luhanay blog Follow Dash Owner

Jumat, 24 Januari 2020

[FanFiction] Summer Rain




Tittle: Summer Rain


Rate: PG-18 | Length: Chapter | Genre: Drama, Romance, Marriage life
Cast: Koo Junhoe // Kim Jennie // Kim Hanbin // Park Chaeyoung // Kim Donghyuk // other
Summary: “Bukan cinta yang mendewasakan manusia, tapi kedewasaanlah yang bisa mengartikan cinta”
Disclaimer: Cerita FF ini, dan original character, adalah milik saya.
Author: Cifcif Rakayzi
=== ======= === ======= === ======= ===




Chapter 1
Benda bulat kecil yang berlubang itu, perlahan masuk melingkar di jari manisnya. Menunjukkan sebuah ikatan, yang juga berarti kepemilikan. Sekarang perempuan itu sudah resmi menjadi milik laki-laki yang mengikatnya dengan benda bulat bernama cincin tadi.
Seraya menaikkan pandangan menatapnya perlahan, perempuan itu menarik nafas dalam. Mencoba mengendalikan detak jantungnya yang kacau. Dia berdebar. Perasaan ini, rasanya entah kenapa.. benar-benar aneh. Sekarang gilirannya, memasangkan cincin pada jari manis laki-laki di hadapannya
Senyuman kecil yang manis tiba-tiba mengembang di wajahnya, seolah memberinya waktu untuk ketenangan. Tidak apa-apa, perlahan saja. Itu yang dia rasakan saat melihat senyumannya. Dan akhirnya, kedua cincin itu sudah masing-masing melingkar di jari manis kedua pengantin ini. Mengikat mereka dengan janji suci sehidup semati untuk saling mencintai.
Riuh tepuk tanganpun terdengar memenuhi ruangan, senyum bahagia mengembang di wajah para tamu undangan dan keluarga khususnya. Seolah mereka ikut merasakan debaran dan perasaan bahagia kedua pengantin.
Tapi, jika ditanyakan kembali, benarkah kedua mempelai bahagia atas janji sehidup semati untuk saling mencintai itu?
Mengingat cerita mereka sebelum pernikahan ini terjadi, ada beberapa hal yang berjalan sedikit kurang baik. Entah itu dari awal pertemuan mereka, ataupun alasan dibalik pernikahan ini. Semua itu, mungkin akan memberikan jawaban polos “Apa yang membahagiakan dari pernikahan ini?”.
            ***

-Enam hari sebelum pernikahan-

Sore itu benar-benar cerah, pada awalnya. Hanya saja, hujan deras tiba-tiba turun dan membasahi semuanya. sinar matahari masih sedikit terlihat, tertutup awan abu-abu. Karena rombongan air yang datang tiba-tiba saat matahari masih bersinar, ada pembiasan cahaya yang terjadi. Pelangi, melengkung bersinar di ujung langit sore itu.
Orang-orang berlarian secepat mereka bisa, mencari tempat berteduh sebelum hujan lebih banyak membasahi mereka. Tapi di tengah itu, ada dua tatapan yang saling membeku, terikat diam seolah waktu berhenti.
Pakaian mereka basah, sudah terlambat jika mereka ingin menghindar. Perempuan berambut panjang itu diam tertahan saat laki-laki itu menarik dan menahan tangannya. Tatapan itu terus menjelajah semakin dalam, mencari arti.
“Kim Jennie, menikahlah denganku...”
Sore itu, di depan sebuah caffe yang halamannya dipenuhi pot berisi macam-macam bunga, suasananya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang berjalan kaki, dan sekarang mereka merapat ke halaman caffe untuk berteduh. Suara hujan memang keras, seolah memenuhi ruang terbuka tanpa batas itu, tapi.. suara laki-laki itu bisa mereka dengar dengan jelas. Di tengah hujan deras itu, laki-laki jangkung yang menahan tangan perempuan di hadapannya, mengucapkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang mungkin menurut sebagian orang adalah pertanyaan yang indah.
“Apa?”
Tanpa melepas tatapan mereka, tanpa sedikitpun melonggarkan genggaman tangannya, laki-laki itu memperdalam tatapannya dan menarik nafas, menyakinkan dirinya dengan pertanyaan itu, dan meyakinkan perempuan yang dia beri pertanyaan itu.
“Apa.. kau mau menikah denganku?”
“Kenapa?”
Laki-laki itu diam, memalingkan tatapannya ke bawah dan ke arah lain dengan cepat. Mereka menunggu. Yah, mereka yang juga mendengar pertanyaan itu, juga seolah diam menunggu jawaban. Tidak peduli hujan yang sudah membasahi semuanya, ataupun bisingnya suara cipratan jutaan air jatuh itu, rasanya seperti hening.
“Aku tidak tahu, tapi rasanya.. seperti aku meneriakkannya kalau kau adalah orangnya.”
Perempuan itu sedikit memperdalam tarikan nafasnya, mencoba mencerna perlahan apa yang sedang terjadi padanya sekarang.
“Apa ini sebuah lamaran?”
Laki-laki itu kembali menarik tatapannya bertemu dua manik mata di hadapannya, menatap perempuan yang menatapnya menunggu jawaban, lagi.
“Jika benar, apa kau akan langsung menjawab ‘iya’?”
Tidak ada jawaban, perempuan itu diam. Guyuran hujannya semakin deras, tapi seakan tidak ada yang peduli. Orang-orang itu masih disana, diam menunggu pertanyaan itu terjawab. Mereka menunggu akhir dari scene itu.
“Semua orang melihat kita, kau harus mengatakan ‘iya’ jika tidak ingin dibicarakan mereka,” laki-laki itu menariknya mendekat, berbisik dan merapatkan tubuh mereka.
Memang benar, saat perempuan itu melihat sekelilingnya, orang-orang masih menjadikan mereka fokus perhatian. Dan pastinya, itu tidak akan berakhir sebelum dirinya memberi jawaban.
Perempuan berambut panjang yang bernama Kim Jennie itu, kembali membawa tatapannya pada laki-laki di hadapannya, yang tiba-tiba memberinya senyuman. Laki-laki jangkung bernama Koo Junhoe itu tersenyum. Hanya senyuman kecil, tapi entah kenapa itu terlihat seperti pelangi. Pelangi yang diam-diam menghipnotisnya, membuat bibir itu tanpa perintah mengucapkan jawaban.
“Iya..”
Laki-laki itu mengembangkan senyuman kecilnya, menarik perempuan itu kedalam ciumannya. Dan entah kenapa, sorak tepuk tangan terdengar bersamaan dengan jawaban itu, senyum dan tawa mereka mengembang beriringan dengan ciuman itu. Tepuk tangan yang mengakhiri pertunjukkan.
Hujannya sedikit mereda, tapi sepertinya tidak menjadi pertanda kalau hujannya akan berhenti. Mungkin akan sampai semalaman titik-titik air itu mengguyur. Walaupun ini masih musim panas, tapi akhir-akhir ini hujan sering datang. Mungkin itu pertanda kalau musim panas segera berakhir, tapi siapa yang tahu.
            -tbc-

iklaan

SUPER JUNIOR