi berhenti menulisnya, aku tidak bisa menerimamu. Maaf.”
Perlahan, laki-laki itu berbalik dan mengangkat langkah. Tapi tangan perempuan itu menarik tangannya, menahan langkahnya.
“Ka-kalau begitu, bisakah kau jangan kembalikan surat ini padaku? Bisakah kau menyimpannya, karena ini dariku. Bisakah?”
Laki-laki itu menyimpan kembali kotak yang diberikan lagi padanya, dia menolak. Kotak itu berisi semua surat yang diberikan padanya dari perempuan itu.
“Maaf, aku tidak bisa menyimpannya jika aku tidak bisa menerimamu. Lebih baik seperti ini, aku tidak ingin membuat buruk perasaanmu lebih dari ini. Maaf.”
Brak. Kotak itu jatuh, bersama perginya laki-laki yang meninggalkannya. Kertas-kertas surat itu sekarang berserakan, membuat jelas terlihat kalau itu dicampakkan. Dan dia menangis. Perempuan itu tidak bisa menahannya lebih lama, dia mengeluarkan air matanya.
“Ya! Vernon! Sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan yang terpantul kembali padaku? Vernon...”

Dibalik pintu, laki-laki itu masih berdiri. Merutuki dirinya sendiri, mendengar isakkan perempuan yang dibuatnya menangis. Bukankah namanya jahat jika laki-laki membuat perempuan menangis? Tapi mungkin itu lebih baik.
            ***
Sore ini pun, hujan masih turun berjuta-juta tetes, setelah membuat semuanya basah, air dingin dari langit itu masih saja datang. Tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya.
Lalu, laki-laki dengan rambut sedikit bergelombang ini, yang belum tepat dua bulan pindah kesini, bahkan dia masih belum hafal jalan pulang kerumahnya, malah basah-basah berjalan dalam hujan. Berjalan pelan mengikuti seorang perempuan dari belakang. Tanpa suara, hanya berjalan mengikuti perempuan itu, melihatnya menyatukan air mata dengan air hujan yang membasahinya.
Sepertinya dia gila karena melakukan hal semacam ini.
Vernon, nama laki-laki itu adalah Vernon. Seseorang yang baru pindah dari New York, dan sekarang sudah membuat seorang perempuan dari kelasnya menangis.
Vernon mengusap wajahnya, menyingkirkan air hujan yang terus jatuh padanya. Dia sebenarnya tidak harus melakukan ini, tapi sesuatu dari sisi lain dirinya membawa kakinya untuk melakukan ini, mengikuti perempuan itu. Apa yang harus dia katakan jika perempuan itu melihatnya, laki-laki jahat yang sudah membuatnya menangis ternyata mengikutinya. Dia sudah gila.
Vernon menahan langkah kakinya, mengurungkan niat untuk berlari saat perempuan itu jatuh. Dia tidak usah menghampri dan menolongnya, bukankah dia laki-laki jahat? Jadi, hanya diam adalah pilihan tepat. Tapi perempuan itu tidak kembali berdiri, masih terduduk, dan sekarang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sepertinya dia masih menangis.
Tidak, ini tidak benar. Hanya diam bukan pilihan, tapi menghindar. Vernon menghembuskan nafasnya lelah, melangkah berlari menghampiri perempuan itu. Tidak peduli apa yang terjadi nanti, dia setidaknya harus menolong orang yang sudah dia jahati.
“Jangan menangis,”
Perempuan itu mengangkat wajahnya, menatap Vernon yang mengulurkan tangannya.
“Aku minta berhentilah menangis. Kau tidak harus menangis karena orang sepertiku, kau harus pedulikan dirimu sendiri.” Vernon menarik tangan perempuan itu berdiri.
“Kenapa kau tidak bisa jika padaku?”
Vernon memalingkan tatapannya, menghindari mata perempuan itu. “Aku tidak bisa mengkhianati seseorang dalam hatiku. Maaf.”
“Apa karena kau membenciku?”
“Tidak, aku tidak membencimu. Tapi aku tidak bisa.”
“Kau jahat!”
Perempuan itu menepis tangan Vernon darinya, berlari menginggalkan laki-laki yang baru saja  diteriaki jahat olehnya. Dia berlari secepat dia bisa, tapi sayangnya, kakinya tidak bisa lebih kuat berlari ditengah hujan seperti itu, dia jatuh lagi. Dia menangis.

