luhanay blog Follow Dash Owner

Sunday, 16 April 2017

Remember Love You Part 1 [FanFiction]



Tittle: Remember Love You
Rate: 15 || Genre: Drama || Length: Oneshot
Cast: Bobby | Kang Jiho | Koo Junhoe | Lee Suhyun | Kim Hanbin
======= ====== =======



Jendela itu terbuka, memberikan izin pada angin untuk masuk, memberi sedikit kesegaran untuk kamar itu. pria bermata sipit dengan rambut coklat yang dibuat bergelombang, memandang jauh sekelilingnya, sekedar menyapa.
“Sudah lama aku tidak kesini.” gumamnya seraya mengembangkan senyum, merasakan hembusan angin membelai mengacak rambutnya.
Pandangan itu berhenti, menangkap seorang gadis berambut panjang dengan topi yang menutup atas kepalanya. Gadis itu berjalan, menggenggam seikat bunga di tangan kirinya, dan berhenti di bawah pohon kecil. Pria ini mengunci tatapannya.
Angin kembali berhembus dan sedikit lebih kencang, menggugurkan daun-daun dari dahannya. Udara menjadi lebih dingin saat musim gugur tiba. Dan gadis bertopi tanpa jaket itu hanya diam disana, tanpa melakukan apapun. Detik waktu terus berdetak.

“Bobby Hyung!”
Pria bermata sipit itu mengerjap, terkejut dengan teriakkan seseorang di belakangnya. Dia berbalik, melempar senyum pada pria yang memanggilnya.
“Kau sedang apa?” pria berambut hitam dan hidung mangir yang menyandang status sebagai sepupu pria itu, mendekat, ikut melempar pandangan keluar jendela. “Kau tidak mendengarku berteriak memanggilmu, jadi... apa yang kau lihat disini eoh?”
Bobby, pria berambut hitam kecoklatan ini, melebarkan tatapannya saat kembali melihat keluar jendela dan gadis bertopi itu tidak ada.
“Emh... tadi ada seseorang disana,” Bobby menunjuk pohon kecil yang tadi bersama gadis itu.
“Siapa? Tidak ada seorangpun dissana,”
“Mungkin dia sudah pergi, sudahlah. Jadi, ada apa kau memanggilku?” Bobby berjalan menuju ranjangnya, mengambil ponsel, dan memainkan benda itu.
“Oy, kau bilang mau ke mini market tadi, tidak jadi?”
“Aigo I’m so sorry Kim Hanbin!” Bobby berteriak dan menjambak rambutnya sendiri. “Aku lupa, maaf. Tapi sekarang aku sudah ingat, jadi ayo berangkat.” dengan seringaian khasnya, pria sipit dengan gigi kelinci besarnya ini memakai jaket lalu menarik tangan sepupunya pergi.
“Aish. Kau memang selalu aneh seperti biasanya, Hyung.” Kim Hanbin, pria berambut hitam ini membuang nafas malas, mengeluh.
“Apa yang kau maksud aneh itu?”
“Kupikir Amerika akan membuatmu berbeda, tapi tetap saja kau seperti ini.”
“Ya! Memangnya kau pikir aku seaneh apa? Menyebalkan!” Bobby menarik tangan Hanbin lebih kuat, kemudian membuat pertengkaran antara mereka berdua, seperti biasanya mereka.
            ***

