luhanay blog Follow Dash Owner

Sunday, 16 April 2017

Beautiful Red Snowflake [FanFiction]



Tittle: Beautiful Red Snowflake
Genre: Drama || Rate: 15 || Length: Oneshot
Main cast: Kaizaki Shikaku | Kim Taehyung | Min Yoongi
Author: Cifcif Rakayzi
======= ======= =======

Oke, begini, sedikit penjelasan tentang cerita ini.
Pertama, sebenarnya, FF ini sudah di tulis tanggal 20 Februari 2017 dengan cast Min Yoongi, Park Jimin, dan Kaizaki Shikaku. Namun, karena beberapa alasan, khususnya karena sebuah foto Suga dan V yang tiba-tiba banyak di bicarakan, maka Author menulis kembali FF ini dengan perubahan cast. Park Jimin yang diganti menjadi Kim Taehyung. Dan karena itu, Author sangat mohon maaf pada cast aslinya, Park Jimin.
Kedua, FF ini adalah FF chapter yang masih dalam proses. Tapi, karena beberapa alasan, Author putuskan untuk meringkas inti cerita ini dan mengeluarkannya sebelum cerita yang sebenarnya selesai. Mungkin itu aneh dan tidak penting, tapi tetap saja ini penjelasan yang harus diketahui sebelum membaca ceritanya. Dan juga, karena beberapa alasan itu, Author tidak tahu kapan cerita chapternya akan selesai. Jadi mohon pengertiannya jika cerita ini tidak bisa dimengerti dan aneh.
Terima kasih.
======= ======= =======
 ======= ======= =======

