luhanay blog Follow Dash Owner

Sunday, 16 April 2017

Something Happened to My Heart [FanFiction]



Tittle: Something Happened to My Heart
Genre: Drama || Rate: 15 || Length: Oneshot
Author: Cifcif Rakayzi
Main cast: Kim Rowoon | Baek Juho | Lee Nayoung
========= ========= =========



Lee Nayoung kembali menarik nafasnya dalam, menahan debaran kencang jantungnya. Alasannya, dia tidak begitu yakin untuk mengatakannya sekarang, kekuatan yang dia miliki tidak terlalu banyak. Dia mencoba kembali. Mengangkat tatapannya menatap laki-laki yang masih berdiri dihadapannya, menunggu perempuan itu menyelesaikan perkataannya.
“Nayoung-ah, sebenarnya apa yang ingin kau ka_”
“Kim Rowoon, te-tentang.. pertanyaanmu waktu itu, a-aku bisa me-menjawabnya,”
Laki-laki jangkung bernama Kim Rowoon itu mengernyit, mengingat pertanyaan apa yang dimaksud Nayoung.
“Pertanyaan apa?”
“A-aku.. ah tidak, maksudku.. bi-bisakah kau menerimaku disisimu?”
Kim Rowoon terdiam, seolah tubuhnya terbakar. Dia mengerti maksud perempuan itu, benar-benar mengerti. Pertanyaan yang dimaksud adalah, pertanyaan untuk menjadikan Lee Nayoung sebagai miliknya. Dan sekarang, perempuan itu memberikan jawabannya.
Kim Rowoon masih diam. Bukan tubuhnya yang terbakar, tapi lidahnya yang terbakar. Dia tidak bisa mengatakan apapun, bahkan untuk meneriakkan apa yang ingin dia ucapkan.
“Aku minta maaf membuatmu terlalu lama menunggu, tapi apa kau masih menerima jawabanku? A-aku... aku menyukaimu Kim Rowoon_”
“Mianhae,”
“Huh?”
Nayoung membeku. Detak jantungnya yang tadi menggila, seolah berhenti, lalu kembali berdetak sangat lambat.
Sekarang giliran perempuan berambut sebahu itu yang terdiam. Kata yang terucap dari bibir Rowoon, benar-benar memiliki banyak arti. Dengan cepat pikiran-pikiran gila merasuki kepalanya. Tapi dia tetap berharap laki-laki itu akan mengakhiri perkataannya dengan bahagia.
Tapi sepertinya tidak.
Entah kenapa, air mata itu jatuh begitu saja, dengan cepat menganak sungai dipipinya. Kim Rowoon tidak mengatakan apapun lagi, memberi arti kalau itu sebuah penolakan.
“Aku tidak benar-benar serius dengan pertanyaan itu. Lagipula kau membenciku. Jadi lupakan saja, tidak perlu menjawabnya,”
Deru nafas itu tercekat, debaran jantungnya semakin lambat, Nayoung masih membeku seolah kehilangan benar-benar detak jantungnya.
“Maaf.” ucap laki-laki itu pelan sebelum melangkah dan pergi meninggalkannya. Membiarkannya membeku disana.
“Kim Rowoon...” hanya desahan nama itu yang mampu dia ucapkan, lidahnya kelu untuk berteriak memanggil nama itu lebih keras, kakinya kaku untuk berlari mengejarnya, dia hanya terjatuh lemas dengan sesak didadanya.

“Kenapa? Apa itu bercanda? Apa dia benar-benar pergi dan menolakku? Tapi kenapa? Apa jawabanku terlalu lama untuk dia tunggu? Apa dia sudah melupakanku? Apa dia membenciku karena membuatnya menunggu? Tapi, apa semudah itu dia melupakan semua yang sudah dia lakukan untukku? Ucapannya yang selalu mengatakan dia mencintaiku, senyumannya yang selalu dia berikan hanya untukku, pelukannya yang dia hangatkan untukku, genggaman tangannya yang dia eratkan padaku, apa dia membuangnya? Kenapa?”
            ***