“Mungkin akan turun hujan, sebaiknya kita pulang Oppa,”
Tidak ada jawaban. Suhyun menghela nafas lagi, pria di sampingnya memang tidka mendengarkannya dari tadi. Dan bohong jika Ia katakan tidak kesal, tapi mau bagaimana lagi, tidak boleh ada kemarahan disana. Itu adalah rencananya.
“Oppa, Junhoe Oppa?” Suhyun melambaikan tangannya di hadapan pria bernama Junhoe itu, mencoba membuat perhatian pria itu kembali padanya.
“O-huh ada apa?”
Akhirnya pria itu menatapnya, Suhyun tersenyum. Gadis itu berusaha keras menahan dirinya.
“Ayo kita pulang, disini sudah mendung,” Suhun beranjak, mengulurkan tangannya pada Junhoe, tapi pria itu diam.
“Suhyun-ah,”
Suhyun menahan nafasnya, lalu perlahan membuangnya berat. Tatapan Junhoe berbeda, itu tatapan yang sulit di artikan olehnya. Sebenarnya dia tidak mau melakukan ini, tapi rasa panas di dadanya memaksa Suhyun melakukan ini. Menghilangkan seseorang dari ingatan Junhoe dan membuatnya berdiri di samping pria itu.
“Kenapa?” Suhyun kembali duduk.
“Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti aku selalu melupakan sesuatu. Aku tidak tahu apa, tapi aku tidak bisa mengingatnya sekeras apapun aku mencoba,” tatapan Junhoe jauh memandang danau dihadapan mereka, seolah berlarian mencari sesuatu yang bisa membantunya mengingat apa yang dia maksudkan.
“Tidak apa-apaa, jangan terlalu memaksakan dirimu. Perlahan Oppa akan mengingatnya kembali,”
“Mungkin bukan sesuatu, tapi seseorang yang aku_”
“Oppa,” Suhyun menggenggam tangan Junhoe, membuat pria itu menghentikan ucapannya. “Aku mohon jangan menyulitkan dirimu sendiri. Memaksa pikiranmu mengingatnya, itu terlalu berat. Perlahan saja,”
Junhoe mengeratkan genggaman tangan mereka, tersenyum kecil. Gadis itu selalu membuatnya tenang, dan dia bersyukur sudah disampingnya sejak dia ‘terlahir kembali’.
“Sekarang ayo pulang,”
Junhoe memangguk, dan mereka beranjak. Tanpa melepas genggaman tangannya, mereka berjalan meninggalkan danau.

“Koo Junhoe!”
“langkah mereka berhenti. Suhyun mendesah malas, memalingkan tatapannya kesal. wanita itu lagi, rutuknya. Berbeda dengan Junhoe, pria itu merasa jantungnya selalu berdetak aneh saat melihat gadis berambut panjang bertopi itu. Gadis yang bicara seolah dia dan Junhoe ada dalam sebuah hubungan. Tapi sayangnya, Junhoe tidak ingin percaya padanya.
“Kami harus pulang. Bisakah tidak mengganggu kami lagi, Jiho-sshi?” Suhyun menggenggan erat tangan Junhoe, menariknya berjalan melewati gadis bertopi itu.
“Junhoe, aku mohon, bisakah kau dengarkan aku?”
Pria jangkung itu menghentikan langkah, membuat Suhyun juga menghantikan langkah. Junhoe berbalik, melihat kembali gadis bertopi itu.
“Aku mohon, jangan mengacuhkanku seperti ini,” gadis bertopi ini melangkah ragu, mendekati mereka.
“Sepertinya kau salah paham, aku tidak mengacuhkanmu. Dan juga aku kira, kita tidak dalam cerita yang kau katakan,”
Tatapan itu, benar-benar hambar. Junhoe bicara seolah mereka adalah seseorang yang tidak sengaja bertemu, tidak saling mengenal.
Dengan tatapan seperti itu, membuat perkataannya seperti tombak es yang melesat menusuknya, gadis bernama Jiho itu menangis. Lagi, dia kalah.
“Apa kau... benar-benar melupakanku?”
Detak jantungnya terus bertambah cepat, membuat dadanya sesak. Junhoe tidak mengerti apa yang dia rasakan, dia hanya mengatakan apa yang dia ingat, tapi di satu sisi dia merasa seperti berbohong. Dia ingin memeluk gadis itu erat.
“Tapi aku tidak pernah mengingatmu, jadi aku tidak pernah melupakanmu.” Junhoe berbalik, melanjutkan langkahnya. Suhyun tersenyum, menarik tatapannya dari gadis itu dan mengikuti langkah Junhoe.
“Aku mencintaimu Koo Junhoe!”
Teriakkan itu begitu jelas terdengar, sayangnya Junhoe tetap merajut langkah tanpa peduli.
“Aku sudah berjanji untuk selalu mencintaimu, dan aku tidak akan mengingkarinya apapun yang kau lakukan. Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu Koo Junhoe!”
Jiho terjatuh, kedua kakinya lemas setelah meneriakkan itu. hatinya sesak harus menangis seperti ini, dia hanya ingin Junhoe kembali padanya, tapi entah kenapa itu menjadi mustahis sekarang.
Suhyun kembali menggenggam tangan Junhoe saat pria itu melepasnya, dia merapatkan tubuhnya di samping Junhoe. Pria itu tidak boleh berbalik ataupun goyah, Suhyun mempercepat langkahnya, membawa pergi Junhoe menginggalkan gadis bertopi itu.