“Yunchi-ya...”
Hangat. Pelukan hangat ditengah dingin tetesan hujan. Perempuan itu melepaskannya, menolak pelukan hangat seseorang yang datang padanya.
“Lepaskan!”
“Yunchi-ya, sudah, kau akan sakit jika terus seperti ini. Ayo pulang bersam_”
“Jangan sentuh aku!”
Park Jimin diam saat perempuan itu menjerit, melepas sesuatu yang mengganjal dalam air matanya. Jimin melihat ini dari tadi, saat Yunchi berlari keluar dari sekolah dan seseorang mengikutinya diam-diam. Park Jimin melihat itu.
“Oppa, kenapa aku tidak bisa? Apa aku terlalu buruk untuknya? Atau aku memang tidak pantas untuknya? Kenapa?”
“Yunchi-ya tenanglah, kau sama sekali tdak buruk,”
“Lalu apa? Kenapa dia menolakku?”
Tidak ada jawaban. Jimin tidak mengucapkan jawaban itu dari bibirnya. Dia tidak tahu yang mana yang harus diucapkan, antara laki-laki itu atau perasaannya.
“Berarti itu karena aku terlalu buruk...”
“Ya!” Jimin kehilangan kendali dirinya. Dia menarik tangan Yunchi, membawa perempuan itu mendekat padanya. “Berhenti menangis karena laki-laki itu, kau sama sekali tidak buruk Han Yunchi. Itu karena laki-laki itu memang tidak pantas untukmu. Jadi aku mohon, berhentilah menangis karena... ka-karena...” itu sedikit berat. Jimin tidak bisa melanjutkan ucapannya.
“Karena apa? Karena Oppa menyukaiku? Atau Oppa akan mengatakan karena ada kau yang mencintaiku dan tidak akan pernah membuatku menangis?”
Nafas Jimin tercekat. Dia sama sekali tidak tahu kalau perasaannya sudah diketahui.
“Yu-yunchi-ya.. kau tahu?”
“Park Jimin adalah Kakak yang aku sayangi, aku tidak pernah berpikir bisa tertawa dan menangis jika kehilangannya, aku benar-benar menyukaimu sebagai seseorang yang akan selalu melindungiku. Tapi, aku egois jika terus berfikir seperti itu. Tapi juga, aku tidak bisa menerima perasaan lebihmu padaku.”
“Yunchi-ya, aku benar-benar mencintaimu,”
“Tidak, aku tidak mau itu! Jangan lebihkan perasaanmu padaku, aku mohon,”
“Tidak bisa, aku sudah mengisi hatiku denganmu,”
“Berhenti melakukannya, aku tidak ingin Oppa seperti itu. Jangan katakan cinta itu lagi!”
Jimin diam, perlahan melepas tangannya dari Yunchi. Menarik dalam-dalam nafasnya, menahan sesak itu.
“Kalau begitu, aku sepertinya aku harus mati, jika ingin aku berhenti mengisi hatiku dengan cinta padamu.”
“Tidak, Oppa berhenti!”
“Aku mencintaimu Yunchi-ya, sejak dulu, dan sampai kapanpun. Hatiku untukmu, tidak peduli kau menolaknya. Aku benar-benar mencintaimu_”
“Cukup! Hentikan! Jangan bicara apapun lagi padaku!”
Han Yunchi menjerit, berlari cepat meninggalkan Park Jimin. Dia menyukai laki-laki dari New York itu, dan dia tidak ingin kehilangan Kakak yang selalu melindunginya. Yunchi berlari kemana kakinya melangkah, tidak peduli ini di jalan raya yang tidak sepi.
Lampu merah itu menyala, menggantikan lampu hijau yang berarti untuk menyebrang. Dan kaki itu terus berlari.
“Aku mencintaimu!”
Brraakk. Sebuah benda beroda empat yang dikemudikan seseorang, menghantamnya. Benda kuat itu menghantam tubuh ramping itu, tapi si kotak enam itu juga ikut.
            ***
Malam ini rasanya udara tidak lagi dingin, mungkin karena musim panas hampir datang. Langit hitam juga cerah, dengan sinar samar rombongan bintang. Itu indah.
Dan dia, masih duduk di ayunan itu, sendirian. Sesekali tersenyum kecil mengingat kenangan masa lalunya. Tapi senyuman itu tidak pernah terasa menyenangkan, masih saja menyakitkan. Entah karena kenangannya terlalu indah, atau perpisahannya yang terlalu buruk.
“Dasar bodoh! Harusnya kau tidak usah menuruti ucapanku, jika seperti ini jadinya. Jika kau benar-benar harus pergi seperti ini. Bodoh. Dasar Park Jimin bodoh! Ah... aku merindukanmu, Oppa.”
Dia tersenyum lebar, tidak peduli dengan air matanya. Dia hanya mengayunkan ayunannya, berayun pelan dan kencang, membiarkan angin berhembus padanya.
            -Fin-

Emh.. maaf ya aneh FF nya. Beneran maaf banget. Jadi terima kasih banyak yah yang udah baca ini sampai akhir, semoga diberi kebahagiaan di FF lain.
Dan juga khususnya untuk Han Yunchi-sama, hountoni gomenasai. FF nya jadi aneh begini, padahal Yunchi nunggunya lama banget kan, tapi gak memuaskan yah? Maaf bangeud yah Yunchi-sama. Tapi jangan kapok loh, kan tahu sendiri kalau FF buatanku memang selalu begini. Haha.


No comments:

Post a Comment

SUPER JUNIOR