Bugh.
Kim Rowoon tersungkur, setelah mendapat banyak pukulan di tubuhnya, akhirnya dia roboh. Rowoon terbaring di lantai, menormalkan nafas terengahnya. Tetes darah masih keluar dari beberapa lukanya, dan lebam yang perlahan berubah warna. Dia tidak bisa melawan.
“Bangun! Katakan sesuatu jika kau tidak ingin aku menyalahkanmu,”
Baek Juho berdiri di samping Rowoon, menarik nafasnya dalam. Tangannya juga terluka karena memukul sahabatnya itu, tapi dia masih belum merasa cukup.
“Kau memang harus menyalahkanku,”
“Aissh jinjja! Dasar brengsek!” Baek Juho berteriak, menarik laki-laki jangkung itu untuk berdiri, dan kembali memukulnya. Juho mungkin sudah menghabiskan setengah tenaganya untuk semua pukulan itu, tapi kemarahannya lebih besar dari tenaganya sekarang.
“Sebenarnya apa maumu? Kau tidak ingat seberapa besar usahamu mendapatkan gadis itu, seberapa lama kau mempermainkannya, apa kau lupa itu?” Juho terengah, tangannya lemas untuk kembali mengepal, tapi semua pukulan itu masih belum cukup. Mungkin ini tidak akan lebih melelahkan jika setidaknya Rowoon melawan, tapi laki-laki jangkung itu tetap diam.
“Aku tidak mempermainkannya, aku benar-benar mencintainya,” Rowoon menyeka tetes darah dari bibirnya, menatap Juho.
“Lalu apa yang kau inginkan?” Juho menahan dirinya, kembali mencoba mencari kebenaran dibalik tatapan Rowoon. Tapi laki-laki itu sekarang diam.
“Dia menyatakan perasaannya padamu, seperti apa yang kau inginkan. Nayoung menerima cintamu, dan kau menolaknya. Aku percaya kau tidak gila, tapi apa maksudmu melakukannya?” Juho masih menunggu jawaban Rowoon, tapi tidak ada. Dia masih diam, membuatnya juga diam.
Angin dingin berhembus, membelai lembut dan mengirim kedinginannya. Mereka tidak peduli dengan angin itu. Tidak peduli dengan luka yang bertambah perih karena tiupan angin.
“Aku menyerah,”
Keheningan sesaat itu pecah dengan suara pelan Rowoon, membuat Juho segera menarik tatapannya pada laki-laki itu. Menatapnya lekat.
“Menyerah?” perlahan langkah Juho mendekati Rowoon, memaksanya bersiap untuk menahan pukulan tangannya lagi. “Menyerah untuk apa? Menyerah untuk mendapatkannya, atau menyerah untuk bersamanya? Kalau begitu, biar kutanya lagi. Sebenarnya apa yang kau inginkan huh?”
“Aku mencintainya_”
Rowoon melangkah mundur, menyeimbangkan tubuhnya. Walaupun dia lemas dan tangannya juga terluka, tapi pukulan Juho masih terasa berat untuknya. Sepertinya, untuk mendapat kata ‘cukup’ itu, Juho akan menghabiskan semua tenaganya untuk Rowoon.
“Jangan katakan itu seolah kau benar-benar mencintainya!”
“Aku benar-benar mencintainya, tapi aku hanya bisa menyerah...”
“Hentikan! Aku bilang jangan katakan seolah kau mencintainya!” Juho membentak, berteriak, dan terus memukul Rowoon yang tidak melawan.
Nafas mereka terengah, rasa lelah itu sangat terasa, tapi entah kenapa ini belum berakhir. Juho menahan pukulannya, membuang tatapannya kelangit. Dan Rowoon jatuh terduduk.
“Aku tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk diriku sendiri. Dan harus kuakui, aku tidak ingin menyerah, tapi aku dipaksa menyerah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu harus bagaimana!” Rowoon berteriak, namum teriakkannya merendah. Dia membiarkan air matanya keluar, berharap bisa sedikit meringankan pikirannya.
“Ck. Brengsek. Apa maksudmu?” Juho masih menatap langit, mengalihkan emosinya, menepis kalau dia tahu Rowoon menangis.
“Sepertinya aku gila. Ini terlalu cepat untukku, bahkan aku belum sempat menarik satu hela nafaspun,”
Rowoon kembali diam, membiarkan hanya angin yang terdengar, membuat itu sepi. Dia harus mencoba menenangkan dirinya.
“Tidak, aku percaya kau masih memili kewarasanmu. Jadi karena itu, katakan dengan sisa kewarasanmu, katakan padaku apa maksud semua ini, Kim Rowoon!” Juho berhenti menahan dirinya, tidak peduli dengan air mata yang baru pertama kali dia lihat dari mata sahabatnya, dia hanya ingin menghabiskan tenaganya untuk kata’cukup’.
Tapi itu tidak semudah yang dia inginkan, tangannya tidak kuat lagi mengepal dan memukul. Dia lelah. Tenanganya masih belum habis, tapi dia tidak bisa memukul lagi. Laki-laki jangkung itu adalah sahabatnya.
Sekarang, deru nafas kuat itu melambat. Mereka terbaring di lantai, menatap langit yang sebentar lagi ditinggal sang surya.
“Ayah kandungku, yang aku tahu sudah meninggal, tiba-tiba datang menemuiku. Dia tidak meninggal. Dia menatapku, bicara padaku,”
Juho menahan nafasnya beberapa detik, memejamkan matanya menahan perih. Itu gila. “Mana mungkin orang yang meninggal bisa hidup lagi? Kau bohong Rowoon!”
“Dia memintaku tinggal dirumahnya untuk hidup sebagai anaknya yang meninggal. Anaknya yang meninggal sebelum pernikahan. Ayahku memintaku untuk hidup sebagai kakakku yang sudah meninggal,”
Juho menelan ludahnya perlahan, dengan susah payah. Rasanya batu besar sudah dia telan, dan mengganjal di tenggorokannya. “Cerita macam apa itu? Kau gila. Mana ada permintaan semacam itu. Kau bohong Rowoon!”
“Dan aku tidak bisa menolaknya. Bahkan wanita yang selama ini aku panggil Ibu, ternyata bukan Ibu kandungku,”
Juho semakin merapatkan pejaman matanya, menahan dirinya untuk tidak lagi memukul laki-laki pembohong itu. Dia sudah terlalu lama mengenalnya, dan karena itu, dia mengatakan semua yang dikatakan Rowoon adalah bohong. “Hey... hentikan!  Apa kau tidak ingin tertawa dengan cerita bohongmu itu huh? Atau kau sedang mengarang cerita untuk drama sekolah nanti? Tolong hentikan, tidak akan ada yang percaya ceritamu itu, walau itu benar sekalipun. Kau terlalu banyak berbohong Kim Rowoon!”
“Lalu aku harus bagaiamana? Semua ini sangat menekanku.” Rowoon menghapus air matanya, tersenyum kecil. “Hey... aku tidak sedang mengarang cerita. Tapi terserahlah. Aku tahu kau pasti tetap mengatakan aku berbohong, sekalipun kau percaya padaku. Kau sampai menyiksaku seperti ini, pastinya kau sangat mencintaiku kan, Baek Juho?”
Tidak ada jawaban, Juho hanya diam. Membuat keheningan itu kembali menyelimuti.
“Hey Juho-ya, bagaimana ini? Aku tidak bisa menolak, aku tidak tahu harus bagaimana, dan aku mencintai Nayoung. Sepertinya aku memang harus menyerah. Mengakhiri cerita sebagai sahabatmu, sebagai laki-laki yang mencintai Nayoung, dan mengakhiri hidupku sebagai Kim Rowoon. Jika aku tidak bisa menolak, maka aku harus terima sisanya. Menerima hukuman untukku. Aku akan hidup sebagai Kakakku, tinggal bersama Ayah yang aku tahu sudah meninggal, dan meninggalkan Ibu yang ternyata bukan Ibu kandungku.”
Baek Juho membuka matanya, menatap langit yang sekarang sudah gelap. Dia masih menghindari matanya untuk melihat Rowoon, tidak ingin melihat laki-laki itu menangis. Dia juga menulikan pendengarannya. Juho tidak tahu harus percaya cerita itu atau tidak, rasa frustasi itu terlalu nyata dimata Rowoon, yah... terlalu nyata jika itu hanya kebohongan. Dia mengerti. Sekarang Juho mengerti maksud semuanya.
Tapi rasanya, dia tidak ingin mengerti. Juho tidak ingin menerima apapun alasan Rowoon menolak Nayoung, apapun yang terjadi padanya, apapun yang menekannya, dia tidak akan menerima penjelasan Rowoon, apapun.