“Excuse me...”
Dia menahan isakannya. Jiho mengangkat wajahnya menatap pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu mengulurkan sapu tangan, dan tersenyum saat tatapan mereka bertemu.
“Kau siapa?”
Pria itu berjongkok, mensejarjarkan posisi mereka. Dia menghapus air mata Jiho dengan sapu tangan itu.
“Namaku Bobby,”
Gadis bertopi itu mengerjap, mengusap pipinya menghapus sisa air matanya. Dia mengalihkan tatapan dari Bobby.
“Sebenarnya aku tidak bermaksud menguping, tapi maaf karena mendengar pembicaraan kalian tadi,”
Dia beranjak, memalingkan wajahnya lalu melangkah. “Aku harus pergi.” Jiho berlari meninggalkannya.

“Ya! Hyung, bisakah kau tidak meninggalkanku atau mengjilang tiba-tiba?” Hanbin menelan ludahnya berat, mencoba menormalkan nafas tersenggalnya. Berjalan menghampiri Bobby.
“Hanbin-ah, kau tahu gadis itu?”
Hanbin mengikuti pandangan Bobby, menatap punggung gadis bertopi yang lari semakin jauh. Sulit mengenalnya.
“Tidak tahu.” Hanbin mengalihkan tatapannya kembali pada Bobby. “Jadi Hyung, kau bersama gadis itu, saat aku berlarian mencarimu karena kupikir kau tersesat? Aish jinjja!” Hanbin membuang nafas kesal.
“Koo Junhoe, kau masih ingat?” Bobby menatap Hanbin, tidak menjawab pertanyaan pria itu dan menggantinya dengan pertanyaan baru.
“Tentu saja. Dia sepupumu, sepupuku juga. Apa kau pikir aku akan melupakannya?”
“Aku melihatnya tadi. Dan gadis itu menangis karena Junhoe,” Bobby menggenggam erat sapu tangan di tangannya.
“Hyung, apa sebenarnya tadi kau mengintip mereka?”
“Tidak, aku hanya mendengar mereka.”
“Itu sama saja menurutku.”
“Hanbin-ah, apa Junhoe benar-benar kecelakaan?”
“Iya, dan yang kudengar, dia hampir tidak selamat dalam kecelakaan itu. Tapi itu sudah dua bulan yang lalu, kurasa dia sudah sembuh sekarang.”
Bobby menarik nafasnya, menyimpulkan sendiri cerita yang terjadi antara Junhoe dan gadis bertopi itu.
            ***

Koo Junhoe menutup bukunya, menoleh menatap kursi kosong di sampingnya. Pemilik kursi itu tidak sekolah lagi. Sekilas pemikirannya melemah, merasa kalau dirinyalah alasan gadis itu tidak sekolah, tapi dia kembali menepis pikiran itu.
Gadis itu terus mencoba bicara padanya, seolah meyakinkan kalau mereka benar-benar terikat sesuatu, tapi Junhoe tidka percaya itu. Dia tidak ingin percaya.
Sejak dia kembali membuka mata, hanya Suhyun yang ada di smapingnya, jadi mungkin Lee Suhyunlah yang terikat dengannya, bukan gadis bertopi itu.
“Koo Junhoe,”
Pria itu mengerjap, semua orang menatapnya sekarang, termasuk Guru Choi yang berjalan menghampirinya.
“Kenapa? Apa kau sakit?”
“Tidak, tidak apa-apa Saem. Maaf,” Junhoe membungkuk minta maaf. Dia sudah mengabaikan penjelasan Guru Choi dari tadi.
“Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan pembahasannya.”
Junhoe membuang nafas setelah Guru Choi kembali menulis di papan tulis, dan murid lain berhenti menjadikannya  pusat perhatian.