Ini adalah cerita tentang dua laki-laki yang sudah ditakdirkan untuk bersama. Terlepas dari genre apa cerita itu, mereka tetap tidak akan bisa melawan takdir mereka dalam cerita. Walaupun darah sering kali menetes, lebam yang lama menghias  tubuhnya, dan air mata yang sesekali menerobos keluar, hubungan mereka tidak akan berakhir dengan akhir seperti yang mereka inginkan.
Dan aku, kedatanganku tanpa sadar menerobos masuk dalam cerita mereka. Menambah warna abu-abu diantara hitam dan putih itu. Yang harus aku akui, itu karena kebodohanku. Yang begitu saja menganggap kalau masuknya aku, bukanlah kesalahan. Walaupun akhir cerita mereka sudah ditentukan sebelum aku membuka mata, tetap saja, cerita itu rusak dengan bertambahnya warna dariku. Tapi, aku tidak menyesal. Setidaknya, warna abu-abu milikku bisa membuat senyuman mereka ikut mewarnai cerita hitam dan putihnya.
            ***
Ini belum enam bulan sejak kepindahanku ke sekolah ini, dan juga, belum lama pula aku mengenal kedua laki-laki itu. Tapi rasanya, seolah aku sudah mengenal mereka lebih dari diriku sendiri. Entah darimana aku dapatkan perasaan seperti itu.
            ***
Aku menghela nafas lega. Saat aku membuka pintu, mereka berdua ada disana. Aku menemukannya. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menahan gemetar kedua kakiku. Setengah alasannya karena aku berlari datang kesini, dan setengah lainnya, karena melihat mereka yang sudah setengah hancur karena perkelahian. Ah.. aku datang terlambat.
Walaupun ini bukan pertama kalinya, tapi perkelahian ini berbeda. Mereka sudah menghilangkan batasannya, seolah mereka tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka behenti bernafas.
Dan aku, aku tidak tahu harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan. Perkelahian itu harus dihentikan. Bahkan jika perkelahian itu adalah akhir untuk mengakhiri cerita ini, tetap saja perkelahian itu harus dihentikan.
“Sudah cukup! Hentikan!”
Teriakkan itu begitu saja lepas dari bibirku, tanpa kendali dariku. Aku menahan nafasku dalam, berharap mereka berhenti. Tapi yang aku lihat, mereka hanya menahan pukulannya karena teriakkanku.
Mereka kembali. Dan bibirku kembali berteriak. Tetap saja, seberapa keras aku berteriak, mereka tidak mendengarku. Bahkan mereka tidak peduli dengan darah yang menetes dari beberapa luka di tubuh mereka, dan lebam yang semakin banyak. Mereka masih tidak mau berhenti.
“Min Yoongi, Kim Taehyung, sudah hentikan!”
Aku menjerit semampuku, bahkan rasanya seperti menghabiskan semua oksigen dari paru-paruku. Aku hanya ingin mereka berhenti.
Hela nafasnya masih menderu, tangannya gemetar, tapi tatapan tajam itu belum terputus, mereka masih saling mengikat satu sama lain. Mereka masih tidak mau berhenti.
Kim Taehyung menjatuhkan tongkat besi dari genggamannya, menarik dalam nafasnya perlahan. Luka yang didapatnya tidak jauh berbeda dari luka yang dia berikan pada Min Yoongi.
“Kenapa kau menyembunyikannya?” Taehyung masih mengatur deru nafasnya, menahan kepalan tangannya untuk kembali memukul laki-laki di hadapannya.
“Aku selalu mengatakannya padamu. Aku bukan pembunuhnya. Dan juga... aku tidak menyembunyikan apapun darimu.” Min Yoongi melepas seragamnya, menggunakan itu untuk menekan luka robek di sisi perutnya.
“Empat tahun aku berusaha membunuhmu, dan sekarang rasanya itu sia-sia. Aku menghabiskan waktuku denganmu yang tidak berguna.”
“Selama itu pula aku ratusan kali mengatakannya padamu, kalau aku bukan pembunuhnya.”
“Brengsek! Lalu kenapa tidak kau katakan siapa pembunuhnya?”
“Entahlah. Saat itu, aku terlalu banyak berpikir, tentangmu,”
“Tentangku?”
Tidak ada jawaban lagi, mereka berdua diam. Aku ingin berlari menghampiri mereka, mengusap luka-luka itu dan memeluknya. Tapi, itu tidak bisa. Aku tidak boleh mengganggu mereka lagi, bukankah sudah cukup aku datang dan berteriak menghentikan mereka.
Tatapan itu terlepas. Mereka memotong ikatan dalam tatapan itu. Yah, sekarang mereka sibuk menahan perih dan nyeri dari luka mereka. Sepertinya otak mereka baru mengirim pemberitahuan rasa sakit sekarang.
“Aku pikir kau tidak akan percaya jika aku katakan yang sebenarnya, dan juga kau akan kehilangan dirimu jika tahu lebih cepat.”
“Cih. Dasar bodoh! Kau sebut itu memikirkan tentangku? Membuatku terus menahan kebencian padamu, dan selalu memikirkan cara membunuhmu. Apa maksudmu?”
“Setidaknya, itu lebih baik untukmu.”
“Lagi-lagi untukku? Brengsek!”
“Tentu saja. Aku akan melakukan apapun, karena kau adalah temanku_”
Taehyung memukul Yoongi dengan kepalan tangannya, membuat Yoongi tersungkur. Dia terus memukul secepat dia bisa, sekuat dia bisa. Dan sesuatu muncul bersama pukulannya kali ini, air mata. Dia menangis.
Yoongi tersenyum, tidak peduli bagaimana keadaan dengan pukulan Taehyung padanya. Laki-laki itu menangis di hadapannya.
“Taehyung-ah, kau selalu bangga dan percaya padanya, dan kau sangat menyayanginya, jadi mana mungkin aku mengatakan kalau pembunuhnya adalah Ayahmu,”
“Dan kau senang sudah melakukan itu untukku? Apa kau senang sudah membuatku gila dengan kebencianku padamu?”
“Yah... harus kuakui, aku harus minta maaf karena keegoisanku,”
“Bagaimana kau pikir itu hanya keegoisanmu?”
“Taehyung-ah, tidak apa-apa. Selama ini aku bisa menahannya karena bersamamu.”
“Bodoh!”
Pukulan itu berhenti, tidak, akhirnya perkelahian itu berhenti. Tanpa ada salah satu yang harus pergi. Itulah teman. Mereka memang ditakdirkan untuk bersama.
Tanpa sadar, air mataku keluar begitu saja. Aku menangis. Dan aku ingin menangis sebanyak aku bisa. Rasanya bahagia. Sekarang, kami bisa bernafas lega. Perkelahian itu sudah selesai.

            -Fin-
Oke, terima kasih sudah bersedia membacanya. Dan sekarang, sedikit penjelasan lagi. Ini tentang judul ceritanya. ‘Beautiful Red in the Snowflake’ ... aku mengambil judulnya dari anime berjudul ‘K-Project’. Dan yah, ceritanya juga plagiat dari anime itu, walaupun sedikit berbeda. Jadi maaf karena tidak mengatakannya di awal, kalau FF ini hasil plagiat. Benar-benar minta maaf.
Oke, kembali ke judulnya. Untuk arti dari judulnya, aku juga kurang mengerti. Hanya saja, itu yang terpikir saat melihat akhir cerita ‘K-Project’. Warna merah yang indah, dimalam bersalju. Emh .. yang sudah pernah nonton animenya, mungkin akan mengerti.
Jadi pembaca sekalian, sekali lagi terima kasih sudah bersedia membaca Ff plagiat ini. Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

SUPER JUNIOR