“Sebenarnya ini hari terakhirku disini, besok aku akan pergi ke Seoul. Pindah sekolah, dan pindah rumah. Ceritaku sebagai Kim Rowoon berakhir hari ini. Dan tadinya, aku ingin membuat perpisahan manis denganmu dan Nayoung, tapi malah seperti ini yang terjadi. Mianhae.”
Juho beranjak, berdiri dan merapikan seragamnya. Menyembunyikan luka itu dengan memasukkan tangannya kedalam saku celana. Menghembuskan nafas kasar. Dia tidak ingin peduli dengan cerita Rowoon, dan juga dia tidak ingin mengerti alasan Rowoon menyerah.
“Juho-ya, maaf karena aku terlambat mengetahui perasaanmu pada Nayoung. Aku terlalu bodoh untuk mengerti perasaan sahabatku sendiri, mian. Tapi itu berakhir sekarang. Kim Rowoon sudah pergi, jadi kau bisa kembali padanya_”
“Bodoh! Kau pikir itu yang aku inginkan? Apa kau sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan Nayoung?”
“Aku memikirkannya, karena itu aku memintamu untuk bersamanya,”
Juho berbalik, menarik seragam Rowoon, memaksanya untuk berdiri. “Dengar, aku tidak percaya dengan semua ucapanmu, dan aku aku tidak akan menerima alasan apapun kau mencampakkannya! Dia mencintaimu, brengsek!” Juho tidak akan mempercayai semua itu. Dia tidak ingin peduli dengan alasan itu, dia hanya tidak ingin memberi tolenrasi untuk sahabatnya yang sudah menolak gadis yang dia cintai dalam diam.
“Tidak, itu tidak boleh lagi.” Rowoon melepas cengkraman Juho dari kerah seragamnya. “Kau harus membuatnya menghilangkan cinta itu. Laki-laki yang dia sukai sudah tidak ada.”
“Ya! Apa semudah itu kau meninggalkannya? Kau pikir Nayoung akan baik-baik saja dengan semua ini? Kau anggap apa cintanya padamu?” Juho memukul Rowoon lagi. Tapi itu terlalu lemah, tenaganya ternyata sudah habis. Kepalan tangannya hanya berakhir di dada Rowoon.
“Itu adalah sesuatu yang sangat berharga untukku. Aku senang cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, sepertimu ... haha. Dan aku akan menghilang bersama cinta itu.”
“Ck. Kau gila!”
“Mungkin benar. Sisa kewarasan yang Rowoon miliki, habis sampai malam ini. Dan besok, aku akan terbangun menjadi orang lain, dengan cerita lain, dan penderitaan lain.”
“Sebenarnya apa yang katakan itu huh? Aku tidak mengerti cerita apa yang sudah kau bicarakan dari tadi. Berhentilah mengoceh, aku lelah.”
“Terima kasih. Aku akan berhenti malam ini. Dan karena kau sahabatku, aku akan meminta banyak maaf darimu,”
Juho membulatkan mata, menatap Rowoon yang bersujud dihadapannya. Lak-laki jangkung itu benar-benar sudah gila.
“Hentikan! Kata ‘maaf’ itu tidak akan pernah keluar dariku untukmu. Bangunlah, itu percuma saja.” Juho memalingkan tatapannya. “Sudah kubilang aku tidak percaya padamu!”
“Tapi tetap saja, aku harus minta maaf padamu sebelum mengakhirinya. Dan juga, tolong sampaikan maafku pada Nayoung,”
“Tidak mau!” Juho berbalik, melangkah melewati Rowoon. “Katakan maafmu sendiri padanya. Dasar brengsek.”
Rowoon masih belum merubah posisinya, kembali tenggelam dengan air matanya.
“Nayoung sangat mencintaimu. Dia akan menunggumu sampai kau kembali, jadi ingatlah untuk kembali, dengan kau Kim Rowoon atau orang lain.” Juho pergi, menghilang di balik pintu.