Kelas menjadi sangat ramai saat bell berbunyi dan Guru Choi meninggalkan kelas, hampir semua orang cepat-cepat membereskan bukunya dan berhamburan keluar kelas.
“Junhoe Oppa,”
Pria itu menoleh, melihat Suhyun yang sudah berdiri melambai di samping pintu. Pikirannya berhenti memikirkan gadis bertopi saat Suhyun kembali di depan matanya.
“Ayo cepat, kita makan bersama,”
Junhoe tersenyum, beranjak dari kursinya dan menghampiri Suhyun. Mungkin memang dia yang bersamanya, bukan gadis bertopi itu. Lee Suhyun adalah gadisnya, dan Junhoe meyakinkan dirinya untuk itu. Atau mungkin lebih tepatnya memaksakan dirinya.
            ***

Tatapan Suhyun membulat, memastikan kebenaran siapa yang dilihatnya. Ini bukan mimpi atau khayalan.Matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya, pria bergigi kelinci besar, bermata sipit, dan sekarang rambutnya hitam kecoklatan.  Merasa Suhyun melepas genggaman tangannya, Junhoe menghentikan langkah, berbalik melihat Suhyun.
“Ada apa?”
Lee Suhyun menelan ludahnya berat, berusaha tersenyum dan kembali melangkah. Mengabaikan pertanyaan Junhoe. Jika bukan mimpi, rasanya dia ingin terbang melewati pria bermata sipit dengan rambut hitam kecoklatan itu tanpa terlihat olehnya.
“Ayo cepat, sepertinya aku melupakan sesuatu.” Suhyun menarik tangan Junhoe, setengah berlari, mencoba membawanya melewati gerbang sekolah tanpa terlihat pria itu.
“Lee Suhyun,”
Pria yang berdiri menyandar di samping mobil ini tersenyum, mengambil langkah mendekat, setelah memuat seseorang yang dipanggilnya menghentikan langkah.
Suhyun menutup mata, menarik nafasnya dalam. Dia terpaksa menghentikan langkah karena pria itu memanggilnya. Terlambat untuk bersembunyi.
“Long time no see,”
Suhyun memberanikan diri menatap mata sipitnya, memberi sedikit senyuman. Pria itu sekarang sudah ada di hadapannya, berdiri tegap dengan seringaian khasnya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Sangat baik, terima kasih.” Suhyun menjawab pelan. Dia harus menahan dirinya. “Lalu bagaimana denganmu, apa kau suka tinggal di Amerika, Bobby Oppa?”
Pria itu tersenyum, entah kenapa pertanyaan Suhyun terdengar seperti ‘Kau pasti senang di Amerika, dan meninggalkanku’ baginya. Tatapan dan senyuman Suhyun yang mengatakannya.
“Tentu saja. Aku tinggal dengan keluargaku disana, bagaimana aku tidak senang?”
“Baguslah, itu lebih baik daripada kau disini.”
Kecanggungan terasa sangat menekan bagi Suhyun, tapi itu menyenangkan untuk Bobby. Dia datang dengan tujuan, jadi dia tidak akan melepaskan gadis itu sekarang.
“Dan, Junhoe-ya, bagaimana kabarmu? Kita juga sudah lama tidak bertemu,” sekarang Bobby menyapa pria yang dari tadi diam, mendengarkan percakapan canggung mereka.
“Kau siapa?” Junhoe hanya membalas seringaian Bobby dengan tatapan tanpa ekspresinya.
“Kau tidak ingat padaku?” Bobby melangkah mendekati Junhoe, menepuk pundak pria itu. “Hey, sepertinya ini berlebihan Junhoe-ya. Kita memang tidak dekat, tapi apa kau dengan mudahnya melupakan sepupumu?”
“Kau sepupuku?”
Suhyun mengeratkan genggaman tangannya pada Junhoe, dia hampir tidak bisa menahan dirinya karena Bobby yang tiba-tiba ada di hadapannya.
“Maaf Oppa, tapi kami sedang buru-buru sekarang. Sebenarnya ada apa Oppa datang kesini?”
“Suhyun-ah, bukan begitu. Mana mungkin aku datang kesini untuk enemuimu, aku datang menjemput Hanbin.”
Suhyun menahan nafas, seolah jantungnya berhenti berdetak. Tapi dia kembali menguasai dirinya. Dia semakin tebal membuat tembok yang menahan panas di dadanya, seringaian Bobby benar-benar membuatnya ingin menampar dirinya sendiri. Benar, mana mungkin pria itu datang untuk menemuinya.
“Kalau begitu kami pergi,” Suhyun menarik Junhoe melangkah, cepat, pergi meninggalkan pria itu.
“Kalian meinggalkanku begitu saja?” Bobby setengah berteriak, dan Suhyun tentu saja mengacuhkan itu. Mereka terus melangkah.
“Junhoe-ya, seingatku kau tidak pernah bersama Lee Suhyun dulu,” pria sipit ini kembali berteriak, lalu tersenyum kecil.
“Jangan di dengarkan, dia gila.” Suhyun mengeratkan genggaman tangannya, membuat Junhoe mengurungkan niatnya untuk berucap.
Rencana gadis itu bisa gagal jika Bobby berada disini, karena dia tidak pernah benar-benar membuang perasaannya pada pria sipit itu.
Sementara, Junhoe hanya bisa mengikuti langkah Suhyun dalam diam. Dia tidak bisa bertanya lagi siapa pria bernama Bobby itu, atau maksud ucapannya yang tadi. ‘Dia tidak pernah bersama Suhyun dulu’. Dan Junhoe semakin merasa kalau dia telah benar-benar melupakan satu cerita dalam hidupnya.

“Hyung?”
Bobby berbalik, melihat Hanbin yang berjalan menghampirinya. “Aish Ya! Kemana saja kau? aku menunggumu dari tadi,” dia menjitak kepala Hanbin, membuat pria itu meringis memegangi kepalanya.
“Aku tidak tahu kau disini, lagipula untuk apa kau datang kesini?”
“Aku menjemputmu.”
“Benarkah? Kenapa tiba-tiba kau menjemputku?”
“Sudahlah, ayo pulang.” Bobby menghampiri mobilnya, disusul Hanbin, dan mereka pergi.
            ***

Koo Junhoe menghela nafas bosan, untuk kesekian kalinya dia menekan tombol remote, mengganti channel televesi yang dia tonton. Tapi tidak ada yang menarik perhatiannya, semua acara membosankan.
Setelah bertemu Bobby tadi, Suhyun tidak menghubunginya, bahkan dia meninggalkannya sendiri di halte bus.
Junhoe mematikan televisinya, beranjak dan berjalan menuju jendela. Cuaca tidak begitu cerah, dan angin selalu berhenbus menerbangkan dedaunan. Sekilas pria bermata sipit dan gigi kelinci itu muncul dalam kepalanya, membuat ucapannya kembali terngiang di telinga Junhoe. Dia tidak mengerti maksud pria itu, dia bahkan tidak tahu kalau pria itu sepupunya. Junhoe masih kehilangan banyak ingatannya.
Junhoe melangkah keluar rumah, berharap udara di luar bisa sedikit membantunya lebih tenang.

Pria jangkung ini menghentikan langkahnya, melihat sekeliling, sedikit bingung kenapa dia bisa berjalan ke danau itu lagi. sepertinya dia yang dulu menyukai tempat ini, atau mungkin banyak hal indah yang terjadi disini.
“Junhoe-ya...”
Pria itu menoleh cepat, terkejut dengan suara lembut yang memanggil namanya. Dia ingat suara itu, suara gadis bertopi itu.

To be continued ... 

Part 2

No comments:

Post a Comment

SUPER JUNIOR