Jika itu benar, maka Rowoon ingin percaya. Dia ingin percaya kalau jalan untuknya kembali itu ada, dan mereka disana menunggunya.
            -Fin-
========= ========= =========
Baiklah, mari aku katakan. Dan pertama, maaf mengganggu dengan sedikit penjelasan ini.
Sebenarnya, ini adalah FF chapter yang aku buat 20 Oktober 2016, dan pada 27 Oktober 2016, FF ini selesai dengan setengah bagian ceritanya menggantung. Karena itu, aku singkat menjadi FF Oneshot, yang bisa di post.
Aku tidak tahu apa bisa memperbaiki FF ini yang chapternya, jadi .. daripada terbuang di Reycicle Bean laptop, lebih baik di post seperti ini. Siapa tahu bisa menjadi penghibur untuk kalian. Karena itu, terima kasih sudah bersedia membacanya.
Dan, oh .. satu lagi. Karena FF yang chapter itu masih tidak jelas statusnya untukku, maka anggaplah FF itu telah selesai bersama dengan di postnya FF ini. Jadi aku sudah buat cerita keduanya. FF ‘Something Happened to My Heart’ Season 2. Di spoiler sedikit. Yang S2 itu mungkin nantinya akan menceritakan kehidupan Rowoon yang hidup sebagai kakaknya dan tinggal bersama keluarga Ayahnya, juga menggantikan pernikahan kakaknya itu. Jadi istrinya juga bakalan di ceritain lah. Itu saja bocorannya.
Karena semua-semua itu, sekali lagi ... aku ucapkan Terima Kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia membacanya. Semoga bisa bermanfaat.


No comments:

Post a Comment

SUPER JUNIOR